News

Pembantaian di Bucha dan Pembelaan Diri Rusia

Pembantaian di Bucha dan Pembelaan Diri Rusia

Foto mayat-mayat bergelimpangan di jalanan kota Bucha, Ukraina, memantik kemarahan dunia. Di antara mayat tersebut, ada yang dalam keadaan tangan terikat. Ukraina pun menuding pasukan Rusia melakukan pembantaian di Bucha.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuding Rusia melakukan genosida bersamaan saat pasukannya mundur dari Bucha. Rusia meninggalkan jalanan yan dipenuhi oleh tubuh tak bernyawa warga Ukraina.

Ukraina mengklaim bukti yang memberatkan yakni eksekusi warga sipil, penjarahan sistematis dan pemerkosaan oleh pasukan Rusia.

Kyiv meminta Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menyelidiki peristiwa di Bucha, setelah munculnya rekaman dan saksi mata, jalanan yang penuh dengan mayat, penculikan dan mayat di kuburan masal.

Tertangkap Gambar Satelit

Temuan mayat didukung pula oleh gambar satelit terkait kuburan massal di Bucha yang diberikan oleh perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Maxar Technologies. Gambar tersebut memperlihatkan parit sepanjang 12 meter digali di sekitar gereja.

Lihat Juga: Sejarah Konflik Rusia vs Ukraina yang Kini Makin Memanas

Parit itu, menurut Maxar Technologies, adalah kuburan massal yang ditemukan pada Minggu (3/4/2022), setelah pasukan Rusia mundur dari wilayah tersebut.

Maxar Technologies juga menyampaikan tanda-tanda pertama penggalian pemakaman massal di Gereja St. Andrew dan Pyervozvannoho All Saints tampak pada 10 Maret 2022.

Kabar ini pun memantik kemarahan Barat, yang menentang invasi rusia sejak awal. Dugaan pembantaian di Bucha ini pun membuat negara-negara pendukung Ukraina segera menjatuhkan sanksi tambahan untuk Rusia.

Pembelaan Rusia Atas Tudingan Pembantaian di Bucha

Kementerian Luar Negeri Rusia menuturkan Amerika Serikat sengaja membuat rekaman tentang warga sipil yang tewas di Bucha, Ukraina. Rekaman tersebut adalah bagian dari rencana untuk menyudutkan dan menyalahkan Rusia.

"Siapa yang menguasai provokasi? Tentu saja Amerika Serikat dan NATO," ujar juru bicara Kemenlu Rusia Maria Zakharova saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi pemerintah, (3/4/2022) malam waktu setempat.

Zakharova menyampaikan kemarahan Barat atas gambar warga sipil yang tewas memperlihatkan bahwa cerita tersebut merupakan bagian dari rencana untuk mencoreng reputasi Rusia.

Lihat Juga: Rusia Serang Ukraina, Infrastruktur Militer dan Penjaga Perbatasan Diserbu

Kementerian Pertahanan Rusia juga menolak tuduhan Ukraina dengan menyebut rekaman dan foto yang menunjukkan mayat-mayat di Bucha merupakan “provokasi” dari Ukraina.

Gambar mayat di kota itu muncul setelah Ukraina mengatakan pasukannya berhasil merebut kembali seluruh wilayah Kyiv dan membebaskan kota-kota di sekitarnya dari Rusia, Sabtu (2/4/2022).

Menurut Kremlin, militer Rusia sudah meninggalkan Bucha pada 30-31 Maret 2022. Sementara foto-foto tersebut muncul setelah 2 April 2022.

Karena itulah, Rusia meminta Dewan Keamanan PBB untuk melakukan pertemuan setelah tuduhan pembantaian di Bucha.

PBB sendiri telah berencana menerjunkan tim independen untuk menangani insiden ini. Terlepas dari siapa pelakunya, pembantaian di Bucha merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang harus diungkap secara tuntas.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top