Life

Jangan Risau, Mindset untuk Anak dari Keluarga Toxic Ini Bisa Kamu Terapkan!

Mindset untuk anak dari keluarga toxic

This post is also available in: English

Mindset untuk Anak dari Keluarga Toxic Ini Bisa Kamu Terapkan! – Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pasti memiliki latar belakang yang berbeda. Kita tentu tidak bisa memilih dengan keluarga seperti apa kita akan lahir ke dunia. Kita pun tidak dapat memilih latar belakang dari keluarga kita. 

Benar, hal ini memang takdir Tuhan. Tak sedikit pun dapat kita ubah, kecuali kamu ketika besar dititipkan pada keluarga konglomerat. Namun, setiap dari kita pasti memiliki latar belakang orang tua yang tak bisa dipilih. 

Di satu sisi ada anak yang lahir dari keluarga rukun dan bahagia. Sebaliknya, tak jarang anak-anak merasakan lingkungan keluarga toxic. Hal ini bisa memengaruhi perkembangan mental ketika dewasa. 

Jika dapat menyikapinya dengan baik, tak ada halangan dari dalam untuk meraih kesuksesan. Namun, jika tidak bisa mengatasinya, anak tersebut cenderung merasa terpuruk dalam hidupnya. 

Jangan khawatir, semuanya dapat berubah karena mindset. Aturlah pola pikir yang benar meskipun kamu merasa dalam keadaan keluarga toxic. Mindset untuk anak dari keluarga toxic berikut bisa kamu terapkan! 

Kamu Adalah Diri Kamu Sendiri 

mindset untuk anak dari keluarga toxic

Terlepas dari siapa ayah dan ibumu, kamu adalah diri kamu sendiri. Di dunia mungkin ada sebagian orang yang dikenal karena previllege dari orang tuanya. Akan tetapi, hak istimewa itu tidak akan bertahan lama jika si anak tidak dapat berubah dalam hal pola pikir. 

Dengan kata lain, meskipun memiliki previllege, semua ditentukan oleh kemauannya sendiri. Sementara bagi anak dari keluarga toxic, kamu tidak perlu khawatir akan ketinggalan dari mereka. Kamu adalah dirimu sendiri dan kamu berhak mengubahnya. 

Seperti apa diri yang kamu mau? Segera tentukan dari sekarang. Kamu tidak perlu ragu, cobalah untuk selangkah lebih maju dengan menentukan tujuan hidupmu. Kamu berhak menjadi yang kamu mau selama kamu benar-benar mengetahui apa yang kamu mau. 

Sekalipun berasal dari keluarga toxic yang bisa menenggelamkan potensi hebatmu, tetaplah fokus menjadi dirimu sendiri. Kamu bisa belajar banyak hal dari lingkungan di luar keluarga, seperti sekolah. Tidak ada yang membatasi bukan? 

Kamu Tidak Perlu Bertumbuh dengan Pola Pikir Seperti Mereka 

Hey sudah cukup membandingkan dirimu dengan mereka. Kembali lagi pada poin pertama, jadilah versi terbaikmu. Kamu memiliki lingkungan keluarga yang berbeda dengan mereka. Artinya kamu pun tidak harus tumbuh dengan pola pikir sama seperti mereka. 

Sejenak lepaskanlah beban keluargamu. Tetap fokus dengan tujuan yang ingin kamu capai. Dengan mindset ini, gangguan apa pun dari keluargamu hanya kamu jadikan sebagai angin lalu. Bahkan hembuskan jauh-jauh. 

Hargailah mereka hanya sebagai orang tua yang mesti dihormati. Bukan sebagai pendidik layaknya guru di sekolah, jika begitu yang merusakmu. Sedikit demi sedikit niscaya kamu akan terlarut dengan kebahagiaan belajar. 

Jangan Menjalin Hubungan yang Malah Menambah Kesakitan 

Hey berhentilah membodohi diri sendiri. Luka yang kamu dapat dari keluarga jangan ditambah lagi dengan kesakitan yang lain. Salah satu beban berat yang sering terjadi adalah masalah percintaan. Banyak di antara mereka yang berasal dari keluarga toxic memilih hubungan asmara sebagai pengalihan. 

Bak pelampiasan, jangan sampai teman dekatmu kamu lukai. Dengan kata lain, meskipun kamu ingin mencari kesenangan dari lingkungan luar, jangan sakiti mereka. Pun kamu jangan mencari orang yang malah membuatmu semakin sakit. 

Jika ingin mengalihkan perhatikan dari keluarga toxic, manfaatkanlah lingkungan bahagiamu. Posisikan diri senyaman mungkin dalam menjalani pertemanan dengan orang lain. Jika bisa, jadikanlah hal ini sebagai tempat kamu untuk bertumbuh dan menikmati hidup. 

Tidak Perlu Memberi Contoh Kebaikan untuk Mereka 

Sering kali, anak dari keluarga toxic memiliki peran hiperaktif di mata teman-temannya. Sebab, ia ingin mencari kebahagiaan lain demi menutupi kesedihannya dalam keluarga. Ada yang membagikan hal positif, ada juga yang perannya  humoris. 

Nah dalam hal ini, kamu tidak perlu memberi contoh kebaikan untuk mereka loh! Alasannya apa ya? Bukannya memberi contoh kebaikan itu merupakan perbuatan yang baik? Begini, coba kamu berpikir nasihat apa yang kamu katakan kepada mereka. 

Biasanya nasihat ini cenderung diambil dari pengalaman pribadi. Ada juga nasihat yang benar-benar murni untuk membawa kepada kebaikan, tanpa diri kita pernah menjalankan nasihat itu sebelumnya. 

Jika demikian yang terjadi, kamu bisa disebut sebagai orang yang hanya berbicara tanpa melakukan. Hal ini sering terjadi karena kamu memiliki mental yang kurang kuat. Untuk meminimalisasi hal tersebut, siapkan terlebih dahulu agar pantas membagikan kebaikan kepada mereka. 

Kamu Tidak Memalsukan Masalah Mentalmu 

Seiring berjalannya proses kedewasaan, kamu akan paham hal apa yang terjadi. Entah kamu yang mulai merasa memiliki mental berbeda, maupun kamu merasa kurang bahagia dan kurang beruntung dari yang lain. 

Hal ini wajar saja terjadi. Apalagi ketika kamu berada dalam lingkungan pertemanan yang plural.  Kamu pun tidak harus memalsukan masalah mentalmu. Maksudnya bukan kamu mesti menceritakan semua kepada lingkungan dekatmu. Akan tetapi, kamu sudah mengerti bagaimana untuk bersikap. 

Meskipun tetap ingin biasa saja di hadapan orang lain, kamu tentu memiliki pengalaman yang berbeda ketika berbicara topik keluarga. Nah dalam hal ini posisikan dirimu sebagai orang yang dewasa dan mampu memahami konteks pembicaraan. 

Jika topik tersebut malah mengganggu, segera bergantilah dengan topik lainnya. Jangan paksakan lingkungan yang tidak mengerti kondisimu untuk terus menyiksamu. Kini kamu selalu berhak untuk memilih. 

Untuk Anak dari Keluarga Toxic : Trauma Kamu Benar Nyata, tetapi Kamu Berhak Bahagia 

Satu lagi yang seringmenjadi pesan psikolog, setiap orang berhak untuk bahagia. Terlepas dari latar belakang masalah apa yang menimpa, tidak ada orang yang pantas untuk sengsara. Oleh karena itu, pada umumnya, sedikit saja bermasalah dengan mental, seseorang akan mengadu kepada psikolog. 

Baca Juga : Tanda-tanda Toxic Relationship

Mental seperti ini bisa menimbulkan tekanan hidup seseorang. Saat hidup mulai tertekan, pemicu stress, depresi, hingga bunuh diri semakin meningkat. Jaga kesehatan mentalmu, meskipun lingkungan keluarga terasa tidak mendukung kamu untuk berkembang. 

Mindset untuk anak dari keluarga toxic tersebut bisa kamu terapkan demi menjalani hidup yang lebih baik lagi. Kesuksesan tecermin dengan perkembangan kepribadian yang baik. Oleh karenanya, jagalah semangatmu untuk terus berproses. Fokuslah dengan lingkungan yang membantumu berkembang. 

To Top