News

Marak PHK Startup Jilid 2, Ini Musim Dingin Startup di Tengah Minimnya Arus Modal

PHK Startup

Berdasarkan data Layoff.fyi, jumlah karyawan yang di PHK startup sebanyak 76.995 orang sejak 1 Januari – 8 September 2022.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh karyawan perusahaan rintisan (startup) di dunia masih terus terjadi. Berdasarkan data Layoff.fyi, jumlah karyawan di dunia yang terkena PHK Startup sebanyak 76.995 orang sejak 1 Januari – 8 September 2022. 

Secara rinci, terdapat 9.829 karyawan yang terkena imbas PHK Startup pada kuartal I/2022. Jumlahnya kemudian meningkat menjadi sebanyak 37.703 orang pada kuartal II/2022. Adapun, 29.463 karyawan startup terkena pemecatan sejak 1 Juli – 8 September 2022. Angkanya sudah lebih dari setengah dari total karyawan startup terkena PHK dibandingkan pada kuartal II/2022, meski belum genap tiga bulan. 

Lebih lanjut, startup di sektor makanan paling banyak melakukan PHK sepanjang tahun 2022. Sementara, startup di sektor konstruksi paling sedikit melakukan PHK Startup. 

Tren PHK startup di dunia salah satunya disebabkan oleh rezim likuiditas ketat yang terjadi usai The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya. Hal itu pun diperparah oleh konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung, sehingga membuat investor lebih berhati-hati menggelontorkan dananya.

Musim PHK Startup Diprediksi Berlangsung sampai 2 Tahun

Gejolak ekonomi yang belum stabil membuat sejumlah perusahaan startup melakukan efisiensi karyawan. Salah satu yang terbaru yakni Shopee. 

Perusahaan tersebut telah melakukan PHK kepada ratusan karyawannya pada 19 September 2022 sebagai upaya efisiensi.

Tak tanggung-tanggung, jumlah karyawan Shopee yang terkena PHK mencapai 3 persen dari total karyawan yang jumlahnya diperkirakan mencapai 187 orang.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, memprediksi musim pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan rintisan atau startup akan berlangsung dalam waktu yang lama. Kondisi ini terjadi lantaran perusahaan-perusahaan yang tak kuat dari sisi pendanaan akan tumbang. 

Fenomena pemutusan hubungan kerja atau PHK startup ini mengindikasikan berlanjutnya musim dingin alias winter pada industri tersebut. 

“Istilah winter untuk bisnis startup is coming. Memang sedang menggelayuti bisnis startup,” ujar Heru saat dihubungi pada Senin, 19 September 2022.

“PHK Startup ini akan terus terjadi sampai 2 tahun ke depan, yang gagal survive akan gugur,” tambah Heru.

Heru mengatakan bisnis perusahaan rintisan menghadapi pelbagai tantangan karena pengaruh ekonomi global. 

Menurut Heru, selain melakukan PHK Startup, mereka yang tak kuat menghadapi gelombang musim dingin yang menimpa industri berbasis teknologi digital itu akan melakukan pengetatan besar.  

Efisiensi yang dilakukan oleh startup kemungkinan bukan hanya soal pemecatan atau PHK Startup. Akan tetapi, efisiensi itu mencakup pengurangan fasilitas hingga gaji. Perusahaan pun cenderung akan mencari tenaga kerja baru yang lebih murah ketimbang standar gaji pegawai lama.  

“Ke depan, ia pun melihat bisnis startup untuk masing-masing sektor hanya akan diisi oleh dua hingga tiga pemain besar. “Tapi seperti ride hailing kemungkinan hanya dua pemain besar,” tutur Heru.

Baca juga: PHK Karyawan lagi di Kuartal 3, Shopee Indonesia: Alasannya Efisiensi 

PHK Startup

Tidak hanya shopee, startup ini juga lakukan lay-off

1. JD.ID 

Director of General Management JD.ID Jenie Simon menuturkan bahwa keputusan memberhentikan sejumlah karyawan merupakan bagian dari restrukturisasi perusahaan.

“JD.ID juga melakukan pengambilan keputusan seperti tindakan restrukturisasi, yang mana didalamnya terdapat juga pengurangan jumlah karyawan,” jelas Jenie. 

Induk JD.ID, yakni JD.com Inc tengah menanggung beban cukup besar. CEO JD.com Xu Lei mengatakan bahwa penyebaran virus Corona di berbagai kota besar di China, yang berujung lockdown di Shanghai dan Beijing, menjadi penyebab utama kemunduran bisnisnya di Negeri Tirai Bambu itu. 

Dikutip dari KrASIA, Xu mengatakan kepada analis dalam panggilan konferensi, wabah Covid tahun ini telah menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada konsumen dan rantai pasokan daripada 2 tahun sebelumnya.

JD.com pun harus memangkas staf untuk mengurangi biaya. Dilansir oleh Nikkei, seorang karyawan mengatakan bahwa sebagian besar departemen di JD.com memangkas jumlah karyawan sebesar 20 persen-40 persen.

2. Shopify

Shopify, platform e-commerce asal Kanada mengumumkan adanya PHK terhadap 10 persen karyawannya atau sekitar 1.000 karyawan. 

Dilansir dari The Walls Street Journal dan New York Times, CEO Shopify Tobu Lutke mengatakan penyebab adanya PHK Startup ini dikarenakan ekspansi perusahaan yang didorong oleh pandemi belum memberikan hasil yang signifikan. 

Dia menambahkan adanya penurunan transaksi online yang lebih cepat daripada diperkirakan sehingga Shopify harus memangkas sejumlah posisi di perusahaan. 

“Sebagian besar peran yang terpengaruh adalah dalam perekrutan, dukungan, dan penjualan, dengan fokus di seluruh perusahaan untuk menghilangkan peran yang terlalu terspesialisasi dan duplikat,” kata Lutke dalam sebuah pernyataan resminya. 

Dia menjelaskan e-commerce yang sering disebut pesaing Amazon ini salah strategi dengan memperluas tenaga kerjanya saat belanja e-commerce berkembang pesat dengan pandemi COVID-19 dan mundurnya dari ritel fisik.

“Sekarang jelas bahwa strategi itu tidak membuahkan hasil. Apa yang kami lihat sekarang adalah campuran kembali ke perkiraan data pra-COVID yang seharusnya pada titik ini,” jelasnya. 

3. iPrice

Startup e-commerce Asia Tenggara iPrice Group melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 20 persen karyawannya. 

PHK ini dilakukan sebagai langkah memfokuskan bisnis iPrice. Langkah ini dilakukan tak lama setelah startup ini mengumumkan pendanaan senilai US$5 juta dari perusahaan trading Itochu dan perusahaan telekomunikasi KDDI dari Jepang pada Maret lalu. 

Dilansir dari keterangan resminya, Kamis (9/6/2022), iPrice Group mengatakan menyatakan keputusan PHK ini adalah bagian dari beberapa langkah untuk memfokuskan bisnis pada misi utama perusahaan, yakni membantu pembeli menghemat harga saat berbelanja online.

Dalam proses PHK ini, iPrice mengatakan akan mengikuti semua persyaratan kontrak dan hukum dan secara aktif membantu staf yang telah diberhentikan untuk menemukan peluang baru.

“Tim iPrice adalah komunitas yang kuat, jadi merupakan keputusan yang sulit untuk mengurangi tim kami sejalan dengan menaruh fokus kembali pada bisnis utama kami,” kata CEO iPrice Group Paul.

Meskipun iPrice kembali berfokus pada misi utamanya, kemitraan akan terus berlanjut sebagai model berlangganan dengan fokus pada penyediaan akses bagi pemain yang tertarik terhadap katalog produk terbaik Asia Tenggara dan data yang kaya tentang lanskap e-commerce regional.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top