News

Demokrat Berduka, Istri Sarwo Edhie Wibowo, Ibu Mertua SBY Wafat

Demokrat Berduka, Istri Sarwo Edhie Wibowo, Ibu Mertua SBY Wafat

Ibu dari Ani Yudhoyono dan mantan KSAD Pramono Edhie Wibowo, Sunarti Sri Hadiyah adalah istri Sarwo Edhie Wibowo, yang merupakan tokoh penumpasan G30S 1965. Ia kerap dipanggil dengan sebutan Ibu Ageng.

“Telah berpulang, almh Ibu Ageng atau Sunarti Sri Hidayah Sarwo Edhie Wibowo binti Danu Sunarto, ibunda almh Ibu Ani Yudhoyono, nenek Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, pada usia 91 tahun,” ucap Herzaky Mahendra Putra, Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat, Senin (21/9/2021).

Herzaky mengatakan, jenazah saat ini disemayamkan di rumah duka yang berada di kawasan Condet, Jakarta Timur, sebelum diberangkatakan ke Purworejo pada malam nanti.

“Almh akan dimakamkan besok hari di pemakaman keluarga di Purworejo, Jawa Tengarh,” kata Herzaky.

Kabar wafatnya Ibu Ageng juga disampaikan oleh Agus Harimurti Yudhoyono melalui akun Instagram pribadinya. Agus menilai neneknya adalah sosok pengayom di keluarga.

“Bu Ageng merupakan sosok ibu dan eyang panutan yang selama ini selalu bijaksana, penuh semangat dan cinta, serta selalu jadi pengayom keluarga. Sosoknya sangat berkesan mendalam di hati kita semua,” kata AHY.

Sekilas Tentang Sarwo Edhie Wibowo

Sang suami sendiri, yaitu Sarwo Edhie Wibowo pernah menjadi Ketua BP-7 Pusat, Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan dan Gubernur AKABRI. Sarwo Edhie berperan besar dalam pemberantasan Pemberontakan G30S dengan posisinya sebagai panglima RPKAD (saat ini menjadi Kopassus).

Pada 1 Oktober 1965, 6 jenderal, termasuk Ahmad Yani diculik dan dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Pada saat bersamaan, sekelompok pasukan tidak dikenal menduduki Monas, Istana Kepresidenan, RRI, dan Gedung telekomunikasi.

Sarwo Edhie dan pasukan RPKAD memulai hari seperti biasanya di markas RPKAD Cijantung, Jakarta. Lalu Koloner Herman Sarens Sudiro datang dan mengatakan bahwa dirinya membawa pesan dari markas Kostrad serta menginformasikan situasi Jakarta.

Sudiro juga memberitahu Sarwo Edhie Prabowo bahwa Mayor Jenderal Soeharto yang saat itu menjabat Panglima Kostrad diperkirakan akan memimpin Angkatan Darat. Setelah berpikir, Sarwo Edhie mengirim Sudiro untuk kembali dan menitipkan pesan bahwa dirinya akan berada di pihak Soeharto.

Lihat Juga: Daftar Pasukan TNI yang Terlibat dalam Pemberontakan G30S PKI

Usai Sudiro pergi, Komandan Cakrabirawa Brigjen Sabur mengunjungi Sarwo Edhi dan memintanya untuk bergabung dengan Gerakan G30S. Sarwo Edhi mengatakan kepada Sabur bahwa dirinya akan berada di pihak Soeharto.

Pukul 11.00, Sarwo Edhie Prabowo tiba di markas Kostrad dan mendapat tugas untuk merebut gedung RRI dan telekomunikasi pada pukul 18.00. Saat pukul 18.00 tiba, Sarwo Edhie memeritahkan pasukannya untuk kembali merebut bangunan yang dimaksud. Hal ini berhasil dicapai tanpa banyak perlawanan, sebab pasukan tersebut mundur ke Halim dan bangunan dapat diambil alih pukul 18.30.

Melihat situasi Jakarta yang kondusif, Soeharto ternyata membidik Pangkalan Udara Halim. Tempat tersebut merupakan tempat para Jenderal yang diculik dibawa ke basis Angkatan Udara yang memperoleh dukungan dari Gerakan G30S.  

Soeharto lalu memerintahkan Sarwo Edhie Prabowo untuk merebut Pangkalan Udara. Serangan tersebut dimulai pada 2 Oktober pukul 02.00 dini hari. Tepat pukul 06.00 pagi, Sarwo Edhie bersama RPKAD berhasil merebut kembali Pangkalan Udara.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top