News

Dialami Sri Lanka, Ini yang Terjadi Jika Negara ‘Bangkrut’

Sri Lanka Bangkrut

Pandemi COVID-19 hingga konflik Rusia vs Ukraina membuat dunia dalam situasi yang begitu mengerikan. Krisis melanda berbagai sektor, mulai dari Kesehatan, keuangan, pangan hingga energi. Salah satu yang mengalami imbas cukup parah adalah negara Sri Lanka.

Sri Lanka dinyatakan bangkrut akibat tidak mampu membayar utang. Hal ini karena fundamental negaranya tidak bisa menopang dampak global.

Apalagi seluruh komoditas pangannya impor sehingga ketika harga global naik defisit anggarannya pun meningkat akibat belanja yang membengkak.

5 Negara yang Pernah Bangkrut Seperti Sri Lanka

Seperti Sri Lanka, berikut 5 negara yang pernah dinyatakan ‘bangkrut’.

1. Yunani

Melansir berbagai sumber, Yunani tidak mampu membayar utang sebesar US$138 miliar atau Rp1.987 triliun (kurs Rp14.400 per US$) pada tahun 2012 lalu.

Kemudian, Yunani disebut bangkrut pada 2015 karena utangnya terus naik hingga US360 miliar atau Rp5.184 triliun. Kenaikan utang tersebut membuat jumlah orang miskin di negara itu meningkat.

Jumlah tunawisma naik 40% pada 2015. Sedangkan angka pengangguran melonjak dari 10,6% pada 2004 jadi 26,5% pada 2014. Pada 2017 Yunani mulai Kembali ke pasar obligasi internasional setelah sebelumnya sempat hilang karena krisis utang.

2. Argentina

Argentina dinyatakan default (gagal bayar) sebab tidak bisa membayar utang ke kreditur. Hal ini bermula dari kebijakan pemerintah Argentina yang menetapkan US$1 setara dengan 1 peso Argentina.

Namun, mata uang Argentina dengan dolar Amerika Serikat jadi tidak akurat. Situasi tersebut menimbulkan kepanikan yang membuat masyarakat menarik uangnya di bank. Pada tahun 2005 dan 2010, Argentina memanggil seluruh kreditur untuk mendiskusikan restrukturisasi utang sebesar US$100 miliar (Rp1.440 triliun).

Untungnya, mayoritas kreditur sepakat dengan skema restrukturisasi dari Argentina. Tetapi, pemerintah mengajukan pinjaman lagi senilai US$50 miliar (Rp720 triliun) ke Dana Moneter Internasional alias International Monetary Fund (IMF) pada 2018.

Lihat Juga: Sri Lanka Terjebak Utang China, Bagaimana dengan Indonesia?

Argentina mengajukan utang untuk menangani krisis ekonomi yang saat itu tengah terjadi. Krisis tersebut diakibatkan oleh inflasi yang tinggi, sehingga mata uang peso Argentina menurun sampai 40% sepanjang 2018.

Sementara Argentina pada tahun ini mengaku tidak bisa membayar utang ke IMF senilai US$45 miliar (Rp648 triliun) karena tidak punya dana untuk membayarnya.

3. Zimbabwe

Pada tahun 2008, Zimbabwe terjebak utang US$4,5 (Rp64,8 triliun). Angka penganguran di negara itu pun naik hingga 80%. Masyarakat Zimbabwe kemudian berhenti menggunakan bank. Bahkan, mereka juga tidak membayar pajak dan tidak menggunakan mat auang nasional sebagai alat transaksi.

Selain itu, Zimbabwe juga dilanda hiperinflasi di mana harga bahan-bahan pokok tidak dapat dijangkau masyarakat. Dengan begitu, uang seperti tidak ada artinya bagi masyarakat selama harga barang terus naik. Mereka pun memilih untuk menggunakan sistem barter.

4. Venezuela

Seperti Sri Lanka, Venezuela juga sempat disebut sebagai negara bangkrut. Pada 2017, Presiden Nicolas Maduro mengatakan Venezuela tidak bisa membayar semua utangnya. Ia mengaku negaranya dan perusahaan minyak milik negara akan meminta restrukturisasi atas pembayaran utang.

Ia menyebut perusahaan minyak negara sudah melunasi utang senilai US$1,1 miliar (Rp1.584 triliun). Jumlah ini disebut cukup banyak untuk sebuah negara yang kini hanya punya dana US$10 miliar (Rp144 triliun) di bank.

Saat utang melonjak, jumlah orang miskin pun ikut naik. Sebagian besar masyarakat tidak bisa membeli bahan pokok karena tingginya harga sementara upah kerja tidak mengalami kenaikan.

5. Ekuador

Pada tahun 2008 lalu Ekuador mengumumkan tidak mau membayar utang. Pemerintah menyampaikan utang dari hedge fund asal Amerika Serikat tidak bermoral.

Lihat Juga: Dunia Terancam Krisis Energi, Bagaimana Dengan RI?

Ekuador sebetulnya mampu melunasi utang US$10 miliar (Rp144 triliun). Negara tersebut juga memiliki cukup banyak sumber daya alam.

Namun, pemerintah memilih untuk tidak membayar utang. Saat itu, pemerintah mengklaim utang negara di masa lalu dikarenakan aksi korupsi di masa pemerintahan sebelumnya.

IMF pun mencatat ekonomi negara itu masih tumbuh. Pada tahun 2014 misalnya, pertumbuhan ekonomi Ekuador sebanyak 5,1% pada 2012.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

16 − six =

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top