News

Jalanan Ukraina Penuh Mayat Pasukan Rusia dan Bangunan yang Hangus Terbakar

Mayat Pasukan Rusia

Pasukan Ukraina berhasil merebut kembali kota Lyman yang diduduki Rusia. Kondisi kota hancur akibat perang. Mayat pasukan Rusia bersebaran dan banyak bangunan yang hangus terbakar di jalan.

Usai mengalami kekalahan signifikan di Kharkiv, Rusia kini mulai mengalami kekalahan di Kherson, Ukraina. Peta pendudukan Rusia terus menyusut, seiring serangan balik pasukan Kiev yang berhasil membebaskan kembali wilayahnya.

Di kota Lyman yang berada di front timur, banyak mayat pasukan Rusia di jalanan, ditinggal begitu saja oleh rekannya yang mundur karena pengepungan pasukan Ukraina.

Sedangkan di front selatan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim pasukannya telah membebaskan puluhan desa dari pendudukan tentara Moskow.

Dipukul Mundur, Tinggalkan Mayat Pasukan Rusia

Pasukan Rusia pekan lalu dikabarkan telah mundur dari kota Lyman, kota strategis yang jadi pusat logistik dan transportasi. Mundurnya pasukan Moskow untuk menghindari pengepungan pasukan Kiev yang melakukan serangan balik. Mereka bahkan tidak sempat membawa mayat pasukan Rusia lainnya.

Melansir Associated Press, kota Lyman yang baru saja dibebaskan adalah titik penting untuk membebaskan wilayah Ukraina lainnya. Sekitar 18 mayat pasukan Rusia juga tergeletak begitu saja di jalanan.

Presiden Zelensky mengatakan bahwa pasukannya telah merebut kembali lebih banyak wilayahnya, meski wilayah tersebut baru saja melakukan referendum semu yang dilakukan pihak Rusia.

Puluhan Kota dan Desa di Kherson Direbut Kembali Oleh Pasukan Ukraina

Presiden Zelenskyy mengklaim bahwa pasukan Ukraina telah membebaskan puluhan pusat populasi yang berada di wilayah Kherson, Kharkiv, Luhansk dan Donetsk. Sebagai informasi, empat wilayah itu baru saja mengadakan referendum yang dinilai palsu oleh Ukraina dan sekutu Barat.

“Tentara Ukraina maju dengan cara yang cukup cepat dan kuat di selatan dalam konteks operasi pertahanan saat ini,” kata Zelenskyy dikutip dari Al Jazeera.

Kementerian Pertahanan Ukraina menyebut bahwa pasukan Rusia di Kherson mengalami demoralisasi. Mereka menghancurkan gudang amunisi sendiri dan jembatan untuk memperlambat kemajuan pasukan Kiev.

Wakil Menteri Dalam Negeri Ukraina, Yevhen Enin, menjelaskan bahwa pasukannya telah merebut kembali 50 kota dan desa di Kherson. Dia tidak menyebutkan kapan peristiwa itu terjadi dan kota atau desa apa saja yang berhasil direbut.

Pasukan Rusia usai rebut kota Lyman

Dukungan Untuk Ukraina, Putin Kian ‘Tak Berdaya’

Presiden Republik Ceko, Estonia, Latvia, Lituania, Makedonia Utara, Montenegro, Polandia, Slovakia dan Rumania menyatakan dukungan tegas mereka untuk “keputusan KTT NATO Bucharest 2008 mengenai keanggotaan masa depan Ukraina di Aliansi.”

“Kami menegaskan kembali dukungan kami untuk kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina. Kami tidak mengakui dan tidak akan pernah mengakui upaya Rusia untuk mencaplok wilayah Ukraina manapun,” kata pernyataan bersama.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan Ukraina membuat kemajuan dalam perang dengan Rusia,

“Keuntungan Ukraina ini menunjukkan bahwa Ukraina membuat kemajuan, mampu mendorong kembali pasukan Rusia,” kata Stoltenberg

Rusia Terjebak Operasi Militernya Sendiri

Rusia terlihat semakin kewalahan seperti kurang pasukan setelah banyak mayat pasukan Rusia tercecer dalam menghadapi serangan Ukraina di beberapa wilayah yang mereka duduki. 

Menghadapi kondisi ini, presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial yang memaksa warga dalam kategori tertentu untuk mengikuti wajib militer.

Kebijakan ini ditentang oleh warga Rusia, dengan banyak dari mereka melangsungkan demo. Sementara itu, beberapa lainnya memilih kabur dari Negeri Beruang Merah. Beberapa keluarga juga mengajukan protes meminta mayat pasukan Rusia yang gugur untuk diambil.

Sebagaimana diberitakan CNN, Kremlin sejauh ini menolak ide mobilisasi massal. Pengamat Rusia juga menilai Putin tak bakal menerapkan itu.

Alasannya, Putin dinilai tahu bahwa penerapan mobilisasi massal ini terbukti tak populer. Langkah itu juga berpotensi mengubah citra “operasi militer khusus” yang ditampilkan Rusia saat ini sebetulnya adalah perang.

Pendapat ini juga diyakini oleh peneliti Pusat Strategis dan Studi Internasional (CSIS) Waffaa Kharisma.

“Kalau Rusia menambah mobilisasi terlalu besar, mereka akan keluar dari narasi ‘operasi militer khusus’ yang selama ini dipertahankan. Makin bisa dikritik dan makin tidak bisa dibela negara negara yang selama ini ragu menekan,” kata Waffaa.

Menurut Waffaa, langkah tersebut tidak akan populer di dalam Rusia, pun mengganggu “stabilitas negaranya sendiri.”

Selain itu, Waffaa mengungkapkan bahwa sejak Putin mengumumkan mobilisasi parsial, keresahan mulai terjadi di dalam negeri Rusia.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top