News

Apa Alasan Donald Trump Mengeksekusi Brandon Bernard?

Alasan Donald Trump Mengeksekusi Brandon Bernard

This post is also available in: English

Administrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeksekusi salah satu narapidana bernama Brandon Bernard pada Kamis (10/12/2020). Pria berusia 40 tahun ini menjalani hukuman suntik mati pada pukul 9:27 malam. Ia mendapat hukuman tersebut karena menjadi kaki tangan pada tindak kejahatan saat ia berusia 18 tahun.

Administrasi Trump tetap menjalankan hukuman ini meskipun lima dari Sembilan juri menentangnya. Mahkamah Agung juga menolak penundaan eksekusi menit-menit terakhir untuknya. Padahal hakim terkemuka AS seperti Elena Kagan, Stephen Breyer, dan Sonia Sotomayor tidak menyetujuinya.

“Hari ini, pengadilan mengizinkan Pemerintah Federal untuk mengeksekusi Brandon Bernard. Terlepas dari tuduhan mengganggu Bernard, pemerintah seharusnya menahan hukuman matinya dan melihat bukti kesaksian palsu terhadapnya.” Tulis Sonia Sotomayor dalam perbedaan pendapatnya, dilansir dari HuffPost, Jumat (11/12/2020).

“Bernard tidak pernah memiliki kesempatan untuk menguji tuduhan-tuduhan ke dirinya di pengadilan.”

Laporan otopsi dari tahanan yang mengeksekusi dengan suntikan mati ini menunjukkan bahwa obat yang digunakan untuk menghukum Brandon Bernard mungkin menyebabkannya merasa seperti tercekik.

“Malam ini, kami yang mencintai Brandon Bernard, penuh dengan amarah dan kesedihan yang mendalam atas tindakan pemerintah federal dalam mengambil nyawanya.” Kata Robert Owen, pengacara Bernard selama 20 tahun terakhir, dalam sebuah pernyataan.

Lihat Juga: Diakhir Jabatannya Donald Trump Perintahkan Serangkaian Hukuman Mati

“Brandon membuat satu kesalahan besar pada usia 18 tahun. Tapi dia tidak membunuh siapapun, dan dia tidak pernah berhenti merasa malu dan penyesalan yang mendalam atas tindakannya dalam kejahatan itu.” Lanjutnya.

Kematian Bernard menandai eksekusi kesembilan pemerintahan Trump sejak praktik tersebut dilanjutkan pada Juli 2020. Ini adalah eksekusi kedua sejak Trump kalah dalam pemilu dari Presiden AS terpilih Joe Biden, yang mengatakan akan mengakhiri hukuman mati.

Donald Trump dan Jaksa Agung William Barr, sedang mencoba untuk mengeksekusi empat tahanan lain sebelum pelantikan Joe Biden. Trump menjadi presiden pertama AS dalam 131 tahun yang melaksanakan eksekusi federal setelah mengalami kekalahan dalam pemilihan ulang.

Ditambah, mayoritas orang yang dihukum mati saat pemerintahannya adalah orang kulit hitam. Bernard adalah orang berkulit hitam yang dijatuhi hukuman mati oleh juri yang kebanyakannya berkulit putih pada tahun 2000 lalu. Ia dituduh berperan dalam pembajakan mobil yang berakhir dengan pembunuhan sepasang suami istri bernama Todd dan Stacie Bagley.

Namun, Bernard tidak ada di sana saat teman-temannya menculik keluarga Bagley, ia juga bukanlah orang yang menembak mati mereka. Pelaku penembakan tersebut adalah temannya yang bernama Christopher Viavla dan telah dieksekusi pada September lalu.

Jaksa penuntut mengklaim Brandon Bernard merupakan orang yang membakar mobil yang mana ada keluarga Bagley di dalamnya. Walaupun, saksi pada peristiwa tersebut memberikan keterangan di persidangan bahwa ia tidak melihat dengan jelas siapa pelakunya.

Bernard yang saat itu berusia 18 tahun sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk dijatuhi hukuman mati. Namun, seperti kebanyakan orang yang dijatuhi hukuman mati, Bernard tidak sanggup menyewa pengacara berpengalaman maupun terkenal. Jadi, ia hanya diwakili oleh pengacara yang sudah ditunjuk pengadilan tanpa pengalaman hukuman mati federal.

To Top