News

Banyak Warga Ngotot Mudik, Gerindra: Jangan Sampai Seperti India!

Banyak Warga Ngotot Mudik, Gerindra: Jangan Sampai Seperti India!

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Gerindra Habiburokhman menyoroti warga yang ‘ngotot’ mudik dan menerobos pos penyekatan. Habiburokhman mengaku prihatin dengan ‘fenomena’ itu.

“Realitas di lapangan, jumlah orang-orang yang ngotot mudik begitu banyak. Sementara jumlah aparat dan perlengkapan sangat terbatas. Kita prihatin sekali. Aparat kita sudah berupaya maksimal mengamankan kebijakan larangan mudik. Mereka berjaga siang dan malam mempertaruhkan kesehatan,” kata Habiburokhman, Selasa (11/4/2021).

Habiburokhman mengatakan kebijakan larangan mudik bertujuan agar dapat menekan penyebaran Covid-19 di Tanah Air. Dan, kebijakan itu diambil untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Politikus Gerindra itu juga mengingatkan tsumani Covid-19 yang saat ini melanda India. Dia berharap kejadian itu tidak melanda Indonesia.

“Kita harus sadarkan rakyat bahwa kebijakan larangan mudik itu untuk kepentingan kita bersama. Jadi, bukan hanya kepentingan pemerintah. Sudah begitu banyak contoh saudara-saudara kita yang meninggal karena Covid-19. Jangan sampai situasi menjadi parah seperti India,” terang dia.

Habiburokhman kemudian menyoroti pihak yang melakukan provokasi mudik. Menurut dia, pihak tersebut telah berbuat zalim. Oleh karenanya, diperlukan tindakan tegas untuk pihak yang dimaksud agar timbul efek jera.

“Untuk pihak-pihak yang memprovokasi mudik, apalagi dengan melawan aparat, saran saya harus dilakukan penegakkan hukum. Orang seperti itu sangat zalim karena membahayakan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Provokasi mudik sangat membahayakan umat Islam dan masyarakat secara keseluruhan karena berpotensi menjadi kluster penyebaran Covid-19,” sambung anggota DPR RI itu.

Epidemiolog: Pemudik Tak Memikirkan Covid-19 Lagi

Sementara itu, epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menilai para pemudik yang menerebos penyekatan sudah tidak lagi peduli dengan keberadaan Covid-19. Menurut dia, yang ada dipikiran para peudik adalah ingin merayakan Lebaran di kampung halaman.

“Massa ini, mereka tak akan peduli, memikirkan virus lagi. Orang memikirkan keinginan yang sudah lama, kemudian masalah keterbatasan yang belum dapat solusi efektif,” kata Dicky, Senin (11/5/2021).

Dicky kemudian menyoroti ‘fenomena’ warga negara asing (WNA) masuk ke Indonesia saat kebijakan pelarangan mudik dijalankan. Menurut dia, pemerintah tidak konsisten dalam mengambil kebijakan untuk menekan penyebaran Covid-19 di Tanah Air.

“Yang terjadi saat ini, banyak hal. Pemerintah tidak konsisten. Ada kebijakan pengetatan, di sisi lain pelonggaran. Ada kebijakan mengetatkan, tidak boleh mudik, tapi terkesan ada pelonggaran, ketika masuk arus WNA. Atau, pelonggaran di aspek lain, ini menimbulkan distrust (ketidakpercayaan).

Dicky mengatakan persoalan pelarangan mudik semestinya diantisipasi sejak jauh-jauh hari. Namun, dia mengingatkan agar mempersiapkan penanganan arus balik terhadap warga yag sudah terlanjur mudik.

“Apa yang harus dilakukan? Penguatan respons antisipasi pasca-mudik. Sulit saya bilang, sulit. Sudah nggak bisa kita melawan (massa) dalam kondisi ini. Ada faktor trust,” tegasnya.

Terobos Penyekatan

Pada Minggu (9/5) malam, banyak pemudik yang ngotot mencoba lolos penyekatan di Kedungwaringin, Bekasi, Jawa Barat. Polisi, pada akhirnya, meloloskan para pemudik itu dengan alasan mengurangi kerumunan yang dapat berpotensi menjadi kluster baru Covid-19.

“Ratusan pemudik yang mencoba ya. Ini bahasanya bukan menerobos ya. Ini memang kita kelola, kita alirkan, ini adalah diskresi kepolisian. Kalau sudah terjadi penumpukan yang besar, ini terjadi sebuah kerumunan penumpukan yang kita hindari adalah menjadikan klaster baru di kerumunan antrean tersebut,” terang Kakorlantas Polri Irjen Istiono, Senin (10/5/2021).

Hal serupa kembali terjadi pada Senin (10/5) malam. Lagi-lagi para pemudik lolos dari penyekatan polisi tanpa dilakukan pemeriksaan.

To Top