News

Ini 5 Fakta Penemuan Jasad Mahasiswa IPB Terseret Banjir Sejauh 80KM

Mahasiswa IPB

Pencarian mahasiswa IPB, bernama Adzra alias Ara, yang terseret banjir di Bogor, berakhir. Jasad Ara ditemukan di Tambora, Jakarta Barat.

Ara hilang sejak Selasa (11/10) sore. Saat itu, Ara terperosok ke gorong-gorong bersama motor yang dikendarainya saat banjir melanda kawasan jalan yang dilaluinya.

Sebelum terseret banjir, korban sempat terekam kamera handphone seorang pengendara mobil. Tampak korban melaju pelan di sisi kanan jalan.

Ara kemudian terdorong arus air dan terjatuh ke gorong-gorong di sisi kanan Jalan Dadali, Kota Bogor. Warga menyebut gorong-gorong itu mengalir langsung ke Sungai Ciliwung.

Berikut fakta terkini seputar penemuan jasad Ara:

1. Ditemukan Dari Ciri-Ciri Fisik Khusus

Jasad mahasiswa IPB Ara ditemukan. Ia ditemukan oleh polisi dan Basarnas.

“Berdasarkan ciri-ciri baju dan gelang yang dikenakan di tangan kanan korban, diduga kuat bahwa jenazah tersebut adalah korban yang terseret arus banjir kejadian di Tanah Sereal, Bogor,” ujar Kapolsek Tambora Kompol Putra Pratama saat dimintai konfirmasi, Minggu (16/10/2020).

Pihak keluarga dihubungi polisi terkait penemuan jasad diduga Ara. Keluarga langsung mengenali jenazah Ara dari pakaian dan tanda khusus di tubuhnya.

“Iya masih di Jakarta, ada papanya sama kakaknya di sana. Dikenali dari bajunya, terus kaus yang dipakai itu kan papahnya yang beliin di sana (di Turki), dari gelangnya, dari giginya, dari kakinya kan dulu pernah kena air panas ya, jadi itu tanda-tandanya,” kata Ibu kandung korban Sri Astuti ditemui di rumahnya.

Sementara itu, tetangga keluarga korban bernama Untung mengatakan pihak keluarga sedang mengurus serah terima di Polsek Tambora.

“Tadi saya ketemu ibunya, sudah dipastikan ciri-cirinya sesuai. Cirinya itu, dia ada pakai kaus pemberian ayahnya yang di Turki, pernah dikirim dari turki oleh ayahnya, terus di kaki itu ada tanda bekas kena siram air panas, terus sama di gigi ada ciri khasnya,” terang Untung.

2. Terseret Sejauh 80 KM

Badan SAR Nasional (Basarnas) mengungkap jenazah Ara ditemukan radius 80 kilometer dari lokasi jatuh di Tanah Sereal, Bogor.

“(Radiusnya) 80 kilometer,” kata Humas Kantor SAR Jakarta Ramli Prasetio.

Namun sebelumnya, anggota Badan SAR Nasional (Basarnas), Rizky, saat ditemui di lokasi, mengungkap jasad Ara hanya terseret arus hingga 30 kilometer.

“Untuk radius kurang lebih 30-an kilometer dari lokasi kejadian. Kemungkinan hanyut sampai ke kali BKB (Banjir Kanal Barat),” kata Rizky.

3. Isak Tangis Keluarga dan Sahabat Iringi Kedatangan Ara

Ambulans yang membawa jenazah Ara tiba di rumah duka sekitar pukul 17.00 WIB (16/10). Puluhan mahasiswa IPB juga nampak berjejer di sisi gang menyambut kedatangan jenazah Ara. Tangisan keluarga dan teman Ara pecah.

Terlihat ayah kandung Ara, Sulhan tak kuasa menahan tangis atas kepergian Ara. Ia tampak tak kuat berjalan hingga harus dipapah oleh anak dan kerabatnya masuk ke dalam rumah. Berbeda dengan sang ayah, Ibunda korban lebih tegar saat menyambut jenazah sang anak.

“Ibu bapaknya, bapaknya itu kerja di Turki, jadi chef di hotel di Turki. Bapaknya ini memang lama tinggal di Turki, terakhir pulang itu 2 tahun lalu. Nah sekarang baru pulang lagi pas ada kejadian ini dia (Sulhan, red), baru dua hari lalu pulang,” kata Paman Ara bernama Warham (63) ditemui di rumah duka di Perumahan Bumi Pertiwi, Kelurahan Cilebut Timur,

Tidak lama setelah disemayamkan di rumah duka, jenazah Ara langsung dibawa ke mesjid untuk disalatkan.

4. Penyebab Jasad mahasiswa IPB Ara Terseret Jauh

Kuat dugaan mahasiswa IPB Ara memang terseret arus lantaran status Katulampa dilaporkan siaga tiga sejak Sabtu (15/10) malam. Hal itu menyebabkan Ara terseret hingga Tambora, Jakarta Barat.

“Kemungkinan untuk korban memang terbawa hanyut aliran banjir. Karena memang kebetulan dari hari pertama sampai hari terakhir ini, terakhir semalam untuk Katulampa masuk, memasuki siaga ketiga. Siaga tiga berarti arus cukup kencang sehingga korban sampai terbawa arus sampai ke kali BKB ini,” tutur Rizky, salah seorang petugas Basarnas.

5. IPB Ubah Jam Belajar

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria mengatakan, pihak kampus sudah berkoordinasi dengan Badan Meterorologi Klimatologindan Geofisika (BMKG) untuk mengetahui prakiraan cuaca di Bogor. Koordinasi dilakukan usai mahasiswa IPB, Adzra Nabila terseret banjir.

Koordinasi bertujuan untuk menyesuaikan metode pembelajaran mahasiswa IPB jika cuaca ektrim. Pihak kampus akan melakukan penyesuaian metode pembelajaran sesuai dengan kondisi cuaca.

“Ini adalah sebuah hikmah, yang penting bagi kami kampus akan melakukan langkah-langkah antisipasi, yang pertama adalah metode pembelajaran,” kata Arif Satria usai pemakaman mahasiswa IPB, Adzra Nabila alias Ara di Cilebut Timur Bogor, Minggu (10/10/2022).

Proses perkuliahan bagi mahasiswa, kata Arif, bisa dilakukan tidak dengan tanpa tatap muka atau mengatur jadwal kuliah. Hal itu untuk mengurangi resiko dampak cuaca ekstrim bagi mahasiswa dan dosen.

Selain itu, kata Arif, pihak kampus juga akan terus melakukan pengecekan kondisi pohon-pohon di Kota Bogor dan di dalam kampus sebagai antisipasi pohon tumbang akibat cuaca ekstrim.

“Kedua kami akan terus melakukan arborikultur, upaya untuk pemeriksaan pohon-pohon yang ada di dalam kampus, itu juga upaya dari kami untuk mengurangi risiko masalah di saat cuaca ekstrem,” katanya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top