Life

Misterius : 10 Kisah Menyeramkan Pendakian Gunung Nusantara

Negara kita Indonesia memang kaya raya. Kekayaan alam merupakan salah satu harta tak ternilai yang kita punya. Salah satu kekayaan tersebut adalah terdapatnya barisan pegunungan indah termasuk diantaranya masih yang aktif. Barisan pegunungan ini bukan hanya menarik bagi wisatawan saja, namun juga tentu saja para pendaki gunung. Sejumlah gunung di Indonesia yang memiliki rute tergolong mudah hingga yang sulit memiliki keunikannya masing-masing, dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki untuk coba ditaklukkan. Di sisi lain, kita seringkali mendengar kisah misterius yang kerap kali diceritakan orang mereka temui di wilayah pegunungan, dan yang paling sering mengalaminya adalah para pendaki. Orang banyak yang mempercayai bahwa beberapa lokasi alam terbuka termasuk gunung menjadi tempat tinggal makhluk-makhluk astral. Benarkah demikian? Kini kita ikuti beberapa kisah menyeramkan dari para pendaki gunung di Indonesia terkait dengan lokasi gunung di Indonesia yang dikenal angker.

Gunung Salak

Berada pada rangkaian kawasan Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Gunung Salak memiliki banyak kisah mistik yang masih belum terpecahkan. Salah satunya datang dari seorang pemuda pendaki gunung yang melihat sosok hitam yang melambai padanya. Menjelang malam, saat si pemuda tidak dapat memicingkan mata, ia pun keluar tenda dan ia terkejut tatkala diluar tampak sejumlah ‘pasukan’ berseragam tentara berwajah pucat mengeliling tenda mereka. Dalam kondisi ketakutan, dia tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih ketika tampak seekor macan menatapnya dengan mata bersinar di antara barisan tentara tersebut. Tak lama kemudian terdengar suara lantunan ayat-ayat doa dari bukit di atas mereka. Suara tersebut terdengar seperti suara seorang wanita. Meski begitu, ia tidak melihat sosok seorang wanita sama sekali. Si pemuda perlahan kembali masuk dalam tendanya dan terlelap berkat lantunan doa tersebut. Doa itu pula yang mampu mengusir ‘pasukan’ tersebut.

Gunung Sumbing

Seperti gunung yang lainnya, gunung yang berada pada tiga kabupaten ini juga memiliki sejumlah pantangan yang harus ditaati oleh para pendaki. Salah satunya adalah tidak boleh naik gunung dengan jumlah pendaki dalam jumlah ganjil.

Namun, kumpulan mahasiswa pecinta alam ini tidak menggubris dan berangkat bersebelas orang. Baru seperempat jalan, personil mereka secara misterius bertambah satu orang. Seorang pendaki wanita yang punya indera keenam menyadarinya, namun tetap melanjutkan perjalanan.

Sampai di puncak, anggota ke-12 itu tiba-tiba tidak tampak lagi. Saat mereka beristirahat penampakan pocong muncul di antara mereka ketika mereka duduk mengelilingi api unggun. Empat orang menyadari kehadiran makhluk tersebut, termasuk pendaki  wanita yang memiliki indera keenam, dimana kemudian mengajak anggota yang lain untuk berdoa. Pada saat perjalanan turun, sosok pocong ini kembali mengikuti mereka. Anggota yang memiliki indera keenam tiba-tiba melihat sebuah pintu menjulang tinggi yang sangat indah dengan penampakan sesosok penjaga, sementara seorang wanita terdengar memanggil para pendaki. Merekapun semakin bergegas turun gunung.

Gunung Gede

Gunung yang  satu ini juga meninggalkan kisah mistis. Salah satunya tentang penunggu Gunung Gede yang merasuki tubuh salah satu pendaki. Cerita bermula tatkala salah satu dari sekumpulan remaja pendaki gunung melakukan tindakan yang kurang sopan, yaitu membuang air kecil tanpa permisi. Setelah itu pandangan matanya sontak kabur dan tiba-tiba saja melihat sosok pria berpakaian kerajaan yang dipercaya sebagai penunggu tempat tersebut ditemani dua ekor macan. Dari perspektifnya, ia seolah dibawa ke dalam dimensi dimana disana terlihat banyak orang menggunakan pakaian pada masa kerjaan masa lalu. Sementara itu dari pespektif kawan-kawannya yang lain, ia tampak mengerang-erang dan berlari tak tentu arah. Pemuda itu lalu ditarik menjauh dari tempat tersebut hingga pengaruh magis tersebut terlepas darinya dan tersadar. Keesokan harinya pada saat harus turun gunung, lagi-lagi si pemuda mendengar bisikan dalam bahasa Jawa diiringi erangan harimau.

Gunung Semeru

Menjadi gunung tertinggi di Jawa, Semeru kerap menelan korban, lalu kemudian meninggalkan kisah misterius setelahnya. Lima orang pemuda yang merupakan pecinta alam asal Madiun memutuskan untuk melakukan ekspedisi di kawasan Gunung Semeru. Tidak lama memasuki kawasan Semeru, mereka bertemu dengan pendaki wanita yang mengaku melakukan pendakian seorang diri, lalu bergabung dengan mereka.

Wanita ini sangat ramah sehingga cepat akrab dengan pendaki yang lain. Saat malam tiba, salah satu pendaki yang mendapat giliran jaga bersama anjingnya melihat si wanita keluar dari tenda dan berjalan keluar. Diikutinya si wanita tersebut, namun tiba-tiba wanita ini menghilang. Pendaki tersebut panik, sehingga kemudian ia membangunkan pendaki yang lain untuk turut serta mencari si wanita, tetapi mereka tidak menemukan wanita tersebut.

Esok harinya mereka mencari hingga bibir jurang dan menemukan ransel yang mirip dengan milik si wanita, tergeletak di sampng sesosok jasad yang telah membusuk dengan tanda-tanda serupa dengan pendaki wanita yang mereka kenal. Saat di konfirmasi pada pihak SAR, mereka mendapat keterangan bahwa ternyata jasad itu adalah jasad pendaki wanita yang dikabarkan hilang sejak satu bulan yang lalu.

Gunung Ungaran

Gunung Ungaran yang terletak di kabupaten Semarang ini juga menyimpan misteri, mulai dari penunggu gunung tersebut hingga kejadian-kejadian mistis. Salah satunya adalah ketika salah seorang pendaki tanpa sengaja bertemu dengan sosok penunggu pada salah satu jalur perbukitan.

Saat itu, pria yang berasal dari Kota Semarang ini berangkat seorang diri menuju lokasi pendakian. Mendekati lokasi pendakian, ia mulai merasa tidak nyaman. Namun ia memutuskan untuk tetap meneruskan perjalanan. Memulai pendakian pukul 15.00 WIB, pria itu merasa kesulitan karena medan yang terasa lebih berat saat itu.

Saat malam menjelang ia menyiapkan tenda dan api unggun. Saat itulah suasana disana yang semula cukup riuh oleh suara dedaunan dan binatang hutan tiba-tiba saja menjadi senyap. Di tengah malam ia terbangun oleh suara erangan dan saat memeriksa ke luar tenda ia melihat sosok hitam ditemani macan kumbang bermata hijau. Dirasakannya sosok hitam itu tertawa lalu disusul suara teriakan yang terdengar dari tengah hutan sebelum kemudian ia tak sadarkan diri. Ia dibangunkan oleh kelompok pendaki yang kebetulan lewat. Saat itulah ia menemukan dirinya tidak berada di lokasi tempat ia menginap semalam.

Gunung Merbabu

Berikut ini adalah kisah yang datang dari gunung Merbabu. Kejadian yang satu ini dialami pendaki ketika melewati wilayah Kopeng Thekelan. Pendaki ini sebenarnya sudah  sangat mengenal jalur ini. Hari itu, ia bersama enam rekannya, melakukan ekspedisi di Gunung Merbabu. Seorang pendaki yang asyik mengambil foto ditinggalkan oleh kawannya yang lain. Ia kemudian menyusul, dan di tengah jalan bertemu dengan seorang pendaki wanita dan mendaki bersama. Mereka terjebak cuaca buruk dan memutuskan untuk bermalam di sebuah lokasi. Esok paginya, si pendaki wanita meminta ijin untuk pergi telebih dahulu. Beberapa jam kemudian saat pendaki tersebut terbangun, pria ini menemukan dirinya tidur di tepi sebuah tebing serta menemukan ransel yang menurutnya milik pendaki wanita yang baru dikenalnya. Pada ransel ini tercantum sebuah alamat dan mereka bermaksud mengembalikan ransel tersebut pada pemiliknya. Saat bertemu dengan pemilik rumah yang merupakan seorang ibu, si ibu menangis tersedu. Ia mengatakan bahwa ransel ini adalah milik putrinya yang hilang tiga tahun lalu, dan jasadnya tidak pernah ditemukan.

Gunung Argopuro

Gunung ini dikenal dengan penampakan noni Belanda yang kerap mengganggu para pendaki. Hal tersebut dialami oleh seorang pendaki yang merupakan seorang mahasiswi pecinta alam. Dia dan tim mengeksplorasi gunung ini sejak mulai pagi hari lalu beristirahat di sebuah taman bunga Edelwis.

Meskipun telah diingatkan untuk tidak memetic bunga, mahasiswi ini bersikukuh. Setelah memetik dan puas memainkan bunga tersebut, mereka bergerak menuju ke arah puncak. Namun, satu jam kemudian, menurut pengakuan teman yang ada di belakangnya, gadis itu tiba-tiba berbelok ke arah semak-semak. Meskipun telah diteriaki dan dikejar, gadis itu tidak menggubris hingga kemudian timnya kehilangan jejak.

Malam yang sudah terlalu gelap membuat mereka memutuskan untuk melanjutkan pencarian pada pagi hari dan menemukan si gadis terlihat syok pada sebuah jalur buatan Belanda di sana. Setelah sadar dan tenang, dia bercerita bahwa tiba-tiba dia digandeng seorang wanita berambut pirang dengan paras cantik. Dia dibawa ke sebuah kompleks perumahan warga Belanda. Ia seperti diingatkan untuk lebih mawas diri ketika di gunung ini oleh perempuan Belanda tersebut. Kemudian, ia merasakan tubuhnya mulai melemas tatkala noni tersebut meninggalkan dirinya.

Gunung Slamet

Gunung ini dikenal dengan medannya yang sulit dan membahayakan. Selain itu juga dikenal dengan penunggunya yang konon berlokasi pada pepohonan raksasa disana.

Hal serupa dialami oleh seorang pendaki pria asal Bandung yang melakukan pendakian bersama enam rekannya. Malam pertama mereka sampai di pos dua setelah memulai perjalanan dari dukuh Bambangan. Namun, pada saat tidur salah satu pendaki terusik dengan suara dari pohon besar di dekat mereka.

Ternyata pendaki ini memiliki indera keenam dan melihat sosok makhluk besar bertengger di puncak pohon. Makhluk tersebut berbentuk kelelawar seukuran manusia dewasa, berwarna putih dengan kepala manusia. Meski demikian, makhluk itu ternyata tidak mengganggu mereka secara berlebihan. Hanya membuat suara-suara aneh pada pepohonan. Di posko lima, ia juga melihat sosok makhluk hitam legam dengan mata berwarna merah.

Gunung Penanggungan

Gunung yang satu ini juga terkenal sebagai salah satu dari sembilan gunung suci di wilayah Jawa.

Ekspedisi di gunung ini pun tak kalah angker dengan gunung besar lainnya. Berawal dari perjalanan dua kakak beradik yang memang merupakan pecinta alam. Mereka memulai perjalanan dari LMDH Tamiajeng, Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas. Keindahan alam pun menghadirkan suasana nyaman bagi keduanya.

Menjelang sore mereka sampai di pos yang terletak di dekat puncak bayangan, tanda posisi sudah nyaris mencapai puncak. Mereka istirahat di pos itu selama 15 menit, kemudian melanjutkan perjalanan untuk sampai ke puncak bayangan. Setibanya di sana, malam pun menutup jalur dan membuat mereka harus berkemah pada salah satu goa disana

Menjelang tengah malam, mereka mendengar suara orang ramai bercakap-cakap dan terdengar datang dari arah di atas mereka. Mereka mengira sudah ada kelompok pendaki yang mencapai puncak terlebih dahulu, meskipun selama perjalanan mereka tidak melihat pendaki yang lain. Kemudian, saat mereka memutuskan untuk tidur, terlihat lampu-lampu senter seperti menyinari jalur pendakian.

Mereka pun mengira lampu tersebut berasal dari senter milik kumpulan pendaki lain, hingga mereka berikan signal dari arah goa untuk mengajak mereka bergabung. Namun, sinar-sinar tersebut tidak bergerak mendekati mereka dan hanya di satu titik saja. Tak lama mereka pun terlelap karena lelah. Saat tiba di puncak, mereka menyadari tidak ada pendaki lain yang tiba di sana. Setelah menikmati matahari terbit, mereka pun turun dan kembali ke pos awal. Namun, mereka bertanya-tanya, siapa yang terdengar mengobrol dan membawa lampu senter pada malam sebelumnya?

Gunung Ciremai

Pemandangan yang indah dan medan yang tidak sulit dari gunung yang terletak 50 km dari kota Cirebon ini membuat banyak pendaki lokal maupun luar Cirebon pun berdatangan ke lokasi gunung ini. Namun, layaknya kisah dari gunung yang lain, konon bila penunggu di sebuah lokasi diganggu, maka pendaki akan diganggu pula. Hal serupa dialami oleh seorang pendaki gunung asal Cirebon. Saat itu dia pergi bersama tiga temannya dan tiba pad salah satu posko tengah jalur pendakian Ciremai. Mereka beristirahat pada malam kedua saat mereka telah bersiap untuk turun.

Rekan pendakinya tiba-tiba berteriak bahwa telah terjadi gempa, namun pendaki asal Cirebon ini tidak merasakannya. Ia malah melihat sesosok berjubah putih tengah dalam posisi terbang di atas ketiga temannya. Kemudian, ia memanjatkan doa, namun gangguan itu tidak  berakhir sampai keesokan paginya. Mereka ‘disesatkan’ saat turun gunung sehingga yang semestinya hanya memerlukan waktu satu jam saja menjadi lebih dari enam jam. Mereka kewalahan, hingga pendaki itu pun akhirnya duduk dengan tenang sambil memanjatkan doa. Saat membuka mata, tiga temannya tiba-tiba menghilang, namun ia dikelilingi tujuh pria berjubah putih. Usut punya usut, ternyata salah satu rekannya sempat membuang sampah dan buang air sembarangan saat berada di puncak. Ia kemudian meminta maaf dan berjanji akan memberikan wejangan pada temannya itu, sehingga perjalanan mereka setelah itu pun berjalan dengan lancar.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top