News

Anies Ganti RSUD Jadi Rumah Sehat, Ketua DPRD Minta Stop Kebijakan Ngawur

Rumah Sehat untuk Jakarta

Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi menanggapi kebijakan Gubernur DKI Anies Baswedan yang mengganti nama rumah sakit umum daerah (RSUD) menjadi RUmah Sehat untuk Jakarta. Prasetyo pun meminta Anies agar tidak membuat kebijakan ngawur.

“Yang terasa langsung gitu kesuksesannya di tengah masyarakat, bukan cuma ganti-ganti nama, kemarin nama jalan sekarang rumah sakit. Setop deh bikin kebijakan ngawur,” ujar Prasetyo, lewat keterangannya, Rabu (3/8/2022).

Politikus PDIP itu mengkritik istilah Rumah Sehat yang diwacanakan Anies. Menurut dia, penamaan rumah sakit lebih dikenal masyarakat. Selain itu, istilah tersebut juga sudah tercantum dalam UU No 4 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

“Jadi memang aturannya di Pasal 1 jelas namanya ‘rumah sakit’. Dari dulu kalau kita sakit ke mana sih larinya, ya ke rumah sakit. Memang namanya rumah sakit` ya untuk mengobati penyakit. Logikanya kan begitu. Kalau sudah sehat ya kerja, beraktivitas kembali,” kata dia.

Lihat Juga: Kata Hasto Kristiyanto Soal Pertanyaan 7 Prestasi Anies Baswedan yang Disambut Tawa Kader PDIP

Prasetyo menilai Jakarta mempunyai masalah lain yang harus segera diperbaiki Pemprov. Salah satunya yang disorot adalah kemiskinan. Jadi, menurutnya, warga lebih butuh solusi ketimbang perubahan nama.

“Ini Jakarta lho. Lihat tuh Tanah Tinggi, terus Johar. Mereka itu perlu sentuhan pemerintah, butuh solusi dengan program program yang baik, bukan ganti-ganti nama begitu, itu nggak dibutuhkan masyarakat,” tuturnya.

Kritik Keras dari Anggota DPRD Soal Nama Rumah Sehat

Sementara itu, anggota DPRD DKI Fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak juga ikut mengkritik Anies. Ia menilai penggantian nama tersebut membingungkan.

“Mengartikan bahasa Inggris ‘hospital‘ akan menjadi dua arti, Rumah Sehat untuk RSUD DKI dan Rumah Sakit buat RS di luar RSUD, dan keduanya mempunyai arti yang berbeda. Ini akan membingungkan mereka yang sekolah. Ini sama seperti arti rumah singgah yang beda dari rumah tinggal. Secara nasional juga RS masih singkatan rumah sakit, bukan rumah sehat,” kata Gilbert.

Lihat Juga: Kala Anies Baswedan Diibaratkan Seperti Gerrard

Ia menilai Pemprov DKI tidak bisa asal mengganti istilah rumah sakit menjadi Rumah Sehat tanpa meminta pendapat Kementerian Kesehatan RI. Gilbert menuduh penamaan Rumah Sehat itu sebagai pengalihan insiden robohnya pagar tribun Jakarta International Stadium (JIS).

“Artinya DKI tidak boleh sembarangan menggantinya tanpa membicarakan hal ini dengan ahli tata bahasa dan meminta pendapat dari Kemenkes. Ini bukan seperti penamaan jalan yang merupakan wewenang DKI dan tidak jelas alasannya, membingungkan dan menimbulkan penolakan masyarakat. Apalagi perubahan nama RS dilakukan 2 bulan menjelang berakhir jabatan,” jelasnya.

“Secara mendasar, tidak ada yang dilakukan Gubernur Anies selama menjabat, untuk RS di DKI. Selama pandemi COVID sedang di puncak, malah pemerintah pusat yang menopang pengobatan seluruh pasien, bukan dari APBD. Kesan yang timbul adalah kebijakan yang tidak bijak, sekedar pengalihan isu misalnya dari kasus pagar JIS yang disebut mahakarya tetapi nyatanya tidak,” sambung dia.

Sebelumnya, Anies Baswedan merubah sebutan RSUD di Jakarta menjadi Rumah Sehat untuk Jakarta. Ia ingin sebutan baru tersebut membuat warganya lebi beorientasi terhadap hidup sehat.

“Jadi rumah sehat ini dirancang untuk benar-benar membuat kita berorientasi pada hidup yang sehat, bukan sekadar berorientasi untuk sembuh dari sakit. Selama ini rumah sakit kita, berorientasi pada kuratif dan rehabilitatif sehingga datang ke rumah sakit untuk sembuh, untuk sembuh itu harus sakit dulu sehingga tempat ini menjadi tempat orang sakit,” ujar Anies, Rabu (3/8/2022).

Pandemi COVID-19, tutur Anies, membuat masyarakat harus sadar pentingnya menjaga kesehatan. Ia juga berharap masyarakat merubah pola pikir warga DKI agar masyarakat yang datang ke Rumah Sehat untuk Jakarta menjadi sehat.

Lihat Juga: Dinobatkan Pahlawan Transportasi, Anies Baswedan Justru Dikritik Pakar

“Di sisi lain pada saat pandemi kemarin kita menyaksikan pentingnya menjaga kesehatan. Karena itu, kita ingin rumah ini menjadi rumah di mana perannya ditambah, aspek promotif, aspek preventif.”

“Jadi datang ke rumah sehat untuk menjadi sehat, dan lebih sehat, dari mulai melakukan medical check up, sampai persoalan gizi, dan lain-lain, konsultasi,” beber Anies.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

five × 3 =

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top