News

Saat Dirut Krakatau Steel Diteriaki Maling dan Diusir DPR

Saat Dirut Krakatau Steel Diteriaki Maling dan Diusir DPR

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim diusir Komisi VII DPR RI ketika rapat dengar pendapat yang digelar hari ini, Senin (14/2/2022). Dirut Krakatau Steel ini diusir langsung oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Bambang Haryadi yang jadi pemimpin rapat.

Kronologi Silmy diusir dari rapat berawal saat dirinya memotong pembicaraan Bambang. Ketika itu, Bambang menanggapi penjelasan yang disampaikan Silmy terkait masalah yang terjadi di pabrik baja sistem tanur tinggi atau blast furnace punya Krakatau Steel.

Pada penjelasannya, Silmy sempat menuturkan sejak 2018 menjabat sebagai pimpinan Krakatau Steel, dia menyelesaikan pembangunan proyek pabrik blast furnace yang kala itu progresnya telah mencapai 98%.

Dirut Krakatau Steel ini menyebut pada 2019 lalu pabrik itu sempat beroperasi dan berproduksi. Namun mengalami kerugian karena harga jual produk yang dihasilkan tak cocok dengan biaya produksi. Usai berkonsultasi dengan Kementerian BUMN dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Silmy menuturkan perusahaan baja tersebut memutuskan menghentikan operasional pabrik blast furnace.

Merespons hal tersebut, Bambang mengaku bingung dengan keputusan manajemen Krakatau Steel yang memberhentikan operasional pabrik itu. karena semangat awal pendirian pabrik tersebut dinilai baik karena untuk memperkuat industri baja RI.

Lihat Juga: Presiden Minta BUMN Sakit Ditutup! Apa Saja Daftarnya?

Namun pembangunan pabrik itu memakan waktu lama dan melewati target yang seharusnya beroperasional pada 2015. Pabrik yang dibangun mulai 2012 ini beroperasi pada Juli 2019 tetapi dihentikan akhir 2019 lalu sehingga keuangan perusahaan terbebani.

"Ini ada yang unik, pabrik untuk blast furnace ini dihentikan, tapi satu sisi ingin memperkuat produksi dalam negeri. Ini jangan maling teriak maling gitu lah. Jangan kita ikut bermain, pura-pura nggak ikut bermain," ujar Bambang.

Respons Dirut Krakatau Steel Soal “Maling Teriak Maling”

Silmy pun langsung merespons pernyataan politikus asal Partai Gerindra itu dengan mempertanyakan maksud kalimat maling teriak maling.

"Maksudnya maling bagaimana, Pak?" tanya Dirut Krakatau Steel.

“Anda bilang ingin memperkuat, tapi di satu sisi Anda ingin menghentikan (pabrik blast furnace). Jadi mana semangat untuk memperkuatnya?" balas Bambang.

Ia pun menyinggung kasus pemalsuan SNI produk baja yang telah bergulir di Polda Metro Jaya dan melibatkan pemilik PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP), Kimin Tanoto.

Bambang mengatakan perusahaan milik Kimin adalah anggota Asosiasi Besi dan Baja Nasional/The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) yang dipimpin Silmy. Tetapi pembicaraan Bambang tersebut dipotong Silmy.

Dia mengatakan bahwa kehadirannya di Komisi VII yaitu sebagai Dirut Krakatau Steel, bukannya sebagai Ketua IISIA. Menanggapi pernyataan tersebut, Bambang meminta Silmy menghormati proses rapat bersama Komisi VII DPR.

"Betul (sebagai Dirut Krakatau Steel). Anda tolong hormati persidangan ini. Ada teknis persidangan. Kok kayaknya Anda nggak menghargai Komisi? Kalau sekiranya Anda nggak bisa ngomong di sini, Anda keluar," ujar Bambang.

Silmy lalu menanggapi pernyataan Bambang itu.

"Baik, kalau memang harus keluar, kita keluar," kata Silmy.

Bambang kembali menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan Silmy merasa dirinya hebat.

"Keluar, Anda keluar. Anda merasa hebat," ucap Bambang.

Anggota komisi lain pun menimpali bahwa sikap Silmy dinilai menentang Komisi VII DPR. Sehingga, sebagian besar Anggota Dewan menyetujui keputusan Bambang untuk mengusir Dirut Krakatau Steel itu.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top