News

Ancaman Resesi 2023, Target Indonesia Jadi Negara Maju 2045 Realistis kah?

Ancaman Resesi 2023

Ancaman Resesi 2023 pada sektor perekonomian diprediksi akan berlanjut. Kondisi ini akan membuat perekonomian di sejumlah negara terancam, mulai dari Jerman, Italia, Inggris, Korea Selatan hingga Taiwan, mengutip Al Jazeera pada Jumat (30/9).  

Dari benua biru, Jerman, Italia dan Inggris menjadi tiga ekonomi terbesar yang akan mengalami resesi panjang tahun depan. Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyebut persoalan ini datang karena krisis pasokan energi yang disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina. 

OECD mengharapkan pertumbuhan perekonomian zona euro hanya sebesar 0,3% pada 2023. Ini menunjukkan bahwa banyak ekonomi blok itu akan berada dalam ancaman resesi 2023.

Sementara Asia Pasifik diperkirakan akan menghindari kontraksi perekonomian. Namun terdapat tantangan dari kebijakan penguncian dan pembatasan perbatasan Zero Covid-19 dari China. Ini akan menjadi hambatan serius pada potensi pertumbuhan kawasan dan beresiko ancaman resesi 2023. 

Pada hari Selasa, Bank Dunia memangkas perkiraan ekonominya untuk Asia Pasifik menjadi 3,2%. Nilai ini turun dari 5% dari proyeksi di April lalu. Sedangkan, perkiraan perekonomian China juga turun separuh menjadi 2,8%. 

Trinh Nguyen, ekonom senior untuk negara berkembang Asia di Natixis yang berbasis di Hong Kong, mengatakan ekonomi Asia tidak akan terhindar dari dampak kenaikan suku bunga yang serentak dilakukan oleh bank sentral.  Ia mengatakan, meskipun kawasan itu melihat ada perlambatan, kehancuran ekonomi masih akan sulit terjadi untuk ekonomi Asia, ancaman resesi 2023 pun tidak terhindarkan.  

“Kami pikir pertumbuhan Asia akan melambat. Untuk ekonomi yang lebih terpapar pada siklus perdagangan, dampak melemahnya permintaan eksternal akan terasa lebih buruk, seperti Korea Selatan dan Taiwan,” kata Nguyen.  

Kendati demikian, di negara berkembang Asia tidak termasuk China, pengetatan kondisi keuangan akan menekan investasi. Konsumsi diperkirakan akan melambat namun masih akan menjadi pertumbuhan perekonomian di negara berkembang ini.  

Harvey, Profesor di Universitas Duke, mengatakan lebih percaya diri  bahwa Eropa juga mengalami ancaman resesi 2023 kecuali Amerika Serikat. Ia menilai dunia akan menghadapi prospek ekonomi yang genting. 

“Inflasi adalah fenomena global. Lonjakan inflasi sering dikaitkan dengan ancaman resesi 2023. Ya, jika AS masuk ke dalam resesi, kemungkinan akan mengarah ke resesi global, terutama mengingat Eropa kemungkinan sudah dalam resesi,” tambahnya. 

Sebuah survei yang dirilis oleh Forum Ekonomi Dunia yang berbasis di Swiss pada hari Rabu lalu menunjukkan tujuh dari 10 responden dalam sampel 22 ekonom sektor swasta dan publik terkemuka mengatakan mereka percaya ancaman resesi 2023 setidaknya agak mungkin terjadi. 

Sementara itu, Ned Davis Research, sebuah firma riset yang berbasis di Florida yang dikenal dengan Model Probabilitas Resesi Global, meningkatkan kemungkinan ancaman resesi 2023 menjadi 98,1%. Tertinggi sejak penurunan terkait pandemi COVID-19 tahun 2020 dan krisis keuangan global pada krisis 2008-2009.

Ancaman Resesi 2023
Sri Mulyani mewanti ancaman resesi 2023

Indonesia Dihantui Ancaman Resesi 2023, Bagaimana Target Indonesia Maju 2045?

Dilansir dari Tempo.co Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara melihat tekanan ekonomi global yang terus berlanjut di tengah ancaman resesi 2023. Berpotensi membuat Indonesia terjebak sebagai negara berpendapatan menengah. Jebakan itu makin dalam jika pemerintah tidak ada upaya ekstra memperkuat ekonomi domestik.

“Indonesia terancam masuk jebakan kelas menengah,” kata Bhima 

Meski dunia telah pulih dari pandemi Covid-19, perekonomian Indonesia masih menghadapi dampak tekanan ekonomi global. Pada 2023, ekonomi domestik dihadapkan dengan potensi resesi dunia setelah tingginya inflasi dan tren kenaikan suku bunga acuan bank sentral negara-negara maju. 

Kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tak kunjung menyentuh angka 6 persen. Padahal, berdasarkan perhitungan Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN) atau Bappenas, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata harus 6-7 persen untuk mencapai target Indonesia sebagai negara maju pada 2045 dan terlepas dari middle income trap. 

Bhima pun memandang target Indonesia maju pada 2045 sulit tercapai. Beberapa faktor mempengaruhinya, seperti status Indonesia yang telah turun menjadi lower middle income country akibat dampak Pandemi Covid-19. Padahal sebelumnya, Indonesia dikategorikan sebagai negara upper middle income country.

Adapun pada 2021 lalu, Bank Dunia atau World Bank kembali menempatkan Indonesia ke dalam golongan lower middle income country atau negara dengan penghasilan menengah ke bawah. Posisi ini membuat Indonesia turun kelas. 

Oleh sebab itu, supaya Indonesia bisa kembali ke posisinya semula dan bertahan, Bhima mengatakan pemerintah perlu berfokus menjaga pendapatan per kapita masyarakat. Dengan demikian, target menuju Indonesia sebagai negara maju pada 2045 dapat tekejar.

“Sekarang jangka pendek kejar dulu status upper middle income country atau GNI (gross national income) per kapita US$ 4.046-12.535,” ujar Bhima.

Motor pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata dia, sebenarnya masih tergantung pada naik-turunnya harga komoditas. Ini membuat ekonomi sangat berisiko. Ketika harga komoditas mulai mengalami moderasi pada 2023, surplus perdagangan hingga lapangan kerja yang meningkat karena serapan disektor pertambangan dan perkebunan, bisa kembali menurun.

“Perlu diversifikasi ke sektor industri manufaktur yang punya nilai tambah tinggi,” kata Bhima.

Di sisi lain, sumber daya manusia (SDM) juga juga dipandang sebagai kunci mengejar ketertinggalan itu. Namun persoalan ini, kata Bhima, tidak bisa hanya dilakukan dalam jangka pendek, perlu perencanaan pendidikan, korelasi materi pengajaran dengan skill yang tengah dibutuhka. 

“Contohnya, skill digital dan transisi energi ke EBT yang butuh banyak SDM berkualitas,” kata dia.

Kualitas pertumbuhan ekonomi pun, ia melanjutkan, juga perlu menjadi fokus utama selain tinggi nya GNI per kapita. Musababnya, masih terdapat 24 persen bayi dengan prevalansi menderita stunting atau gagal tumbuh. Selain itu, terdapat 115 juta penduduk kelas menengah rentan atau aspiring middle class.

Bahkan, dia melanjutkan, Bank Dunia mengategorikan 13 juta orang miskin baru di Indonesia akibat perubahan garis kemiskinan versi Bank Dunia beberapa hari lalu. Kalau ketimpangan makin dalam, motor pertumbuhan jangka panjang juga terganggu. 

“Kita mau kejar bonus demografi 2030, tapi bayi masih stunting yang artinya sudah kalah bersaing dalam 1.000 hari pertama kehidupan dengan negara lain yang gizi bayinya bagus. Itu kontradiksi,” ujar Bhima.

Sebelum masa Pandemi Covid-19, yaitu pada 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di posisi 5,02 persen secara tahunan. Lalu, pada 2020, pertumbuhan ekonomi menjadi minus 2,07 persen akibat pagebluk. Selanjutnya pada 2021, ekonomi Indonesia mampu kembali tumbuh 3,69 persen. Pada 2022, pemerintah menargetkan pertumbuhannya di level 5,2 persen dan 2023 sebesar 5,3 persen

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top