News

Cukai Rokok Naik Tahun Depan, Ini Janji Sri Mulyani

Cukai Rokok Naik Tahun Depan, Ini Janji Sri Mulyani

Mulai 2021 cukai rokok naik rata-rata 12,5 %. Menkeu Sri Mulyani berjanji akan meningkatkan kesejahteraan petani tembakau dan buruh industri tembakau. Pemerintah bakal menggunakan dana bagi hasil tembakau tersebut untuk membantu masyarakat terutama yang menopangkan hidupnya dari hasil tembakau.

“Kita juga minta 50% dari dana bagi hasil ini sekarang ditujukan bagi petani, buruh tani tembakau maupun buruh rokok. Ini tujuannya adalah mereka bisa menikmati kesejahteraan yang lebih dari hasil cukai hasil tembakau ini,” terangnya saat konferensi pers APBN, Senin (21/12/2020).

Lihat Juga: Ekonomi Indonesia Diprediksi Nyungsep, Sri Mulyani Wajib Bertanggung Jawab

Saat ini alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau untuk bidang kesehatan sebesar 50%. Hal tersebut berdasarkan Peraturan Kementerian Keuangan Nomor 7/PMK.07/2020 tentang Penggunaan, Pemantauan, Dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. Namun mulai tahun 2021 mendatang bakal dilakukan perubahan komposisi. Di mana penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau sebanyak 25% untuk bidang kesehatan.

“Penggunaan dana bagi hasil cukai 25% masih untuk bidang kesehatan, terutama untuk membantu masyarakat yang tidak bisa mengiur JKN (jaminan kesehatan nasional) kita, dan juga untuk meningkatkan prevalensi dari merokok dan stunting sehingga kesehatan masyarakat menjadi lebih baik,” jelasnya.

Sedangkan itu 25% sisanya digunakan untuk penegakan hukum atau law enforcement.

“Kita harapkan akan bisa menyeimbangkan policy (kebijakan) yang berhubungan dengan cukai hasil tembakau. Jadi tidak hanya melulu dari sisi penerima negara tapi belanjanya ditujukan untuk membantu bidang kesehatan, buruh maupun petani kita,” tambahnya.

Dikutip dari detikcom, Sulami Bahar, Ketua Gabungan Pabrik Rokok Surabaya menuturkan tahun ini cukai rokok naik 23% dan harga jual eceran 35%.

Lihat Juga: Anies VS Sri Mulyani, Pemrov DKI tagih Utang Pajak 5,2 T

“Dengan adanya kenaikan itu saja kami mengalami penurunan produksi. Terus ditambah lagi dengan tentunya pandemi COVID. Artinya ini kan sangat berat sekali sehingga kami mengalami produksinya turun sekitar 30%-35% dengan adanya kenaikan tarif dan pandemi,” jelasnya.

Kini para buruh pun dihantui dengan ancaman PHK karena cukai rokok naik. Karena kenaikan itu dinilai memberatkan di tengah pandemi  dan beban kenaikan cukai pada awal tahun. Beruntungnya, sejauh ini PHK masih bisa dicegah di industri rokok walaupun perekonomian terus digoyang akibat dari merebaknya virus Corona.

To Top