News

Kapolri Tuai Pujian dan Dukungan dari DPR Soal ‘Potong Kepala’

Kapolri Tuai Pujian dan Dukungan dari DPR Soal ‘Potong Kepala’

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menuai pujian dan dukungan dari beberapa anggota DPR terkait ketegasannya yang berani (akan) menindak pimpinan di Polri apabila tidak mampu menjadi teladan yang baik untuk bawahannya. Sigit menegaskan akan ‘memotong kepalanya’ jika tidak mampu membersihkan ekornya.

“Terhadap anggota yang melakukan kesalahan dan berdampak kepada organisasi, jangan ragu melakukan tindakan. Kalau tak mampu membersihkan ekor, kepalanya akan saya potong. Ini semua untuk kebaikan organisasi yang susah payah berjuang. Menjadi teladan, pelayan dan pahami setiap masalah dan suara masyarakat agar kita bisa ambil kebijakan yang sesuai,” kata Sigit, Rabu (27/10/2021).

Pernyataan Kapolri Tuai Pujian dari DPR

Pernyataan Kapolri di atas ternyata menuai pujian dan dukungan ‘bertubi-tubi’ dari para anggota DPR. Salah satunya Ketua Komisi III DPR RI Herman Herry. Herman menilai apa yang dikatakan Kapolri tidak asal ngomong.

“Statement Kapolri sebagai kepala nomor 1 di institusi Polri bukan asal ngomong. Kami menilai selama kepemimpinan beliau sebagai Kepala Polri telah menunjukkan contoh yang baik dan beliau sangat menjaga martabat institusi,” ucap Herman, Kamis (28/10/2021).

Herman mengapresiasi Sigit yang hingga hari ini terus menjaga martabat Polri. Dia lantas meminta seluruh jajaran Polri mengikuti jejak Sigit dan melaksanakan tugas Polri dengan baik.

“Oleh sebab itu, kami minta agar seluruh jajaran Kasatwil dan para Kepala Polda dan Polres agar memaknai dan menjaga martabat institusi Polri di dalam melaksanakan tugas-tugas kepolisian,” sambungnya.

PPP Ingatkan Tak Cuma Seruan

Dukungan terhadap Kapolri Jenderal Sigit juga datang dari anggota Komisi III DPR Fraksi PPP Arsul Sani. Arsul menilai apa yang disampaikan Sigit sudah menunjukkan paradigma kepemimpinan yang ‘lurus’ sebagai Kapolri.

“Pernyataan Kapolri tersebut sudah menunjukkan paradigm kepemimpinan yang benar. Yakni, bahwa pimpinan itu harus mulai dari diri sendiri dulu untuk tertib, tidak bergaya hidup mewah, tidak hanya menuntut bawahannya disiplin, mencontohkan dengan nyata tagline Polri melindungi dan mengayomi, dan sebagainya. Bahasa singkatnya menjadi teladan kebaikan bagi kesatuan dan bawahannya,” kata Arsul.

Arsul berharap Sigit betul-betul melakukan ‘pemotongan kepala’ jika ada pimpinan di Polri jika ada bawahannya yang bermasalah. Menurut dia, hal itu sejalan dengan paradigma kepemipinan sebagai Kapolri.

“Untuk memastikan bahwa paradigma kepemimpinan itu akan berjalan, tidak hanya berhenti pada seruan, ya memang sanksi penggantian atau pemotongan pada kepala ikan harus diterapkan,” tambahnya.

PDIP Sebut Warning Bagi Pimpinan Polri

Sementara itu, anggota Komisi III DPR Fraksi PDIP Johan Budi Sapto Prabowo menilai Kapolri tidak main-main soal ‘potong kepala’ terhadap pimpinan Polri yang tidak memberikan teladan baik bagi jajarannya. Johan menyebut apa yang disampaikan Kapolri merupakan warning bagi para pimpinan di Polri.

“Saya rasa itu nggak main-main ya. Nggak normatif, serius itu. Itu warning untuk Kapolda, Kapolres, Kapolsek,” tegas Johan.

Johan lantas mengungkit usulan yang pernah dia lontarkan bahwa sebaiknya anggota Polri yang melakukan pelanggaran hukum mendapatkan hukuman lebih berat. Mengingat, kata dia, Polri berperan sebagai penegak hukum yang semestinya tidak melakukan pelanggaran hukum.

“Saya kan pernah bilang juga di RDP (Rapat Dengar Pendapat), karena penegak hukum yang melanggar, melakukan pidana, itu harusnya dihukumnya lebih berat karena dia penegak hukum. Bukan hanya dimutasi, bukan hanya dicopot dan diturunkan jabatannya,” tegas politikus PDIP itu.

Menurut dia, hukuman berat bagi anggota Polri yang melakukan pelanggaran hukum dapat memberikan efek jera baginya. Sehingga, tidak ada lagi yang coba-coba melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan itu.

“Tapi kalau dia melakukan pidana, pelanggaran pidana, harusnya dihukum pidana dan hukumannya harus lebih berat, sekaligus juga untuk deterrent effect (efek jera) bagi polisi-polisi lain yang coba-coba melakukan pelanggaran,” tambahnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top