News

Abu Janda Ngaku Dapat Bayaran Besar Jadi Buzzer Jokowi, Ini Kata Eks TKN

Abu Janda Ngaku Dapat Bayaran Besar Jadi Buzzer Jokowi, Ini Kata Eks TKN

Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda mengaku mendapatkan bayaran besar setiap bulan selama menjadi influencer atau buzzer untuk tim Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019 lalu. Lebih dari itu, dia bahkan pernah diminta menjadi pembicara kampanye di luar negeri.

Eks anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding menegaskan TKN saat itu tidak memiliki kebijakan membayar buzzer. Karding mengatakan dirinya mengetahui hal itu lantaran mengurus banyak hal.

“Sepanjang saya jadi pengurus di TKN dan termasuk sangan intens dalam mengurus banyak hal, saya memastikan tidak ada kebijakan TKN yang melakukan kontrak atau membayar seseorang untuk kepentingan buzzer,” tegas Karding, Senin (1/2/2021).

Karding mengaku secara pribadi tidak mengenal Abu Janda. Politikus PKB itu kembali menekankan bahwa TKN saat itu tidak pernah membayar orang sebagai buzzer.

“Saya secara pribadi juga tidak mengenalnya (Abu Janda). Dan Tim Kampanye Nasional itu sekali lagi tidak pernah melakukan kontrak maupun membayar. Karena memang kebijakan itu tidak kita adakan,” sambungnya.

TKN Jokowi-Ma’ruf Tak Terima Gaji

Di sisi lain, Wakil Direktur Saksi TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Achmad Baidowi mengaku tidak tahu terkait adanya bayaran yang diberikan buzzer Jokowi selama Pilpres 2019. Namun, Baidowi menegaskan TKN yang mendukung Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019 tidak mendapatkan gaji.

“Wah itu ndak tahu saya. Kami di TKN saja nggak dapat honor, nggak dapat gaji. Jadi kita nggak tahu. Kalau pun itu Abu Janda direkrut, bisa jadi bukan TKN yang merekrut. Bisa jadi salah satu relawan yang merekrut karena di bawah TKN itu banyak relawan. Itu kita nggak tahu,” kata Baidowi, Senin (1/2/2021).

Baidowi menuturkan dalam struktur TKN saat itu tidak mengenal apa yang dinamakan buzzer. Dia menduga buzzer seperti Abu Janda berada di bawah relawan Jokowi, bukan termasuk anggota TKN.

“Setahu saya ndak ada buzzer itu. Itu semacam relawan ya yang begitu itu. Kan tidak ada di situ nomenklatur buzzer itu. Jadi dugaan saya kalau pun Abu Janda mengklaim jadi buzzer Jokowi, bisa jadi salah satu relawan yang merekrutnya,” tambahnya.

Abu Janda Raih Jackpot

Sebelumnya, Abu Janda mengaku mendapatkan gaji bulanan saat menjadi buzzer Jokowi di Pilpres 2019 lalu. Pemilik nama asli Permadi Arya itu pun mengaku mendapatkan ‘jackpot’ selama menjadi buzzer.

“Pokoknya yang bener-bener jackpot itu istilahnya ya di situlah. Sebelum-sebelumnya, (asal) bisa makan syukur,” kata Abu Janda.

Lebih dari itu, Abu Janda mengatakan dirinya juga kerap keliling ke berbagai daerah, termasuk ke luar negeri untuk agenda kampanye. Dia mengaku pernah diminta menjadi pembicara di luar negeri.

“Iya, saya pernah diminta jadi pembicara dalam kampanye di Hong Kong dan Jepang,” tuturnya.

Pegiat media sosial itu menuturkan kontrak dia menjadi buzzer Jokowi sudah berakhir seiring selesainya Pilpres 2019. Namun, kata dia, masih banyak orang hingga saat ini yang menyebut dirinya buzzer Jokowi.

“Terus dipelintir ke mana-mana, seolah masih tetap jadi buzzer. Itu nggak benar, kita udah dibubarin,” sambungnya.

Terkait dirinya simpati terhadap Presiden Jokowi, Abu Janda mengaku rasa itu muncul lantaran Presiden Jokowi kerap difitnah. Bahkan, kata dia, mantan Wali Kota Solo itu menjadi capres yang paling banyak difitnah.

“Pak Jokowi itu calon presiden yang paling banyak difitnah dalam sejarah politik Indonesia,” ungkapnya.

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top