News

Horor Penembakan Massal Thailand, Tewaskan 31 Orang Termasuk Anak-anak

Penembakan Massal

Setidaknya 31 orang termasuk anak-anak tewas dalam penembakan massal yang terjadi di wilayah timur laut Thailand pada Kamis (6/10).

Berdasarkan laporan BBC, penembakan ini berlangsung di taman kanak-kanak di wilayah tersebut dan di antara korban tewas terdapat anak-anak. 

Ini bukanlah pertama kalinya Thailand mengalami penembakan massal. Pada 2020, seorang tentara yang marah sempat menembakkan senapan ke arah kerumunan di Kota Nakhon Ratchasima.

Akibat insiden ini, setidaknya 29 orang tewas dan 57 lainnya luka-luka. Tentara tersebut, yang bernama Jakrapanth Thomma, kemudian ditembak mati. Tentara itu mendapatkan senjata dan amunisi dari pangkalan militernya.

Sebagaimana diberitakan Reuters, kebanyakan korban berada di pusat perbelanjaan Terminal 21 di kota itu.

“Itu mengerikan karena saya terus mendengar suara tembakan. Kami menunggu lama sampai polisi datang dan menolong kami, beberapa jam,” kata salah satu saksi, Suvanarat Jirattanasakul.

Seorang saksi mata lain mengatakan kepada media Amarin TV bahwa penembak menyasar “kepala orang.” Ia juga menuturkan rekannya mati dalam insiden tersebut.

Pelaku Penembakan Massal Thailand Ditemukan Bunuh Diri

Pelaku penembakan massal di tempat penitipan anak di Thailand dilaporkan menembak mati diri sendiri usai melancarkan aksinya. Pelaku diketahui merupakan seorang mantan anggota polisi.

Kepolisian Thailand mengatakan pelaku turut membunuh anak dan istrinya sebelum mengakhiri hidupnya.

Dikutip Reuters, selain membawa senjata, pria tersebut juga membawa pisau. Melansir BBC, pelaku aku diidentifikasi bernama Panya Kamrab berusia 34 tahun.

Panya juga sempat kabur dari tempat kejadian menggunakan truk pikap putih tak lama setelah melancarkan aksinya hingga memicu pengejaran oleh polisi. Saat kabur, Panya juga sempat menabrakan mobilnya ke arah kerumunan pejalan kaki di jalan.

Kambrab dipecat tahun lalu dari kepolisian karena kedapatan menggunakan obat-obatan terlarang.

Tak Ada WNI Korban Penembakan Massal di Thailand

Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) menyatakan tidak ada warga Indonesia (WNI) yang menjadi korban tewas dalam penembakan massal Thailand pada Kamis (6/10) siang.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kemlu RI, Judha Nugraha, mengatakan Kedutaan Besar RI di Bangkok sudah berkoordinasi dengan Kemlu Thailand dan simpol WNI di sana, terutama di Distrik Nong Bua, Provinsi Lamphu, tempat kejadian berlangsung.

“Hingga saat ini tidak terdapat informasi adanya WNI yg menjadi korban peristiwa penembakan di Distrik Nong Bua, Provinsi Lamphu Thailand,” ucap Judha kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat.

Marak Penembakan Massal, Betapa Mudahnya Mendapat Senjata

Kepemilikan senjata di Thailand relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Namun penembakan massal di negara itu jarang terjadi. Tetapi pada 2020, sebuah penembakan terjadi di sebuah lokasi militer di dekat sebuah pusat perbelanjaan. Kejadian itu menewaskan 29 orang.

Di Amerika Serikat, penembakan di sekolah dasar Robb Elementary, Uvalde, Negara Bagian Texas, menandai peristiwa penembakan massal di sekolah ke-30 di tahun ini. Sedikitnya 19 siswa dan 2 orang dewasa tewas dalam kejadian ini.

Seorang remaja kulit putih melepaskan tembakan di sebuah supermarket di lingkungan komunitas kulit hitam di Buffalo, New York, hingga menewaskan 10 orang. Pihak berwenang menyebut tindakan remaja laki-laki itu bermotif kebencian rasial.

Sehari setelah insiden Buffalo, penembakan kembali terjadi di sebuah gereja di California pada Minggu (15/5), menewaskan satu orang dan melukai lima orang.

Penembakan di Texas adalah salah satu insiden penembakan di sekolah yang terburuk peristiwa di SMU Marjory Stoneman Douglas di Parkland, Florida, Februari 2018 yang menewaskan 17 orang.

Orang Amerika bisa membeli senjata dengan mudah hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Di negara lain, proses pembelian senjata bisa makan waktu berbulan-bulan. Tapi itu tetap tidak mengurangi angka kematian akibat penembakan massal, salah satunya penembakan massal Thailand.

Senjata api dapat ditemukan di ratusan toko di AS, mulai dari partai besar seperti Walmart, hingga skala yang lebih kecil seperti Ken’s Sporting Goods & Liquor Store. Puluhan pameran senjata hampir setiap akhir pekan digelar di seluruh negara bagian Amerika Serikat. Tak jarang, sejumlah orang juga membeli senjata api dari tetangga atau bahkan anggota keluarganya.

Meski penjualan senjata api dapat dipantau oleh sistem FBI, namun penjualan senjata api ilegal masih banyak ditemukan. Dalam sebuah pameran senjata api, pembeli tidak harus mengisi formulir pemeriksaan latar belakang.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top