News

Kabareskrim: Jangan Tarik-tarik Polri Soal Firli Bahuri, ICW Jawab Begini

Kabareskrim: Jangan Tarik-tarik Polri Soal Firli Bahuri, ICW Jawab Begini

Indonesia Corruption Watch (ICW) mengadukan Ketua KPK Firli Bahuri Bareskrim Polri terkait dugaan gratifikasi sewa helikopter. ICW menyebut Firli menyewa helikopter dengan harga yang tidak sesuai dengan apa yang dipaparkannya di hadapan Dewas KPK dalam sidang dugaan pelanggaran etik.

Menanggapi hal itu, Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto meminta ICW tidak membawa-bawa Polri terkait dugaan gratifikasi tersebut. Agus menegaskan saat ini pihaknya ‘disibukkan’ dengan penanganan pandemi Covid-19.

“Mohon jangan tarik-tarik Polri. Energi kita fokus kepada membantu percepatan penanganan pandemi Covid-19 berikut dampak penyertanya,” kata Agus, Jumat (4/6/2021).

Agus mengatakan Bareskrim Polri akan mengembalikan berkas aduan ICW terkait dugaan gratifikasi Firli Bahuri ke Dewan Pengawas KPK. Alasannya, lanjut dia, persoalan itu sudah ditangani oleh Dewas KPK.

“Nanti kita kembalikan ke Dewas (KPK) saja. Kan sudah ditangani Dewas KPK. Mekanisme internal di KPK akan bergulit sesuai aturan,” tegasnya.

Kabareskrim itu kembali menekankan bahwa pihaknya kini fokus menangani pandemi Covid-19 berikut dampaknya. Oleh karenanya, dia memohon agar persoalan yang menyeret nama Ketua KPK itu tidak diarahkan ke Barekrim Polri.

“Jangan tarik-tarik Polri. Saat ini kita fokus kepada penanganan dampak kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional dan investasi pandemi Covid-19,” imbuhnya.

ICW Angkat Suara

Selaku pelapor, ICW mempertanyakan respons Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto yang justru meminta pihaknya tidak membawa-bawa Polri terkait dugaan gratifikasi sewa helikopter oleh Ketua KPK Firli Bahuri. Menurut ICW, pernyataan Agus tersebut menunjukkan bahwa pihaknya ‘ogah’ menelusuri dugaan gratifikasi tersebut.

“ICW mempertanyakan pernyataan Kabareskrim terkait laporan dugaan korupsi gratifikasi Firli Bahuri. Betapa tidak, dari pernyataannya, terlihat Kabareskrim enggan untuk menelusuri lebih dalam bukti yang telah disampaikan,” jawab peneliti ICW Kurnia Ramadhana, Jumat (4/6/2021).

Kurnia menyebut mestinya Bareskrim Polri menerima pengaduannya dan melakukan penyelidikan potensi tindak pidana terkait apa yang dilakukan Firli Bahuri. Menurut dia, tidak tepat jika respons yang dimunculkan justru meminta ICW tidak membawa-bawa Polri.

“Lagi pun, pernyataan itu tidak tepat disampaikan. Sebab, ranah Dewan Pengawas (KPK) berbeda dengan Polri. Dewas menelusuri pelanggaran etik, sedangkan Bareskrim melihat potensi tindak pidana. Selanjutnya, sebagai aparat penegak hukum, mestinya Bareskrim menelaah laporan sembari melakukan penyelidikan. Bukan justru mengatakan menarik-narik institusi Polri dalam polemik KPK,” imbuhnya.

ICW Adukan Firli Bahuri ke KPK

Sebelumnya, Ketua KPK Firli Bahuri dilaporkan ICW ke Bareskrim Polri terkait sewa helikopter. ICW mempersoalkan harga sewa helikopter yang menurutnya tidak sesuai dengan apa yang disampaikan Firli di hadapan Dewas KPK dalam sidang dugaan pelanggaran etik.

“Kami mendapatkan informasi bahwa harga sewa yang terkait dengan penyewaan helikopter itu tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Firli ketika sidang etik dengan Dewas,” papar Koordinator ICW Divisi Invetigasi Wana Alamsyah, Kamis (3/6/2021).

Wana mengaku mendapatkan informasi bahwa semestinya harga sewa helikopter itu sekitar Rp 39 juta per jam. Namun, Firli tidak menyampaikan seperti itu dalam sidang dugaan pelanggaran etik di Dewas KPK.

“Di dalam sidang etik, Firli menyampaikan harga sewa heli itu sebesar Rp 7 juta belum termasuk pajak. Jadi, jika ditotal, dalam jangka waktu 4 jam penyewaan yang dilakan ada sekitar Rp 30,8 juta yang dia bayarkan kepada penyedia heli, PT Air Pasifik Utama,” jelas Wana.

“Tapi, kemudian kita mendapatkan informasi lain dari penyedia jasa lainnya bahwa harga sewa per jamnnya yaitu USD 2.750 atau sekitar Rp 39,1 juta. Jika kami total itu ada sebesar Rp 172,3 juta yang harusnya dibayar oleh Firli terkait dengan penyewaan helikopter tersebut,” sambungnya.

To Top