News

Miris, Dugaan Pelecehan Seksual Dan Perundungan Di Kantor KPI

Dugaan Pelecehan Seksual Dan Perundungan Di Kantor KPI

KPI (Komisis Penyiaran Indonesia) buka suara terkait kabar pelecehan seksual serta perundungan sesama pegawai. Saat ini KPI sedang menginvestigasi dugaan pelecehan seksual sesame pria tersebut.

“Saya sudah membaca juga, iya saya soal kebenarannya harus diinvestigasi. Jadi mulai besok bakal diinvestigasi,” kata Wakil Ketua KPI Mulyo Hadi Purnomo kepada detikcom, seperti dikutip loperonline.com, Rabu (1/9/2021).

Dalam rilisnya, korban mengungkapkan nama-nama pelaku pelecehan serta perundungan terhadapnya. Mulyo juga membenarkan bahwa nama-nama yang disebut korban adalah pegawai KPI.

“Benar ada, nama-nama tersebut ada, itu lah kami perlu memanggil baik korban maupun pelaku,” tegasnya.

Mulyo menyebut pihaknya tak akan mentoleransi segala bentuk pelecehan maupun perundungan. KPI juga akan memberikan pendampingan dan perlidungan hukum kepada korban.

“Mendukung pihak berwenang untuk menindaklanjuti perkara tersebut sesuai aturan yang berlaku,” tuturnya.

Kasus Pelecehan Seksual Dan Perundungan Di KPI

Korban mengungkapkan dirinya kerap mendapatkan perundungan serta pelecehan seksual sesame pria dari rekan kerja yang merupakan pegawai KPI. Terparah, korban pernah ditelanjangi dan difoto.

“Peristiwa tersebut membuat saya trauma dan kehilangan kestabilan emosi. Kok bisa pelecehan jahat seperti ini ada di KPI Pusat?” tulis keterangan korban, Kamis (1/9/2021).

Korban khawatir foto telanjang tersebut akan disebar oleh rekan kerjanya. Selain itu, rekan-rekan kerja korban juga kerap menyuruhnya untuk membelikan makanan. Hal tersebut berlangsung hingga 2 tahun.

“Padahal kedudukan kami setara dan bukan tugas saya untuk melayani rekan kerja. Tetapi mereka secara bersama-sama merendahkan dan menindas saya seperti budak pesuruh,” sambungnya.

Perlakuan tak pantas terus diterima korban, mulai dari diceburkan ke kolam renang hingga dimaki dengan kata-kata yang mengandung SARA.

Korban juga sempat melaporkan kejadian tersebut ke Komnas HAM.

“Benar yang bersangkutan melapor ke Komnas HAM melalui e-mail sekitar Agustus-September 2017. Dari analisa aduan, korban disarankan untuk melaporkan ke polisi sebab ada indikasi tindakan pidana,” ungkap Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara melalui keterangan tertulis, Rabu (1/9/2021).

Beka mengatakan Komnas HAM siap menangani kasus tersebut apabila korban melapor kembali setelah dari kepolisian.

“Komnas HAM akan menangani kasus tersebut jika yang bersangkutan melapor kembali ke Komnas HAM soal perkembangan penanganan kasus yang ada usai dari polisi atau pihak lain,” ujar Beka.

Ia menyebut bahwa saat ini Komnas HAM telah berkoordinasi bersama KPI, selain itu Beka berharap agar kejadian ini bisa diselesaikan secepatnya.

“Semoga kasus ini secepatnya selesai, ketemu solusinya dan korban pulih,” ujarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top