News

Polisi Tembak Gas Air Mata di Liga Argentina, 1 Orang Meninggal, Mirip Tragedi Kanjuruhan

Liga Argentina

Suporter sepak bola di Argentina meninggal dunia usai terkena gas air mata saat pertandingan Gimnasia La Plata vs Boca Juniors di liga Argentina.

Pertandingan liga Argentina tersebut harus terhenti setelah gas air mata yang ditembakkan oleh polisi di luar venue melayang ke dalam stadion hingga membuat para pemain dan penonton sulit bernapas.

Menteri keamanan provinsi Buenos Aires, Argentina, mengatakan kepada televisi lokal bahwa salah satu suporter yang meninggal dunia di liga Argentina karena masalah jantung saat ia meninggalkan Stadion Juan Carmelo Zerillo di La Plata.

Insiden tersebut terjadi lima hari setelah tragedi kanjuruhan yang menewaskan ratusan suporter di Indonesia. Dimana kejadian tersebut merupakan yang terbesar dalam dunia sepak bola.

Dilansir dari Sportstar, Pihak yang berwenang di Argentina mengatakan bahwa suporter liga Argentina dari Gimnasia berusaha memaksa masuk ke stadion yang sudah penuh. Kerusuhan di liga Argentina ini memaksa polisi menggunakan peluru karet dan gas air mata untuk membuat mereka mundur.

Kondisi Pemain dan Penonton di Liga Argentina Kacau

Para pemain terlihat menutupi wajah dan hidung mereka, sementara para pendukung memasuki lapangan saat mereka mencoba melarikan diri dari efek gas air mata hingga menyebabkan pertandingan tersebut dihentikan selama sembilan menit.

Pemain Gimnasia Leonardo Morales yang mengatakan bahwa anaknya tidak bisa bernafas setelah terkena gas air mata.

“Putra saya yang berusia dua tahun tidak bisa bernapas. Kami merasa putus asa dan khawatir tentang semua orang di tribun,” kata Leonardo Morales, dikutip dari laman Sportstar.

“Kami memainkan pertandingan sepak bola normal dan itu mengubahnya menjadi ini dan perasaan bahwa kerabat kami hampir mati.” katanya.

Sementara itu Berni selaku pihak yang berwenang akan segera melakukan penyelidikan atas insiden di liga Argentina tersebut.

“Kami akan menuntut penyelidikan atas apa yang terjadi sampai mereka yang bertanggung jawab atas hari tragis ini,” pungkasnya.

Sejak tahun 2013, kepolisian setempat telah merang ultras Boca Junior menyaksikan liga Argentina di kandang Gimnasia itu karena sering menimbulkan kerusuhan.

Kekacauan stadion akibat gas air mata di liga argentina

Abaikan Aturan FIFA

Dalam tragedi Kanjuruhan, Gas air mata diyakini menjadi faktor banyaknya korban berjatuhan di Tragedi Kanjuruhan pasca-laga Arema vs Persebaya pada Sabtu, (1/10/2022) malam WIB.

Seperti yang kita tahu, kericuhan terjadi di Stadion Kanjuruhan pasca-laga Arema vs Persebaya yang berakhir dengan skor 2-3.

Suporter tuan rumah, Arema FC merasa kecewa dengan kekalahan Singo Edan dan merangsek masuk ke lapangan Kanjuruhan.

Akibat kerusuhan tersebut, 131 melayang, banyaknya korban jiwa dikarenakan penembakan gas air mata yang dilakukan polisi.

Faktanya, penggunaan gas air mata dalam keamanan sepakbola sudah dilarang oleh bapak federasi sepakbola dunia, FIFA. Aturan ini tertuang dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations pasal 19b.

“No fire arms or crowd control gas shall be carried or used [Tidak boleh membawa atau menggunakan senjata api atau gas air mata],” tulis aturan tersebut.

Pasal 19 sendiri membahas tentang aturan petugas lapangan dan polisi dalam menjaga ketertiban di stadion saat pertandingan.

“Untuk melindungi para pemain dan ofisial, serta menjaga ketertiban umum, maka mungkin diperlukan untuk mengerahkan petugas lapangan dan/atau polisi di sekeliling lapangan permainan. Saat melakukannya, pedoman berikut harus dipertimbangkan,” kata aturan tersebut.

Maka dari itu pelarangan gas air mata dalam mengontrol ketertiban stadion harusnya sangat diperhatikan oleh aparat kepolisian.

Terpisah, sejumlah peneliti mengungkapkan alasan mengapa gas air mata perlu dilarang dalam berbagai bentuk upaya kontrol kerusuhan.

Dalam sebuah penelitian yang dari Universitas Toronto berjudul The Problematic Legality of Tear Gas Under International Human Rights Law, peneliti menyebut salah satu alasan senjata ini perlu dilarang adalah efek kesehatan yang mungkin terjadi pada mereka yang terpapar.

“Studi menunjukkan bahwa paparan jangka panjang dalam bentuk yang kita lihat dengan pengaturan protes membuat mereka yang terkena dampak [gas air mata] berisiko lebih tinggi untuk sejumlah penyakit, termasuk tertular penyakit pernapasan seperti COVID-19,” ujar Vincent Wong Research Associate di International Human Rights Law (IHRP) Universitas Toronto dan rekan penulis penelitian William C.

Selain efek kesehatan, gas air mata juga memberikan efek yang luas, sehingga memungkinkan dampak gas tak hanya pada perusuh, tetapi juga mereka yang ada di sekitarnya.

Dilansir dari Eurekalert, gas air mata tidak bisa membedakan antara yang muda dan yang tua, yang sehat dan yang sakit, serta yang damai dan yang rusuh.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top