News

Mark Zuckerberg dan Facebook dituding Pengaruhi Hasil Pemilihan Presiden AS

Mark Zuckerberg dan Facebook dituding Pengaruhi Hasil Pemilihan Presiden AS

This post is also available in: English

Setelah mendapatkan suara elektoral melewati 270, Joe Biden dipastikan memenangi pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) 2020. Namun, hasil pilpres tersebut ternyata menyoroti sosok Mark Zuckerberg yang menjadi trending di Twitter.

Berbagai macam komentar warganet di Twitter menuduh bahwa bos Facebook itu berpengaruh dalam terpilihnya Joe Biden sebagai presiden AS ke-46.

Seperti diketahui, Mark Zuckerberg sebelumnya telah membantah terkait isu lobi dari Donald Trump tentang iklan politik di Facebook. Hal ini mencuat ketika CEO Facebook tersebut bertemu dan makan malam pribadi untuk pertama kalinya dengan Donald Trump.

Minggu (8/11),Facebook  tengah mengahadapi kritik atas sikapnya terkait iklan politik di Facebook yang tidak memeriksa fakta politisi  dalam iklan politik tersebut atau untuk menghapus informasi palsu dari mereka.

Sebelumnya, Mark Zuckerberg telah memastikan bahwa facebook akan mengambil tindakan pencegahan menjelang pilpres AS 2020. 

Facebook akan melakukan langkah-langkah seperti membantu warga untuk menyalurkan hak suaranya, menyediakan informasi akurat tentang pilpres, melarang iklan politik seminggu sebelum pilpres hingga memblokir iklan yang bertujuan untuk mendelegitimasi hasil pilpres AS 2020.

Platform media sosial lainnya  seperti Twitter juga telah melarang iklan politik, demikian juga YouTube yang telah menghapus ratusan iklan politik dan platformnya.

Sejak dilangsungkan pilpres AS pada Senin, (2/11) lalu, pihak Twitter telah memperbarui sistemnya dalam mencegah penyebaran misinformasi terkait pemilihan Presiden AS 2020. Bahkan, media sosial itu tak segan-segan membenamkan cuitan yang salah soal pilpres AS.

Belakangan, cuitan Donald Trump yang dianggap telah memberi kabar menyesatkan terkait pilpres AS 2020 diblokir oleh Twitter. Twitter pertama kali melakukan penyaringan terhadap cuitan Trump sejak 4 November kemarin, yang menuding ada praktik pencurian suara pemilu. 

Kebijakan Twitter rupanya tidak diindahkan oleh Trump, yang terus menuliskan cuitannya di akun pribadinya hingga Kamis, 6 November waktu Amerika Serikat. Twitter kembali melabeli cuitan Trump yang salah.

To Top