News

Pengamat: UI Gak Usah Kebakaran Jenggot!

Pengamat: UI Gak Usah Kebakaran Jenggot!

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio alias Hensat mengomentari reaksi kampus Universitas Indonesia (UI) terkait unggahan ‘Jokowi King of Lip Service’ dari BEM UI. Hensat meminta pihak kampus UI tidak kebakaran jenggot.

“Bagi UI tak perlu kebakaran jenggot, karena itu-lah demokrasi yang dimunculkan mahasiswa. Opininya blak-blakan, terbuka. Dan, menurut saya jangan setiap kritikan yang disampaikan adik-adik mahasiswa kemudian mereka dituduh terlibat organisasi-organisasi yang dilarang pemerintah, kemudian mereka dituduh radikal. Masa setiap kali kritikan, orang yang memberikan kritikan dibilang radikal? Kan nggak juga, inilah demokrasi,” kata Hensat, Senin (28/6/2021).

Hensat kemudian menyoroti ‘aksi’ netizen yang membandingkan kondisi di era Jokowi dengan rezim Orde Baru. Dia meminta rezim saat ini harus menjaga semangat reformasi dan menjunjung nilai demokrasi.

“Jangan begitu, rezim ini hadir karena Orde Baru runtuh. Maka, rezim ini harus bisa lebih baik dari rezim Orde Baru. Harus bisa menjaga semangat reformasi. Harus bisa menjaga demokrasi. Jangan kemudian merasa lebih hebat dari Orde Baru karena itu tidak bisa dibandingkan,” terangnya.

Pemerintah Harusnya Terima Kritikan Mahasiswa

Lebih lanjut, Hensat meminta pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima masukan dan kritikan dari mahasiswa. Pengamat politik itu menilai suara mahasiswa mewakili suara masyarakat.

“Apa yang disampaikan adik-adik mahasiswa itu masih dalam tataran wajar. Begitulah cara mahasiswa menyampaikan pendapat, sangat gambling, terbuka, khas mahasiswa. Seharusnya ini menjadi masukan kritis buat pemerintah dan segera memperbaiki diri. Masukan-masukan yang diberikan mahasiswa adalah masukan-masukan yang ada dan dirasakan oleh masyarakat. Karena pada saat mahasiswa bersuara, maka di situ ada hati yang diwakili dari masyarakat,” jelas Hensat.

Hensat mendorong mahasiswa untuk tetap lantang mengkritisi pemerintah. Untuk pemerintah, dia berharap suara mahasiswa tidak hanya diabaikan, melainkan dijadikan acuan untuk melakukan evaluasi.

“Maju terus gerakan mahasiswa. Mohon bijaksana kampus yang memiliki mahasiswa-mahasiswa kritis. Dan, bagi pemerintah masukan kritis dari mahasiswa bisa diterima dengan baik dan dijadikan fondasi untuk memperbaiki diri,” ungkap dia.

Hensat Sayangkan Peretasan Akun Pengurus BEM UI

Di sisi lain, pengamat politik dari Universitas Paramadina itu menanggapi peretasan terhadap sejumlah akun BEM UI usai menunggah postingan ‘Jokowi King of Lip Service’. Hensat menyayangkan kejadian itu yang semestinya tidak perlu terjadi.

“Ayolah, juta punya BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara). Kita punya Menkominfo, masa sih penyampaikan ini harus dibalas dengan pembajakan akun WA. Tapi, itu hanya isu. Tapi, isu ini harus diklarifikasi pemerintah. Jangan sampai kemudian ada image negatif dari pemerintah bila ada seorang yang mengkritisi pemerintah kemudian WA-nya dibajak,” ucap Hensat.

Hensat kemudian menjelaskan alasan pentingnya pemerintah menyampaikan klarifikasi terkait peretasan sejumlah akun BEM UI tersebut. Tidak elok, kata dia, kritikan dari mahasiswa dibalas dengan peretasan akun.

“Ini masalah seriusloh. Dan harus segera diklarifikasi oleh pemerintah, bukan masalah ecek-ecek. Apalagi buat Indonesia sebuah negara demokrasi, jangan kemudian ada yang mengkritik, lantas diganggu hak-hak pribadinya. Jangan seperti itu, harus segera diklarifikasi. Jangan kayak fitu, masa lawan mahasiswa pakai bajak-bajakan,” tambahnya.

Sebelumnya, pihak rektorat kampus UI memanggil BEM UI terkait unggahan ‘Jokowi The King of Lip Service’ di media sosial. UI menyebut pemanggilan tersebut merupakan proses pembinaan kemahasiswaan.

“Pemanggilan terhadap BEM UI ini karena menilai urgensi dan masalah yang sudah ramai sejak postingan yang mereka buat di akun social media BEM UI. Pemanggilan ini adalah bagian dari proses pembinaan kemahasiswaan yang ada di UI,” terang Kepala Humas dan KIP UI Amelita Lusia.

To Top