News

Ancaman Hukuman Mati atau Minimal 20 Tahun Jerat Irjen Teddy Minahasa dkk

Irjen Teddy Minahasa Hukuman Mati

Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Mukti Jauharsa mengatakan menerapkan pasal hukuman mati dan minimal 20 tahun penjara untuk para tersangka kasus jual beli narkoba yang menyeret Irjen Teddy Minahasa Putra.

Mukti merinci para tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) subsider Pasal 112 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) juncto Pasal 55 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Ancaman maksimal hukuman mati, minimal 20 tahun,” kata Mukti di Polres Jakarta Pusat, Jumat (14/10).

Selain Teddy, ada 4 anggota polri yang terlibat dalam peredaran barang haram tersebut dan juga terancam hukuman mati. Keempatnya adalah AKBP Doddy Prawira Negara selaku Kepala Bagian Pengadaan Biro Logistik Sumatera Barat sekaligus Mantan Kapolres Bukit Tinggi Polda Sumbar; Kompol Kasranto selaku Kapolsek Kali Baru Tanjung Priok; Aiptu Janto Situmorang selaku anggota Polres Tanjung Priok; dan Aipda Achmad Darwawan anggota Polres Metro Jakarta Barat.

Mukti mengatakan dari tangan Teddy pihaknya menemukan narkotika jenis sabu seberat 3,3 kg. Sebanyak 1,7 kg telah dijual Teddy kepada DG, untuk diedarkan di Kampung Bahari, Jakarta Utara.

Mukti mengatakan pihaknya sudah menetapkan Irjen Teddy Minahasa, yang merupakan mantan Kapolda Sumatera Barat, sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyalahgunaan narkoba ini.

Pihaknya pun melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi, salah satunya rumah mantan Kapolres Bukittinggi AKBP D. Dari lokasi tersebut ditemukan narkoba jenis sabu seberat 2 kilogram (kg).

“Keterangan D dan R menyebutkan keterlibatan Irjen TM Kapolda Sumbar sebagai pengendali BB 5 kilogram sabu dari Sumbar,” ujarnya.

Hukuman Mati
Bukti Narkotika

Kronologi Penangkapan Irjen Teddy Minahasa Dkk

Diberitakan sebelumnya Irjen Teddy Minasa ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus peredaran narkoba pada Jumat. Ia diyakini telah mengambil barang bukti kasus narkotika dan menjualnya ke pengedar.

Kasus ini bermula ketika anggota Polres Metro Jakarta Pusat meringkus salah seorang pengedar narkotika berinisial HE di Jakarta. Dalam penangkapan itu, polisi menemukan sabu berbobot 44 gram.

Dari pengembangan kasus tersebut, petugas juga meringkus AR alias Abeng. Dari kediaman AR polisi tidak menemukan barang bukti narkotika.

“Saudara AR kami interogasi mengarah kepada saudara AD yang secara kebetulan tempat kosnya persis berhadapan dengan saudara AR,” jelas Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Komarudin.

AD ternyata anggota polisi aktif yang bertugas di Satres Narkoba Polres Metro Jakarta Barat. Dari pengakuan AD barang haram tersebut didapatkan dari seorang anggota polri aktif juga berpangkat Kompol dengan inisial KS, yang juga menjabat sebagai Kapolsek Kali Baru, Tanjung Priok.

Komarudin kemudian melaporkan kasus ini ke Kapolda Metro Jaya dan Satres Narkoba Polda Metro Jaya. Usai mendapat lampu hijau dari Fadil Imran, kata Komarudin, pihaknya dengan dibantu Satres Narkoba Polda Metro Jaya langsung tancap gas, melakukan tangkapan selanjutnya.

“Nah dari sinilah kegiatan pengembangan langsung dipimpin oleh Bapak Dir Narkoba Polda Metro Jaya,” bebernya.

Sementara itu Dir Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Mukti Juharsa mengatakan, setelah mendapat perintah Irjen Fadil Imran, pihaknya langsung meringkus Kompol KS dan anak buahnya berinisial J.

“Adapun jumlah BB yang kami amankan dari Kompol KS yang ada di kantornya sebanyak 305 gram,” katanya.

Dari pengakuan KS, ia mendapatkan sabu tersebut dari wanita yang berinisial L alias Linda. Adapun Linda kerap bertemu dengan tersangka A alias Aw. Dari kediaman AW yang berada di Kebon Jeruk petugas menemukan 1 kg sabu.

“Dari keterangan A dan L disebutkan bahwa masih ada barang lagi yang disimpan saudara D dan D adalah polisi aktif berpangkat AKBP, mantan Kapolres Bukittinggi yang sekarang menjabat sebagai Kabagda Rolog Polda Sumbar,” jelasnya.

Dari tangan D petugas menemukan barang bukti sabu seberat 2 kilogram. D juga diketahui sebagai penghubung antara A dan L dengan Irjen TM, yang bertugas sebagai Kapolda Sumbar.

“Irjen Pol TM selaku Kapolda Sumbar, sebagai pengendali BB 5 kg sabu dari Sumbar di mana sudah menjadi 3,3 kg yang kita amankan dan 1,7 kg sabu yang sudah dijual oleh suara DG yang telah kita tahan dan diedarkan di kampung Bahari,” kata Mukti.

Aturan Hukuman Mati Pengedar Narkoba

Amnesty International (AI) Indonesia mencatat ada 114 vonis mati baru yang dijatuhkan sepanjang tahun 2021 di Indonesia. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dari 117 vonis yang dijatuhkan pada 2020, sebagai jumlah terbanyak dalam 5 tahun terakhir. Demikian Direktur Eksekutif AI Indonesia, Usman Hamid, mengatakan kepada DW Indonesia.

“Sampai April 2022, ada setidaknya 46 vonis hukuman mati, satu di antaranya sudah diubah menjadi vonis seumur hidup,” ujar Usman Hamid.

Ia menegaskan bahwa AI menentang hukuman mati untuk segala kasus tanpa terkecuali. Namun ini tidak berarti bahwa organisasi tersebut tidak setuju bahwa mereka yang bersalah harus terkena hukuman mati.

“Jika melihat tujuan dari hukuman itu sendiri, yang selama ini menimbulkan efek jera adalah kepastian adanya hukuman, bukan tingkat kekejaman hukumannya. Jadi, yang seharusnya dilakukan adalah membenahi sistem hukum yang masih melanggengkan impunitas, bukan semakin menambah tingkat kekejaman hukuman,” kata Usman kepada DW Indonesia.

Periset AI Indonesia, Ari Pramuditya, menambahkan dari jumlah 114 vonis hukuman mati baru tersebut sebanyak 94 atau 82% di antaranya dijatuhkan untuk kejahatan narkoba. Selebihnya, 14 vonis hukuman mati untuk kasus pembunuhan, 6 untuk terorisme, dan 7 untuk warga negara asing asal Pakistan, Iran, dan Yaman yang bersalah akibat kejahatan narkotika.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top