News

Kata BNPT, NU dan PKS Soal Ideologi Terorisme

Kata BNPT, NU dan PKS Soal Ideologi Terorisme

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen R Ahmad Nurwakhid mengungkapkan ideologi yang dianut bomber Lukman di depan Gereja Katedral, Makassar. Nurwakhid menyebut Lukman berideologi ‘salafi wahabi yang membid’ahkan’.

Padahal, kata dia, Lukman sebelumnya dikenal sebagai sosok yang sabar dan lembut.

“Lukman ini orang baik, orang sabar, pelaku yang negbom di Makassar. Tetapi karena dia berkenalan dengan ideologi salafi wahabi yang membid’ahkan. Menyesatkan budaya tradisi-tradisi lokal keagamaan, yasinan, tahlilal,” kata Nurwakhid, Selasa (30/3/2021).

Nurwakhid menyebut perilaku Lukman berubah menjadi keras setelah mengenal istrinya. Bomber Makassar itu, lanjut dia, akhirnya menjadi teroris.

“Setelah kenal dengan seorang wanita yang kemudian jadi istrinya maka berubah karakternya, maka berubah sikapnya, berubah wataknya. Yang tadi hatinya sabar, lembut berubah menjadi keras dan akhirnya menjadi teroris,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala BNPT, Komjen Boy Rafli mengungkapkan bahwa bomber Makassar adalah kelahiran tahun 1995. Boy menyebut mereka adalah kaum milenial yang menjadi korban propaganda jaringan teroris.

“Karena teridentifikasi pelaku kelahiran tahun ’95, jadi inisialnya L dengan istrinya adalah termasuk kalangan milenial yang sudah menjadi ciri khas korban dari propaganda jaringan teroris,” terang Boy, Senin (29/3/2021).

Said Aqil: Ajaran Wahabi Pintu Masuk Terorisme

Senada dengan pernyataan BNPT, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj menyebut ajaran wahabi dan salafi merupakan ‘pintu masuk’ terorisme. Menurut Said, jaringan terorisme sebaiknya ‘dibabat’ dengan cara menghabisi pintu masuknya.

“Kalau kita benar-benar sepakat, benar-benar kita satu barisan ingin menghabisi jaringan terorisme, benihnya dong yang harus dihadapi. Benihnya, pintu masuknya yang harus kita habisi. Apa? Wahabi, ajaran wahabi itu adalah pintu masuk terorisme,” kata Said, Minggu (30/3/2021).

Pemimpin NU itu menegaskan bahwa ajaran Wahabi bukan terorisme, namun menjadi pintu masuk dari paham itu. Atas dasar itu, dia menyebut ajaran Wahabi merupakan benih dari teroris.

“Ajaran Wahabi bukan terorisme, bukan. Wahabi bukan terorisme, tapi pintu masuk. Kalau udah Wahabi ‘ini musyrik, ini bid’ah, ini sesat, ini nggak boleh, ini kafir’. Itu satu langkah lagi, satu step lagi sudah halal darahnya, boleh dibunuh. Jadi benih pintu masuk terorisme adalah Wahabi dan Salafi. Wahabi dan Salafi adalah ajaran ekstrem,” imbuhnya.

Said kemudian meminta aparat penegak hukum tidak gamang dalam memberantas terorisme di Indonesia. Dia pun meminta para pelaku terorisme ‘diusir’ karena bertentangan dengan ideologi Pancasila.

“Saya harapkan kepada kepolisian tidak ragu-ragu, tidak gamang dalam memberantas terorisme itu. Jelas sekali ayatnya (bahwa) orang yang bikin gaduh, yang menyimpang dari komitmen kebangsaan kita, Pancasila, kita usir mereka itu, itu perintah Alquran, jangan ragu-ragu. Tidak boleh ada kekerasan dengan mengatasnamakan agama,” pinta dia.

PKS: Ketidakadilan Pemicu Radikalisme

Menanggapi pernyataan Said Aqil Siradj, Ketua DPP PKS Bukhori Yusuf memiliki pandangan yang berbeda terkait ideologi terorisme. Menurut Bukhori, pemicu utama terorisme dan radikalisme adalah ketidakadilan.

“Terorisme dan radikalisme menurut saya pemicu terbesarnya adalah ketidakadilan dalam kehidupan, dalam kesejahteraan dan kesenjangan dalam mengakses kesempatan,” kata Bukhori, Minggu (30/3/2021).

Bukhori meyakini terorisme dan radikalisme di Indonesia bisa berkurang seiring kesejahteraan dan keadilan meningkat.

“Jika kesejahteraan telah merata, akses untuk kesempatan terbuka secara adil, saya yakin, hakulyakin, akan sangat mengurangi tindakan radikalisme dan terorisme,” tambahnya.

Anggota Komisi VIII DPR RI itu kemudian berbicara soal kerukunan dan persaudaraan sesama bangsa yang harus dijaga. Menurutnya, perbedaan merupakan sesuatu yang wajar dan tidak semestinya dijadikan persoalan, melainkan dicarikan solusinya.

“Dalam hal ada perbedaan pandangan itu wajar sebagai umat manusia. Karena Allah memang ciptakan manusia dalam keadaan yang berbeda suku, agama, pikiran dan pandangan, yang penting kita saling mencari titik temu,” tegas Bukhori.

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top