News

Oksigen Makin Sulit, Pemerintah Buka Opsi Impor

Pemerintah Bakal Impor Oksigen

Kasus positif COVID-19 masih belum menunjukkan penurunan, hal ini turut berdampak pada stok oksigen di sejumlah daerah di Indonesia yang kian menipis. Kementerian Kesehatan pun menyebut akan mencari solusi terbaik untuk permasalahan tersebut.

“Masalah ini tengah kita coba carikan solusi dan jalan terbaiknya,” kata Jubir Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi seperti dikutip dari detikcom, Rabu (7/7/2021).

Siti menyebut salah satu solusinya yaitu dengan mendorong industri gas untuk mengutamakan produksi oksigen.

“Mendorong industri untuk mengalihkan produksi gas diutamakan ke produksi oksigen kesehatan,” ujarnya.

Selain itu, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan seluruh produksi oksigen di Indonesia dialihkan untuk kebutuhan RS. Sebelumnya, sektor kesehatan hanya mendapat 25% dari keseluruhan produksi.

“Oksigen ini juga sebetulnya karena ada kenaikan 3-4 kali mungkin total yang dibutuhkan jadi distibusi sempat terhambat. Namun ada pengaturan dari lima produsen oksigen kita meminta 100% diberikan ke masalah kesehatan,” kata Luhut dalam konferensi pers virtual, Senin (5/7/2021).

Lihat Juga: Oksigen Habis, 33 Pasien RSUP Dr Sardjito Meninggal Dunia

Saat ini dipastikan kebutuhan oksigen sudah teratasi. Opsi impor gas oksigen juga tengah dipertimbangan apabila stok masih belum mencukupi.

“Memang oksigen, sejumlah tempat kurang ini kita atasi. Bahkan ada justru kita opsi mengimpor dan saat ini berjalan,” terang Luhut.

Sedangkan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi menyebut telah mendapatkan komitmen dari Kementerian Perindustrian untuk mengalihkan alokasi produksi oksigen. Sebanyak 90% prosukdi dalam negeri bakal dialihkan ke kebutuhan medis.

“Kami telah mendapat komitmen dari Kemenperin, kita telah koordinasi dengan Menteri Perindustrian supaya konversi oksigen dari industri ke medis diberikan, hingga 90%. Maka sekitar 575.000 ton/tahun produksi oksigen dalam negeri bakal dialokasikan ke medis,” papar Menkes Budi.

Menurut Menteri Kesehatan, sebelumnya sektor medis hanya mendapatkan 25% atau 181.000 ton/tahun, sementara 75% untuk kebutuhan industri. Diketahui, kapasitas produksi nasional 866.000 ton/tahun tetapi seluruh pabrik membutuhkan 75% pasokan hingga riil produksi per tahun yaitu 640.000 ton.

Disebutkan, Jawa Tengah termasuk sebagai wilayah dengan produksi terendah. Sementara Jawa Barat dan Jawa Timur memiliki logistik oksigen terbanyak.

“Kita memang sadar terdapat isu dari sisi distribusi, sebab memang Jawa Tengah paling rendah produksi oksigennya. Banyaknya terdapat di Jawa Barat, Jawa Timur. Maka kita harus memiliki logistik yang disalurkan ke sana,” lanjutnya.

Pemerintah Akan Impor Tabung Oksigen

Meningkatnya kamar-kamar darurat untuk pasien COVID-19 membuat distribusi oksigen tabung lebih banyak. Menteri Kesehatan pun berkoordinasi untuk mengimpor tabung oksigen.

“Sebab formatnya RS banyak memakai tabung, sebab tambahan kamar darurat. Jadi tak memakai oksigen yang bersifat liquid, jadi kita lihat ada sedikit isu distribusi yang sebelumnya kita mengirim truk besar langsung masukan ke tangki besar liquid untuk disalurkan ke jaringan oksigen. Saat ini harus dilakukan menggunakan tabung,” kata Budi Gunadi Sadikin.

“Jadi kita dengan Menteri Perindustrian telah berkoordinasi untuk mengimpor tabung yang enam meter kubik dan satu meter kubik untuk memenuhi ruang darurat tambahan yang terdapat di RS,” sambungnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top