News

Polemik TWK KPK, Pengamat: Pertanyaannya Jahat

Polemik TWK KPK, Pengamat: Pertanyaannya Jahat

Hingga hari ini, sejumlah pihak ramai menyoroti pertanyaan-pertanyaan nyeleneh dalam tes wawasan kebangsaan (TWK) untuk alih status pegawai KPK menjadi ASN. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah tentang salat subuh menggunakan qunut atau tidak.

Pengamat hukum tata negara Feri Amsari menyebut pertanyaan dalam TWK KPK itu merupakan pertanyaan jahat dan tidak bermoral.

“Ada juga penjahat yang lebih profesional ya, sistematis, bagus, bersih mainnya. Kita bingung mau seperti apa. Maka timbul-lah pertanyaan-pertanyaan jahat. Kurang jahat apa orang bertanya kepada perempuan yang tidak memiliki anak setelah menikah, itu kurang jahat apa? Itu tidak hanya immoral, tapi sifat setan,” kata Feri, Minggu (9/5/2021).

Feri kemudian menyoroti pertanyaan nyeleneh tentang lepas jilbab. Dia menekankan pertanyaan semacam itu betul-betul ‘jahat’.

“Lalu kurang jahat apa orang bertanya ada orang punya keyakinan agama lalu meminta orang melepaskan keyakinannya itu, lalu mencoba mengontradiksikan keyakinannya itu dengan pemahaman yang berbeda,” tegas Feri.

“Misalnya, Anda mau nggak melepas jilbab, ya pasti orang beragama tidak mau buka jilbab, ini konteks-nya agama Islam. Lalu ketika Anda tidak mau, dia bilang berarti Anda sangat individualistik. Berarti ini wawancaranya sudah tidak bermoral, satanis, juga tidak paham prinsip agama,” sambungnya.

Feri pun kembali menyoroti pertanyaan nyeleneh lainnya. Misalnya pertanyaan tentang apa saja yang dilakukan saat pacaran. Menurut dia, pertanyaan itu tidak jelas dan membuat resah para pegawai KPK.

“Nggak ada bapak bangsa dan ibu bangsa mengajarkan pertanyaan yang seperti itu. Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang mengambang, yang membuat warga KPK tidak nyaman,” terangnya.

Dewas KPK: TWK KPK Bermasalah

Di sisi lain, anggota Dewan Pengawas (Dewas) KPK Syamsuddin Haris menilai TWK untuk pegawai KPK bermasalah. Menurut Syamsuddin, tes tersebut tidak bisa dijadikan landasan untuk menonaktifkan pegawai KPK.

“Saya pribadi berpendapat bahwa TWK bagi pegawai KPK memang bermasalah. Sehingga, tidak bisa dijadikan dasar pemberhentian pegawai,” kata Syamsuddin, Minggu (9/5/2021).

Syamsuddin mengatakan anggota Dewas KPK tidak pernah dilibatkan dalam proses alih status pegawai KPK menjadi ASN. Lebih lanjut, kata dia, Dewas KPK juga tidak pernah dilibatkan dalam skema tes wawasan kebangsaan (TWK) yang kini diperdebatkan sejumlah pihak.

“Saya tidak bisa mewakili suara Dewas. Apalagi Dewas tidak pernah dilibatkan dalam proses alih status pegawai dan juga skema tes wawasan kebangsaan,” tambahnya.

Sebelumnya, sejumlah pegawai KPK mengaku mendapatkan pertanyaan nyeleneh saat menjalani TWK untuk alih status pegawai KPK menjadi ASN. Salah satunya adalah pertanyaan tentang qunut di dalam salat subuh.

“Ditanya subuhnya pakai qunut apa nggak. Ditanya Islam-nya Islam apa. Ada yang ditanya kenapa belum nikah, masih ada hasrat apa nggak,” terang seorang pegawai KPK, Rabu (5/5/2021) lalu.

Pegawai KPK perempuan bahkan ditanya tentang menikah dan hasrat. Dia pun mengaku mendapatkan pertanyaan yang menjurus ke poligami.

“Ada yang ditanya kenapa belum nikah. Masih ada hasrat apa nggak. Ditanya mau jadi istri kedua saya nggak. Nggak tahu maksudnya hasrat apa,” ungkap pegawai KPK perempuan itu.

Masih menurut pengakuan pegawai KPK, dalam TWK KPK itu juga ditanyakan soal lepas jilbab hingga urusan pribadi lainnya.

“Aku ditanya bersedia nggak lepas jilbab. Pas jawab nggak bersedia, dibilang berarti lebih mementingkan pribadi daripada bangsa negara,” ucap pegawai KPK perempuan.

“Ditanya kenapa belum punya anak,” papar pegawai KPK perempuan lainnya.

“Ditanya kenapa cerai,” terang pegawai lainnya.

To Top