News

Berawal Dari Amandemen Konstitusi, Guinea Kini Diterjang Kudeta

Kudeta Di Guinea

Kudeta telah terjadi di Guinea, yang merupakan salah satu negara di kawasan Afrika Barat. Kudeta tersebut terjadi setelah adanya amandemen konstitusi pada 2020 yang memungkinkan seorang presiden menjabat selama 3 periode.

Melansir dari AFP, Senin (6/9/2021), kudeta dilakukan pada Minggu (5/9/2021) oleh pasukan khusus negara tersebut. Selain membubarkan konstitusi, mereka juga memberlakukan jam malam.

“Kami telah memutuskan, usai menangkap presiden, untuk membubarkan konstitusi,” ujar seorang perwira yang diapit oleh tentara bersenjata dalam sebuah rekaman video.

Petugas tersebut mengumumkan perbatasan darat maupun udara Guinea telah ditutup dan pemerintah sudah dibubarkan. Ada pula rekaman lain yang menampilkan Presiden Alpha Conde tengah duduk di sofa dengan dikelilingi oleh pasukan.

Conde yang merupakan presiden Guinea saat ini adalah mantan pemimpin oposisi yang pernah dihukum penjara serta dijatuhi hukuman mati. Ia lalu menjadi pemimpin pertama negara itu yang terpilih secara demokratis pada 2010 silam. Ia kembali memenangkan pemilihan pada 2015.

Lihat Juga: Militer Kudeta Myanmar, Aung San Suu Kyi Ditahan Hingga Desakan Amnesty International

Ia selamat dari percobaan pembunuhan pada 2011, namun belakangan Alpha Conde dituduh terlena dalam otoritarianisme. Hal tersebut berawal dari pemilihan presiden pada Oktober 2020. Pemilu tersebut dianggap diwarnai dengan kekerasan serta tuduhan kecurangan.

Conde yang kembali maju dalam Pemilu 2020, memenangkan masa jabatan ke-3. Masa jabatan ketiganya itu ia dapat usai mendesak perubahan konstitusi pada Maret 2020 yang memungkinkannya untuk menghindari batas 2 masa jabatan presiden di negara tersebut.

Selain ratusan orang ditangkap, puluhan orang juga tewas dalam demonstrasi melawan masa jabatan ke-3 untuk Conde. Pada 7 November 2020, Conde kemudian diproklamasikan sebagai presiden.

Salah satu penentangnya adalah Cellou Diallo serta tokoh oposisi lainnya menganggap pemilu tersebut sebagai tipuan. Pemerintah lalu menangkap sejumlah anggota oposisi terkemuka dengan dugaan bersekongkol dalam kekerasan pemilihan umum di Guinea.

Sementara militer menanggap Conde salah mengurus negaranya hingga menjadikan negara kaya sumber daya mineral itu menjadi salah satu negara termiskin di dunia.

Kudeta ini pun menuai kecaman internasional, dalam cuitannya di Twitter, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan pembebasan Alpha Conde. Selain itu, Ketua Uni Afrika, Presiden DR Kongo Felix Tshisekedi, serta mantan perdana menteri Chad Moussa Faki Mahamat juga mengutuk kudeta tersebut.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top