News

Kasus Penyiraman Air Keras di Cianjur, Komnas Perempuan Ingatkan Risiko Nikah Siri dengan WNA

Kasus Penyiraman Air Keras di Cianjur, Komnas Perempuan Ingatkan Risiko Nikah Siri dengan WNA

Komnas Perempuan merespons perwistiwa Sarah (21) yang meninggal dunia setelah disiram suami sirinya dengan air keras. Diketahui sang suami adalah warga negara asing (WNA), Komnas Perempuan pun menyampaikan, pernikahan siri berisiko kekerasan terhadap perempuan.

“Pernikahan siri, baik dilakukan dengan WNI maupun WNA, menempatkan wanita pada risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, baik fisik, psikis, seksual atau penelantaran,” kata Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi, mengutip dari detikcom, Minggu (21/11/2021).

Kondisi ini makin rentan jika perempuan dinikahi WNA secara sirih. Apalagi, nika siri dilakukan secara berjangka yang disebut kawin kontrak.

“Hal ini diperburuk apabila pernikahan siri dilakukan dengan WNA, dan dalam jangka waktu tertentu, sebab perbedaan budaya, ketidakpastian hukum dan ketidakpastian berlangsungnya pernikahan. Keadaan ini menempatkan wanita sebagai objek dan subordinat dalam pernikahan,” ujarnya.

Penyerangan air keras terhadap wanita, seperti dalam kasus seorang wanita di Cianjur tersebut kerap terjadi di sejumlah negara.

“Dalam perkara ini terdapat pola serangan air keras (acid attact) yang biasanya terjadi di negara-negara seperti Kolombia, Pakistan, Nepal, Bangladesh, Uganda dan India,” terang Siti Aminah.

Naiknya Angka Femisida Naik

Komnas Perempuan menyebut kasus Sarah adalah kasus yang masuk kategori femisida. Artinya kekerasan tersebut mengakibatkan kematian perempuan. Selama tiga tahun ini, kasus femisida diklaim meningkat.

“Pemberitaan soal femisida selama tiga tahun ini terus naik. Pada 2017 ada 730 pemberitaan kasus pembunuhan perempuan, naik jadi 1.184 pemberitaan dan hingga 2020 sudah terpantai 1.156 kasus femisida,” tuturnya.

Lihat Juga: Sering Bertengkar Tentang Hal-Hal Kecil Ternyata Dapat Membuat Hubungan Langgeng, Benarkah?

Menurut Siti, femisida dibagi menjadi dua kluster besar, yaitu pembunuhan perempuan dan pembunuhan oleh pasangan maupun mantan pasangan.

“Sepanjang tiga tahun ada 58% pembunuhan terhadap wanita. Dan di posisi kedua yaitu pembunuhan oleh suami kepada istrinya terdapat 34%. Pembunuhan dalam relasi pernikahan atau pacarana ini tetap sama selama tiga tahun,” papar Siti.

Peristiwa Penyiraman Air Keras Oleh Suami Terhadap Istri Siri di Cianjur

Sarah, warga dari Kampung Munjul Desa Sukamaju Cianjur tewas akibat luka bakar yang mencapai 99%. Hal tersebut disebabkan oleh perbuatan sadis Abdul Latif (29), warga negara Timur Tengah yang merupakan suaminya.

Iin Solihin (36) Ketua RT setempat, menuturkan perbuatan tersebut dilakukan oleh pelaku saat korban sedang tidur. Pelaku langsung mengikat tangan korban menggunakan tali.

Selain itu, pelaku juga memukuli korban sebelum akhirnya menyiramkan air keras yang menyebabkan korban mengalami luka bakar di sekujur tubuh.

“Korban juga dibekap dengan lakban supaya tidak teriak,” kata Solihin.

Abdul Latif berhasil diamankan polisi di Bandara Soekarno Hatta saat diduga akan melarikan diri ke Arab Saudi. Kasatreskrim Polres Cianjur AKP Septiawan Adi menyampaikan, pelaku berhasil ditangkap oleh Polres Bandara Soekarno Hatta, setelah terdeteksi ketika akan memesan tiket penerbangan.

“Jadi usai peristiwa kita langsung berkoordinasi dengan pihak Bandara, paspornya diblokir untuk mencegah kepergian pelaku. Sebab infonya pelaku akan kabur ke luar negeri. Tadi malam pelaku berhasil diamankan,” ujar Septiawan, Minggu (21/11/2021).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top