Life

Stop Bullying! Selamatkan Generasi Muda

Akhir-akhir ini kerap sekali kita mendengar bullying di lingkungan sosial maupun yang tersebar di media sosial. Bullying merupakan fenomena sosial yang sangat rumit dan berakibat fatal. Bullying yang diartikan sebagai ejekan ataupun olokan tersebut juga menjadi perhatian hingga di seluruh dunia. Siapa saja bisa menjadi korban bullying, pelaku biasanya akan menyerang korban dari faktor ekonomi, sosial hingga ras. Bullying pun juga mengakibatkan adanya korban jiwa.

Hasil penelitian dari King’s College London yaitu anak-anak yang menjadi korban bullying akan terus mengingatnya dan merasakan dampak kesehatan psikis serta mental hingga lebih dari 40 tahun akibat peristiwa yang dialaminya. Peristiwa traumatik tersebut akan sangat menyakitkan terutama bagi anak usia dini dan dalam jangka yang panjang. Adapun dampak bullying lainnya sebagai berikut;

Kecemasan dan Depresi

Bullying akan berdampak menjadi sebuah kecemasan dan depresi, efek tersebut dialami oleh anak yang lebih tua atau anak remaja. Mereka beranggapan bahwa mereka mampu menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dari situlah ketika mereka menghadapi bullying yang rumit, mereka akan menyelesaikan dengan ketidakberdayaan yang berdampak menjadi sebuah kecemasa,. Beberapa anak usia tersebut belum berkembang dalam menghadapi masalah, sehingga kecemasan yang berjangka panjang akan mengakibatkan depresi. Selain itu, untuk korban perempuan akan mengalami gangguan nafsu makan, anoreksia serta bulmia.

Problem Sosial

Selain pada psikis, bullying juga berdampak pada problem sosial. Salah satu fenomena yang sering terjadi yaitu intimidasi. Sejalan dengan fenomena tersebut, anak-anak akan merasa bahwa dirinya lebih muda dari usianya yang digunakan sebagai bentuk perlindungan diri. Hal tersebut membuat seorang anak susah untuk mengembangkan diri untuk menjadi dewasa. Para pelaku akan terbiasa menjadi pembully hingga dewasa nanti, mereka berpikir apa yang ia lakukan hal biasa, karena memiliki dampak yang tidak kentara bagi dirinya. Untuk korban, ia merasakan suatu kemarahan baik terhadap dirinya maupun terhadap pelaku, kebencian terhadap pelaku menimbulkan sebuah dendam dan hubungan sosial yang memburuk.

Problem terhadap Fisik

Sebagian anak remaja tidak mengetahui bagaimana cara menghadapi bullying. Anak pada usia tersebut lebih dominan menanganinya dengan emosi, hal tersebut bisa dikatakan memasuki gejala psikosomatik yang merupakan hasil emosi yang akan diwujudkan dalam kondisi fisik. Penelitian yang dilakukan oleh Dr Sansone di Amerika Serikat dan Finlandia menunjukkan bahwa anak-anak yang dibully akan mengalami sakit kepala, sakit perut maupun gangguan tidur. Masalah tersebut sulit untuk dipecahkan, bahkan beberapa orang tua tidak mengetahui akan dampak bullying.

Bullying bukanlah sebuah aktivitas yang normal bagi anak-anak. Dengan adanya dampak buruk akibat perilaku tersebut, orang tua sangat dibutuhkan perannya untuk memberikan perhatian lebih kepada anak. Orang tua harus paham dalam menangani anak baik pelaku maupun korban bullying, hal tersebut guna menjaga kesehatan psikis, mental dan membentuk karakter serta moral yang baik kepada anak. Jangan sampai bullying menelan banyak korban hingga menyebabkan anak bunuh diri. Dari sekarang, pihak sekolah dan pihak orang tua harus saling membantu memberikan sosialisasi kepada anak mengenai bullying. Menghentikan kegiatan bullying akan menyelamatkan mental generasi muda yang lebih baik.

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini

To Top