News

Kasus Novel – Demokrat : Penegakan Hukum Jangan Apa Kata Dewan

Kasus Novel - Demokrat : Penegakan Hukum Jangan Apa Kata Dewan

HM Prasetyo selaku Jaksa Agung buka suara alasan sebenarnya kasus penganiayaan pelaku pencurian sarang burung walet yang menimpa penyidik senior KPK Novel Baswedan tidak diteruskan.

Menurut Prasetyo, dalam kasus tersebut banyaknya desakan dari lembaga perwakilan meminta agar Korps Adhyaksa tidak melanjutkan kasus tersebut ke persidangan. Sehingga ia takut menimbulkan kegaduhan dalam hukum di Indonesia.

“Ketika ada desakan (penghentian kasus) jadi bahan pertimbangan Kejaksaan Agung, jadi itu dinamika penegakan hukum,” ujar Prasetyo dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Senayan, Jakarta, Senin (11/9).

Saat menjelaskan penghentian kasus itu karena adanya desakan publik. Tiba-tiba anggota Komisi III DPR Benny Kabur Harman pun angkat bicara. Dia merasa berang kenapa kasus itu bisa dihentikan hanya karena adanya desakan.

“Jadi ini yang dibilang penegakan hukum?,” tanya Benny kepada Prasetyo dengan nada suara tinggi.

Politikus Partai Demokrat ini menambahkan, dia mengaku aneh penegakan hukum bisa dipermainkan apabila terjadi desakan dari publik. ‎Padahal, kata Benny penegakan hukum harus bisa berjalan sebagaimana mestinya tanpa adanya intervensi dari pihak manapun.

“Jadi penegakan hukum bisa berjalan bukan karena keinginan anggota dewan. Penegakan hukum jangan apa kata dewan. Berjalan saja hukum,” katanya.

Menyahut itu, Jaksa Agung pun mengatakan tidak bisa berkomentar banyak. Dia mengaku penegakan hukum bukan hanya dilihat dari sisi keadilannya saja. Melainkan dari lainnya, seperti tidak gaduh dalam bidang hukum mengingat banyak yang meminta kasus Novel tidak dilanjutkan persidangan.

“Saya sudah katakan penegakan hukum bukan hanya dari keadilan saja,” pungkas Prasetyo.

Sekadar informasi, adapun Novel diduga menganiaya pencuri sarang burung walet pada 2004. Kasus ini telah dilaporkan ke Mabes Polri dan tahun 2015 perkara ini sempat dinyatakan lengkap dan segera dibawa ke pengadilan. Namun ketika itu jaksa dari Kejati Bengkulu mengambil kembali berkas dakwaan.

Kasus Novel ini pada akhirnya dihentikan. Sebagaimana yang tertuang dalam salam Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) Nomor B 03/N.7.10/Eo.1/02/2016 yang ditandatangani Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu.

Namun belakangan muncul putusan praperadilan yang memenangkan para korban tindak penganiayaan yang diduga dilakukan Novel.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top