News

Makin Panas! Pidato di PBB, Joe Biden Langsung Ngegas Serang Putin

Joe biden

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengecam Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu 21 September 2022, ketika ia berbicara di hadapan Sidang Majelis Umum PBB. Biden menegaskan pemimpin Rusia itu “tanpa malu-malu melanggar” Piagam PBB ketika ia menginvasi tetangga Ukraina.

“Rusia tanpa malu-malu melanggar prinsip inti Piagam PBB,” kata Joe Biden saat berbicara di Majelis Umum PBB tahunan di New York, seperti dikutip AFP, Kamis 22 September 2022.

“Pasukan Rusia telah menyerang sekolah, stasiun kereta api, dan rumah sakit Ukraina, sebagai bagian dari tujuan Moskow untuk mematikan hak warga Ukraina untuk hidup sebagai sebuah negara,” tegas Biden.

Saat menyampaikan teguran kepada Kremlin, Joe Biden secara khusus menjangkau para pesaingnya tentang isu-isu yang menurutnya penting secara global, termasuk perubahan iklim dan pengendalian senjata nuklir.

“Perang nuklir tidak bisa dimenangkan, dan tidak boleh diperangi,” ucap Joe Biden.

“Kami melihat tren yang mengganggu. Rusia membuat ancaman nuklir yang tidak bertanggung jawab untuk menggunakan senjata nuklir. Amerika Serikat siap untuk melakukan tindakan pengendalian senjata yang kritis,” imbuhnya.

Sementara Joe Biden juga membahas mengenai program nuklir Iran dan upaya kesepakatan yang tengah dibahas. Dirinya sekali lagi bersumpah bahwa Washington tidak akan mengizinkan Teheran untuk mendapatkan senjata nuklir, sekaligus menggarisbawahi bahwa “diplomasi adalah cara terbaik untuk mencapai hasil ini.”

Namun bahasa Joe Biden relatif ringan terhadap Tiongkok yang selama ini menjadi saingan geopolitik dan ekonomi terbesar bagi Amerika Serikat.

“Biarkan saya berterus terang tentang persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok,” kata Joe Biden.

“Saat kami mengelola tren geopolitik yang berubah, Amerika Serikat akan bertindak sebagai pemimpin yang masuk akal. Kami tidak mencari konflik, kami tidak mencari Perang Dingin,” tegasnya

Dia mengatakan bahwa sementara “Amerika Serikat tidak akan malu-malu dalam mempromosikan visi kita tentang dunia yang bebas, terbuka, aman dan sejahtera”, itu tidak akan memaksa negara untuk “memilih”.

Presiden AS Joe Biden, memperluas pesan kooperatifnya dalam mengatasi permintaan lama dari negara berkembang di seluruh dunia untuk dimasukkan dalam Dewan Keamanan PBB, yang saat ini hanya memiliki lima anggota tetap – Inggris, Tiongkok, Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat.

“Amerika Serikat mendukung peningkatan jumlah perwakilan tetap dan tidak tetap dewan,” kata Joe Biden.

“Ini termasuk kursi permanen untuk negara-negara yang telah lama kami dukung – kursi permanen untuk negara-negara di Afrika, Amerika Latin, Karibia. Amerika Serikat berkomitmen untuk pekerjaan penting ini,” tambahnya.

Beralih lagi ke Iran, di mana protes yang jarang terjadi atas kematian seorang wanita muda yang ditangkap oleh polisi moral negara bagian, Biden mengatakan orang Amerika “berpihak pada wanita pemberani Iran.”

“Hari ini kami berdiri bersama warga pemberani dan perempuan pemberani Iran yang saat ini berdemonstrasi untuk mengamankan hak-hak dasar mereka,” pungkasnya.

Baca juga: Bukan Hanya Inggris, Ternyata Ada Persemakmuran Rusia: Negara Mana Saja Anggotanya?

Vladimir Putin Ancam Joe Biden Perang Nuklir

Berita kemenangan Ukraina di sejumlah wilayah yang dikuasai Rusia, dibalas dengan ‘senjata’ baru oleh pemerintah Presiden Vladimir Putin.

Wilayah-wilayah tersebut akan segera membuat referendum untuk bergabung dengan Kremlin.

Otoritas pro-Rusia di wilayah timur, Donetsk dan Lugansk, serta selatan, Kherson dan Zaporizhzhia, akan mengadakan pemungutan suara selama lima hari mulai Jumat pekan ini.

“Anggota parlemen pro-Moskow telah memilih untuk mengadakan pemungutan suara dari 23 hingga 27 September,” tegas seorang pemimpin separatis di wilayah Lugansk Denis Miroshnichenko, dikutip dari AFP, Rabu (21/9/2022).

“Penggabungan wilayah Kherson ke dalam Federasi Rusia akan mengamankan wilayah kami dan memulihkan keadilan sejarah,” kata kepala wilayah itu, Vladimir Saldo, yang dilantik Moskow.

Joe Biden

Wakil Rusia sendiri, mantan presiden dan perdana menteri Rusia Dmitry Medvedev, referendum akan mengoreksi kesalahan sejarah. Termasuk memperkuat pasukan Rusia.

“Perambahan ke wilayah Rusia adalah kejahatan dan jika itu dilakukan, itu memungkinkan Anda untuk menggunakan semua kekuatan yang mungkin untuk membela diri,” kata wakil ketua dewan keamanan Rusia itu.

Perlu diketahui keempat wilayah tersebut merupakan garis depan serangan balasan Ukraina. Di mana pasukan Kyiv berhasil merebut kembali ratusan kota dan desa yang telah dikendalikan oleh Rusia selama berbulan-bulan.

Sementara itu, Ukraina mengatakan referendum itu palsu. Bahkan bersumpah akan “menghilangkan” ancaman yang ditimbulkan oleh Rusia, dengan mengatakan pasukannya bakal makin gencar merebut kembali wilayah terlepas dari apa yang diumumkan Moskow atau proksinya.

Amerika Serikat (AS), Jerman, dan Prancis mencela upaya itu. Ketiganya mengatakan masyarakat internasional tidak akan pernah mengakui hasil tersebut.

“AS tidak akan pernah mengakui klaim Rusia atas bagian Ukraina yang dicaplok,” kata Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan.

Kanselir Jerman Olaf Scholz menyebutnya suara “palsu” dan mengatakan mereka harus ditolak oleh komunitas internasional.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebutnya “parodi”, seraya mengatakan serandan Rusia mengingatkannya kembali “ke zaman imperialisme dan koloni”.

Analis politik setempat Tatiana Stanovaya mengatakan pengumuman pemungutan suara adalah akibat langsung dari keberhasilan serangan balasan timur Ukraina.

Putin, katanya, ingin mengancam penggunaan penuh militer Rusia. Termasuk senjata nuklir dalam mempertahankan wilayah Rusia, apalagi yang baru dicaplok.

“Putin tidak ingin memenangkan perang ini di medan perang. Putin ingin memaksa Kyiv menyerah tanpa perlawanan,” katanya lagi.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top