News

Kembali Erupsi, Tinggi Abu Gunung Ile Lewotolok Mencapai 500 Meter

Gunung Ile Lewotolok

Setelah erupsi pada tanggal 4 dan 6 Desember 2020, hari ini tepatnya pada Minggu pagi (13/12/2020) pukul 07.55 WITA, Gunung Ile Lewotolok kembali menunjukkan aktivitas erupsi. Menurut catatan dari Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok ini, erupsi pagi tadi terjadi sebanyak 1 kali.

Pada erupsi pertama, tinggi kolom abu mencapai kurang lebih 500 meter di atas puncak atau ± 1.923 m di atas permukaan laut. Saat diamati, kolom abu ini berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang condong ke arah barat.

Erupsi yang terjadi sempat terekam oleh seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm dengan durasi ± 25 detik. Erupsi ini disertai letusan dengan suara dentuman sedang hingga kuat dimana suara ini sampai didengan oleh warga sekitar gunung. Saat ini, aktivitas gunung ini terus meningkat dan masih menyemburkan abu vulkanik maupun asap sehingga statusnya dinyatakan berada pada tingkat aktivitas Level III (Siaga).

Untuk itulah, warga sekitar gunung maupun wisatawan dan pendaki dihimbau agar tidak melakukan aktivitas di sekitar zona perkiraan bahaya seperti di sekitar kawah Gunung Ile Lewotolok maupun di seluruh area dalam radius 4 km dari  pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok.

Sekilas tentang Gunung Ile Lewotolok

Menurut bahasa Lamaholot, Gunung Lewotolok ini juga disebut sebagai Ili/Ile Lewotolok atau Ile Ape. Ile Lewotolok berarti gunung kampung atau negeri runtuh, sedangkan Ile Ape berarti gunung api. Banyak orang yang mengenal nama gunung ini dengan nama Gunung Ile Lewotolok. Gunung ini termasuk gunung berapi bertipe stratovolcano yang terletak di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pada puncak gunung ini memiliki kawah besar seperti kaldera berbentuk bulan sabit yang disebut dengan Metong  Lamataro oleh warga sekitar gunung. Di sisi tenggara Metong Lamataro ini terbentuk kerucut yang mana menjadi puncak tertinggi Gunung Lewatolok saat ini yang berada di ketinggian ± 1.923 m di atas permukaan laut. Pada puncak kerucut terdapat lubang kawah aktif yang menghembuskan uap yang mengandung solfatara di hampir semua bagian kerucut.

Riwayat letusan

Sejarah pertama kali letusan Gunung Ile Lewotolok ini tercatat sejak tahun 1660, 1819, dan 1849. Pada tahun 1852, terjadi letusan di gunung tersebut yang mengakibatkan kerusakan di daerah sekitar gunung. Letusan tersebut memunculkan kawah baru dan ladang solfatara di sisi timur-tenggara. Selain itu, letusan juga terjadi pada tahun 1864, 1889, dan terakhir pada tahun 1920 namun hanya letusan kecil. Selanjutnya pada tahun 1939 dan 1951 juga terjadi kenaikan aktivitas vulkanik berupa lontaran lava pijar, abu, awan panas, dan hembusan gas beracun.

Baca Juga : Gunung Merapi Meletus, Warga Diminta Tidak Beraktivitas Dalam Radius 3 Km

Pada Januari 2012, Gunung Ile Lewotolok sempat mengalami krisis gempa dimana saat itu, PVMBG meningkatkan status gunung dari normal ke waspada hingga siaga hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Kemudian pada 17 Oktober 2013, status gunung ini turun ke level normal. Tidak lama kemudian, pada 7 Oktober 2013, Status aktivitas vulkanik gunung ini kembali naik dari normal ke waspada.

Setelah tahun 2013, Gunung Ile Lewotolok tidak menunjukkan aktivitas yang mengkhawatirkan. Namun, di bulan November 2020 ini telah terjadi erupsi eksplosif yang mana memaksa warga di sekitar gunung untuk segera mengungsi. Hal itu dikarenakan di erupsi tersebut terjaid letusan yang menimbulkan kolom asap setinggi 4000 m.

Letusan tersebut tidak terjadi sekali, namun berkali-kali hingga pihak pemantau menaikkan statusnya menjadi level III atau siaga pada 29 November 2020 karena letusan yang terjadi disertai dengan lontaran material padat dengan ukuran besar.

Pada tanggal 4 Desember 2020, Gunung Ile Lewotolok kembali erupsi dengan tinggi kolom abu kurang lebih 500 m. Selang dua hari kemudian, terjadi erupsi kembali sebanyak tiga kali dengan ketinggian abu kurang lebih 900 m di erupsi pertama. Kini, pada 13 Desember 2020, Gunung ini kembali menunjukkan aktivitas erupsi yang disertai letusan dengan suara dentuman sedang hingga kuat. Saat ini, aktivitas gunung ini terus meningkat dan masih menyemburkan abu vulkanik maupun asap.

Baca Juga : Gunung Agung Meletus, Abu Vulkanik Berterbangan

Nah itulah informasi mengenai Gunung Ile Lewotolok yang kembali erupsi dengan tinggi kolom abu kurang lebih 500 meter di atas puncak atau ± 1.923 m di atas permukaan laut. Untuk itu, masyarakat diharapkan untuk tetap waspada karena gunung tersebut menunjukkan status siaga yang sewaktu-waktu dapat terjadi erupsi susulan maupun yang paling parah yaitu terjadinya gempa.

To Top