News

Pengamat: Kemungkinan PDIP-Gerindra Berkoalisi di Pilpres 2024

Pengamat: Kemungkinan PDIP-Gerindra Berkoalisi di Pilpres 2024

Pengamat politik sekaligus Direktur Indo Barometer M Qodari membeberkan analisis politiknya terkait hubungan PDIP dan Gerindra. Qodari menilai kedua partai itu sangat mungkin ‘bergandengan tangan’ di Pilpres 2024 mendatang. Dia mengungkapkan tiga alasan dibalik analisisnya itu.

“Kemungkinan PDIP memang berkoalisi dengan Gerindra dengan tiga alasan. Pertama, kedekatan ideologi PDIP dengan Gerindra. Partai ini sesungguhnya sama-sama berasal dari segmen atau kubu nasionalis perfeksionis. Artinya, kubu nasionalis yang ideologinya itu pasar, tapi ada peran negara di sana untuk melindungi kelas menengah ke bawah,” kata Qodari, Jumat (28/5/2021).

Qodari kemudian mengungkapkan alasan yang kedua. Dia menyoroti hubungan dekat antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Menurutnya, ada peran penting Megawati yang tidak mungkin dilupakan Prabowo.

“Kedua, kedekatan pribadi bu Mega dengan pak Prabowo. Prabowo itu kembali ke Indonesia ada peran dari ibu Mega dan almarhum pak Taufiq Kiemas. Itu tidak mungkin bisa dilupakan,” imbuhnya.

Pengamat politik itu juga menyoroti hubungan dekat antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo. Meski bersaing di Pilpres 2019 dan 2014 lalu, kata dia, kedua tokoh itu sesungguhnya ‘sahabat’ yang saling mendukung.

“Ketiga, kedekatan pribadi Jokowi dengan Prabowo, yang sebetulnya walaupun dua kali menjadi lawan tanding, tapi sesungguhnya keduanya ini teman atau sahabat yang saling mendukung ketika dibutuhkan,” ungkapnya.

Qodari Prediksi Formasi di Pilpres 2024

Lebih lanjut, Qodari juga memaparkan analisis politiknya terkait formasi yang akan dibangun PDIP dan Gerindra di Pilpres 2024. Dia memprediksi Jokowi-Prabowo mungkin saja menjadi pasangan capres-cawapres jika terjadi amandemen terkait masa jabatan presiden menjadi tiga periode.

“Kalau amandemen UUD ’45 terjadi dan Jokowi bisa tiga periode. Maka, Jokowi akan jadi calon presiden mewakili PDIP dan Prabowo akan jadi cawapres dari Partai Gerindra,” beber Qodari.

Di sisi lain, menurut Qodari, Prabowo kemungkinan menjadi capres dan digandengkan dengan Puan Maharani sebagai cawapres jika aturan masa jabatan presiden hanya boleh maksimal dua periode. Namun, dengan syarat elektabilitas Prabowo lebih tinggi dari Puan Maharani.

“Kalau tidak terjadi amandemen (terkait masa jabatan presiden dua periode) Prabowo menjadi capres, dengan catatan kalau surveinya masih di atas tokoh PDIP. Yang saya maksud tokoh PDIP itu ada hari ini Puan Maharani, bukan Ganjar. Menurut saya mas Ganjar ini sudah hampir mustahil diangkat oleh PDIP karena sudah dianggap kebablasan atau sudah diragukan,” tegasnya.

Pengamat politik itu menekankan bahwa formasi capres-cawapres yang diusung PDIP dan Gerindra bisa saja berubah. Ini akan mengikuti dinamika politik yang terjadi.

“Jadi koalisi PDIP dan Gerindra ini sudah hampir pasti bahkan istilah saya sudah kawin gantung. Tinggal peresmian saja di tahun 2024. Tapi mengenai format apakah Prabowo capres atau cawapres, tergantung dinamika politik ke depan,” papar Qodari.

Untuk diketahui, menurut keterangan Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Prabowo saat ini masih fokus menjalankan tugasnya sebagai Menteri Pertahanan di tengah isu Pilpres 2024. Adapun partai Gerindra, lanjut Dasco, fokus melakukan konsolidasi dan membantu pemerintah menangani pandemi Covid-19.

“Beliau (Prabowo) masih fokus kerja, untuk memperkuat pertahanan negara. Atau, menjalankan tugas sebagai pembantu Presiden. Dan, kami yang di Gerindra juga fokus konsolidasi partai sekaligus dalam masa pandemi ini membantu pemerintah mengatasi Covid-19,” kata Dasco, Jumat (28/5/2021).

To Top