Life

Para Pembunuh Cilik

Mungkin kita sudah sering mendengar anak-anak yang menjadi korban pembunuhan orang dewasa dan mendengar hal ini membuat kita merasa sedih dan sangat prihatin. Tetapi bagaimana perasaan Anda jika yang melakukan tindakan kejahatan ini adalah anak-anak? Bisa saja Anda menjadi syok dan tidak percaya dengan apa yang Anda dengar. Namun itulah yang terjadi. Hal ini membuktikan bahwa peran keluarga dan guru di sekolah sangat penting bagi perkembangan kejiwaan dan kepribadian anak-anak kita. Sudah saatnya kita mewaspadai hal ini agar tidak menimpa anak cucu kita kelak.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah para pembunuh cilik ini tidak kalah berbahaya dan ganas dibanding dengan orang yang telah dewasa. Dengan berbagai cerita yang melatar belakangi masalah mereka, inilah 10 besar anak-anak yang menjadi pembunuh di dunia

MARY BELL

Pada umumnya, anak-anak yang menjadi pembunuh adalah anak-anak yang cenderung memiliki masa kecil yang terganggu. Demikian juga yang dialami oleh Mary Bell yang telah menghadapi penderitaan pada saat usianya masih sangat muda. Ibunya adalah seorang yang bekerja pada dunia prostitusi sementara sang ayah meskipun identitasnya tidak diketahui dengan jelas, juga merupakan seorang pelaku kriminal. Dilaporkan bahwa sang ibu bukan hanya mencoba memintanya untuk berhubungan seksual pada saat usia Mary masih 4 tahun, namun juga melakukan beberapa upaya kejahatan pada anak ini dengan seolah-olah terlihat seperti kecelakaan.

Ketika Mary tumbuh besar, kondisi mentalnya dianggap sudah cukup terganggu. Pertama kali ia melakukan pembunuhan adalah ia mencekik seorang anak lelaki berusia 4 tahun saat sebelum ulang tahunnya yang ke-11. Pembunuhan kedua ia lakukan bersama seorang teman bernama Norma, membunuh seorang anak lelaki berusia 3 tahun.

KIPLAND KINKEL

Pelanggaran pertama yang dilakukan oleh Kinkel yang pada tahun 1998 saat ia berusia 16 tahun adalah tatkala ia terpaksa dikeluarkan dari sekolah dikarenakan membawa senjata api. Setelah dikeluarkan dari sekolah, tiba-tiba ia muncul kembali ke sekolah lamanya tersebut.  Hanya saja, kali ini ia membawa senapan serbu dan melepaskan tembakan di kantin sekolah. Dua pelajar tewas sementara kurang lebih 24 lainnya terluka akibat kejadian ini. Sebelum memasuki area kantin ia juga telah melepaskan dua tembakan yang melukai dua siswa. Secara total ia melepaskan tembakan sebanyak 50 kali.

Saat polisi berusaha menangkapnya, ia mencoba untuk menyerang mereka dengan menggunakan pisau yang ia sembunyikan dan berkata bahwa ia juga berniat untuk bunuh diri. Beruntung sama sekali tidak ada petugas yang terluka dalam peristiwa ini. Yang paling mengejutkan adalah tatkala rumahnya digrebek, polisi menemukan kedua orang tuanya telah tewas terbunuh dan rumahnya telah dipasangi bahan peledak. Tubuh sang ibu sendiri telah terhubung dengan salah satu alat peledak yang berada di rumah tersebut.

JON VENABLES dan ROBERT THOMPSON

Dua anak laki-laki berusia 10 tahun yang tengah membolos sekolah menculik seorang anak berusia 2 tahun bernama James Bulger dari sebuah mall. Anak balita ini disiksa dan kemudian dibunuh oleh kedua anak tersebut, sebelum kemudian tubuh mungilnya dilempar ke depan rel kereta api dengan maksud agar kematiannya nampak seperti sebuah kecelakaan. Satu-satunya hal yang membuktikan bahwa kedua anak itu bersalah adalah berasal dari kamera CCTV di mall yang memperlihatkan kedua anak tersebut membujuk James Bulger menjauh dari ibunya, tepat sebelum ia dibunuh.

Film ternama berjudul Boy A dianggap terinspirasi dari peristiwa ini, namun penulisnya menyangkal bahwa cerita yang ditulisnya berhubungan dengan kisah nyata.

GRAHAM YOUNG

Young adalah seorang anak yang sangat terobsesi dengan efek apa saja yang dapat ditimbulkan oleh racun terhadap tubuh manusia. Ia meng-idolakan pembunuh seperti Adolf Hitler dan Dr.Hawley Crippen. Ketika ia berusia 14 tahun, ia mulai bereksperimen dengan racun dan korbannya adalah anggota keluarga dan kawan-kawannya. Anggota keluarganya ada yang menderita sakit perut hebat, muntah, diare dan penyakit lainnya. Ibu tirinya meninggal dunia ditangannya akibat eksperimen racunnya.

Ia ditangkap saat gurunya menemukannya tengah melakukan beberapa eksperimen aneh di sekolah. Sang guru juga menemukan sketsa yang menggambarkan orang-orang sekarat, beberapa jenis racun dan tulisan-tulisan dari dan mengenai penjahat-penjahat terkenal di mejanya. Tatkala ia dikirim ke penjara, ia masih tetap menjalankan eksperimen racunnya itu dan menyebabkan kematian seorang narapidana.

JESSE POMEROY

Jesse Pomeroy bisa dikatakan merupakan pionir dari kasus pembunuh cilik. Pada tahun 1874, saat usianya 14 tahun ia ditangkap karena membunuh anak berusia 4 tahun. Ini adalah bukan pertama kali ia mengekspresikan keinginannya untuk menyakiti orang lain. Dalam 3 tahun terakhir ia telah melakukan penyiksaan terhadap beberapa anak yang lain. Penyiksaan yang dimaksud adalah termasuk penyiksaan seksual, pembunuhan, mutilasi dan sebagainya. Anak ini dijatuhi hukuman kurungan selama 40 tahun.

ERIC SMITH

Saat usianya 13 tahun, Eric Smith sudah membunuh anak berusia 4 tahun. Ia menggiring korbannya ke arah bagian berkayu di sebuah taman. Ia lalu mencekik anak balita itu sebelum kemudian melakukan kejahatan seksual dan akhirnya menjatuhkan sebuah batu di atas kepalanya. Smith didiagnosa menderita Intermittent Explosive Disorder, dimana penderitanya cenderung tidak dapat menahan dorongan impulsif  dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu sebagai pemenuhan keinginannya. Orang tuanya berpendapat bahwa tempat yang paling tepat baginya adalah dibalik jeruji besi.

JOSHUA PHILLIPS

Ia berusia 14 tahun saat ditahan. Hal ini disebabkan pada saat ibunya berniat membersihkan kamar tidurnya, sang ibu memperhatikan ada sesuatu yang basah di bawah tempat tidur anaknya. Sang ibu semula berpikir ada kebocoran yang berasal dari kasur air milik anaknya, namun kemudian menemukan sesosok tubuh tak bernyawa yang disembunyikan di bagian bawah ranjang dan direkatkan dengan isolasi. Saat ia membuka ranjang tersebut ia mengenal sosok itu sebagai Maddie Clifton, putri tetangga mereka yang berusia 8 tahun. Maddie dilaporkan telah menghilang selama satu minggu lamanya.

GEORGE STINNEY

Pada tahun 1944, George Stinney dituduh membunuh dua gadis kulit putih berusia 11 dan 8 tahun. Jasad keduanya ditemukan di genangan air berlumpur dalam kondisi tengkorak yang retak. Dikatakan anak itu mengaku bahwa sebenarnya ia hanya beniat untuk melakukan hubungan seks dengan kedua gadis tersebut satu persatu, namun kemudian berakhir dengan membunuh keduanya. Namun ada juga yang menyatakan tidak ada bukti fisik terhadap peristiwa ini. Ia dijatuhi dihukum mati dengan kursi listrik. Ia adalah orang termuda di Amerika yang menjalani hukuman kursi listrik pada abad ke 21.

Pada tahun 2014, secara anumerta ia dinyatakan tidak bersalah, 70 tahun setelah ia dijatuhi hukuman mati. Ada yang berpendapat ia adalah korban rasisme. Juri pada persidangannya semua berkulit putih, tidak ada orang berkulit hitam yang diijinkan masuk dalam ruang sidang, dan ia sama sekali tidak diwakili pengacara atau orang tuanya selama sidang dan selama mengungkapkan apa yang disebut sebagai ‘pengakuannya’. Dikatakan bahwa ia bahkan diputuskan secepatnya dihukum mati dikarenakan ia berkulit hitam.

BRIAN BLACKWELL

Pada usia 18 tahun di tahun 2004, Blackwell yang bertempat tinggal di daerah yang berdekatan dengan Liverpool Inggris, menggunakan banyak kartu kredit dan mengajukan pinjaman atas nama ayahnya dengan tujuan agar dapat tampil sebagai orang berpunya. Ketika kedua orang tuanya mengetahui hal ini, ia menikam keduanya hingga meninggal dunia. Ia juga dilaporkan memukul kedua orang tuanya dengan palu. Ia kemudian terbang bersama kekasihnya ke New York sebelum kemudian mengajak sang kekasih berlibur ke Barbados. Saat ditanyai polisi, pada awalnya ia tidak mengakui perbuatannya dengan alasan kejadian itu berlangsung saat ia tengah berlibur. Namun dua hari setelahnya ia mengakui perbuatannya, dan akhirnya ia dijatuhi hukuman penjara setelah divonis menderita Narcissistic Personality Disorder.

ALYSSA BUSTAMANTE

Gadis yang menganggap dirinya memiliki perilaku gothic ini membunuh seorang anak berusia 9 tahun bernama Elizabeth Olten tatkala dirinya sendiri berusia 15 tahun pada tahun 2009 dengan cara yang sadis. Ia juga pernah mengerjai kedua adiknya dengan permainan berbahaya dan seringkali menyatakan keinginannya untuk membunuh kedua adik laki-lakinya tersebut. Ia membunuh Elizabeth dengan cara terlebih dahulu memukuli gadis itu, lalu mencekik dan akhirnya menggorok lehernya. Dikatakannya bahwa ia ingin membunuh gadis itu untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi pembunuh.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top