News

Pembajakan Kapal Terjadi Lagi, Jenderal Gatot : TNI Siap Serbu Perompak

Jenderal Gatot Nurmantyo selaku Panglima TNI menegaskan bahwa Natuna harga mati, dimana Pulau Natuna berada di wilayah Indonesia Mutlak milik Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Wilayah NKRI, tidak dapat dinegosiasi, sudah utuh, dan harga mati," ucap Nurmantyo (26/9). Nurmantyo menambahkan bahwa, TNI akan membangun pangkalan pesawat 'TNI AU', Pangkalan Kapal 'TNI AL' dan Pangkalan TNI AD di Pulau Natuna. Pembangunan pangkalan militer TNI di Pulau Natuna sampai saat ini masih dalam proses. "Pangkalan seedang kita bangun di sana," ucapnya. Pangkalan tersebut diharapkan dapat selesai dalam dua hingga tiga tahun kedepan. Pulau Natuna yang strategis, dimana letak Pulau tersebut dekat dengan laut China Selatan dan memiliki sumber daya alam yang banyak, jadi pulau tersebut diperebutkan banyak negara seperti Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina, dan China. Pulau yang merupakan pulau-pulau terluar wilayah Indonesia, telah ditetapkan dalam deklarasi Djuanda 1957. Selain itu, SesuaiKonvensi Hukum Laut 1982, titik tersebut telah didaftarkan oleh pemerintah Indonesia dan PBB pada tahun 2009.

Aksi yang dilakukan para pembajak laut di perairan Filipina dan Malaysia membuat geram Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Kini TNI menyiapkan para personelnya untuk menyerbu para perompak tersebut.

Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan (16/4), “Saya tegaskan bahwa TNI sudah menyiapkan pasukan untuk menindak tegas.”. Pasukan yang dikerahkan sudah berada di perbatasan Indonesia-Malaysia-Filipina dengan menggunakan KRI Slamet Riyadi dan KRI Badau.

Pembajak laut kali ini menambahkan daftar insiden di perairan perbatasan Malaysia-Filipina. Bulan lalu ‘Maret’ Kapal Anand 12 dan Kapal Brahma 12 yang mengangkut sepuluh awak dibajak oleh Militan Abu Sayyaf ketika melintasi perairan tersebut. dan meminta tebusan atas kesepuluh warga negara Indonesia sebesar 50 Juta Peso.

Diduga pelaku penculikan kali ini tetap sama ‘Militan Abu Sayyaf’, tapi kepastian siapa pelaku penculikan tersebut belum dapat dipastikan.

Terkait kasus perompakan pertama, Filipina menolak keterlibatan militer Indonesia dalam pembebasan sandera. Sejumlah tentara Filipina dilaporkan tewas dalam kontak senjata untuk upaya pembebasan sandera. Sampai kini para sandera belum lepas.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top