News

Ali Kalora, Pimpinan MIT Yang Berakhir Tewas Ditembak Satgas Madago Raya

Ali Kalora, Pimpinan MIT Yang Berakhir Tewas Ditembak Satgas Madago Raya

Pimpinan kelompok teroris MIT (Mujahidin Indonesia Timur), Ali Kolara tewas dalam baku tembak di Pegunungan Desa Astana, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu (18/9/2021).

Selain Ali, seorang anggota kelompok MIT lainnya, Jaka Ramadhan, juga dilaporkan tewas dalam batu tembak antara Satgas Madago Raya dan MIT. Melansir Tribunnews, lokasi penembakan Ali berjarak sekitar 5 km dari TKP Buana Sari, dimana anggota MIT Poso Abu Alim tewas. Dari TKP, petugas menemukan barang bukti berupa sebuah bom tarik, sebuah bom bakar, senjata api laras panjang berjenis M16, dan beberapa perlengkapan lainnya.

Ali Kalora alias Ali Ahmad memiliki istri berinisial L alias Ummu Syifa yang sebelumnya telah ditangkap oleh Densus 88 pada 29 Juli 2020 lalu. Setelah diamankan, istrinya lalu dijadikan tersangka sebab merahasiakan keberadaan MIT, dengan ancaman hukuman penjara paling lama seumur hidup.

Lihat Juga: Senjata Api Kelompok Santoso Berasal Dari Filipina

Ali Kalora menjadi pimpinan kelompok teroris itu sejak 2016. Ia adalah pemimpin ke-3 di kelompok itu, setelah menggantikan Santoso yang tewas pada 2016 karena baku tembak dengan petugas Operasi Tinombala. Awalnya, Ali memimpin kelompok itu bersama Basri, namun usia Basri ditangkap, Ali menjadi target utama dalam Operasi Tinombala.

Sebelum memimpin MIT, Ali adalah salah satu pengikut senior Santoso. Karena kedekatannya dengan Santoso dan memiliki kemampuan mengenal medan gerilya membuatnya dipercaya memimpin MIT. Ali disebutkan mempunyai keahlian dalam merakit bom. Satgas Madago Raya, bahkan menemukan bom lotong dalam beberapa kali baku tembak. Beberapa bom telah diledakkan oleh Satuan Tugas Madago Raya beberapa waktu lalu.

Ali Kalora Menyamar Sebagai Warga Lokal

Ridlwan Habib, pengamat terorisme dari UI dalam wawancara bersama BBC Indonesia, Rabu (2/1/2019), menuturkan Ali mempunyai kemampuan bertahan hidup yang baik. Dengan terbatasnya logistik, Ali bisa menjadi apa pun. Ia bisa menyamar sebagai warga lokal, maupun petani untuk menghindari kejarat aparat TNI atau Polisi.

Pada awal 2019, Polri pernah mengultimatum Ali Kalora Cs. Apabila hingga 29 Januari 2019 kelompok MIT tak menyerahkan diri, tim gabungan TNI-Polri akan mendindak secara represif. Namun, hal tersebut tak diindahkan Ali Kalora CS.

Ali Kalora Cs sempat dikabarkan akan menyerahkan diri usai terluka dalam kontak tembak dengan Satgas Madago Raya pada 22 Maret 2021. Tetapi, rencana tersebut batal sebab dihalangi oleh kelompok Qatar.

Kelompok Qatar sendiri merupakan kelompok MIT lainnya yang beranggotakan empat orang. Yaitu Abu Alim (Ambo), Nae (Galuh), Akas (Jadi/Pak Guru), Jaka (Ramadhan/Ikrima/Rama).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top