News

Korban Corona Makin Melonjak, Pelonggaran PSBB Terlalu Dini

Korban Corona Makin Melonjak, Pelonggaran PSBB Terlalu Dini

Pertengahan Mei 2020 korban Corona melonjak drastis. Kemungkinannya ada dua, kapasitas pemeriksaan lebih baik atau dilonggarkannya PSBB terlalu dini, sehingga peluang penyebaran Covid 19 menjadi lebih besar. Nekat mudik, bisa saja menjadi “mudik” selamanya.

Sudah seminggu ini lalulintas di Jakarta sudah mulai ramai, cuma lalu lalang orang di pinggir jalan tidak ada. Ini semua karena telah dilonggarkannya aturan PSBB. Orang ke luar kota diperbolehkan dengan alasan tertentu dan ctak boleh meninggalkan protokol kesehatan.

Prinsinya mudik dilarang keras! Tapi faktanya, banyak juga yang lolos dari halauan tim PPLM (Petugas Penyekatan Larangan Mudik), Di Jateng misalnya, dari 26 Maret hingga 9 Mei saja jumlah pemudik mencapai 824.833 orang. Polisi mengakui,  mereka lolos lewat jalur tikus.

Jalur tikus ini memang tak semua ditongkrongi PPLM, sehingga travel-travel gelap bisa selamat sampai tujuan para penumpangnya. Dan apakah sesampainya di kampung halaman mereka dikarantina aparat Pemda, atau mengisolasi diri sendiri, nggak juga tuh.

Mereka ini punya potensi jadi “agen” Covid-19. Ditambah lagi DTW (Daerah Tujuan Wisata) mulai diizinkan untuk buka lagi. Maklum mau Lebaran. Meski warga kota tak banyak yang mudik, semoga mereka yang lolos dari PPLM bisa mengisi kas Pemda setempat.

Perhatikan, sejak pertengahan Mei 2020 ada tren mereka yang terpapar Corona melonjak secara drastis. Laporan Jubir Covid-19 dr Ahmad Yurianto Rabu 20 Mei menyebutkan, yang positif perpapar 19.189 orang, dan Kamis 21 Mei kemarin tercatat menjadi 20.162. Sampai akhir Mei mendatang, jangan-jangan bisa menyentuh 25.000.

Pemerintah punya alasan, meningkatnya jumlah pasien bisa saja kapasitas pemeriksaan di setiap daerah lebih baik. Akibatnya orang-orang yang semula dinyatakan bebas Covid-19, kini menjadi terpapar. Tapi bisa juga “berkat” relaksasi PSBB yang dilakukan oleh Kemenhub terlalu dini.

Baca Juga : Cara Penularan dan Pencegahan Virus Corona (Covid-19)

Ketika Presiden Jokowi mengajak rakyat “berdamai” dengan Covid-19, berhasil menjadikan orang tidak takut pada wabah mematikan itu. Padahal ketika menyepelekan dan kemudian berbuat ceroboh, bisa saja menjadi PDP (Pasien Dalam Perawatan), atau  malah kemungkinan terburuk PDB.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top