News

Serangan Junta Militer Myanmar Tewaskan 100 Orang Saat Konser Musik

Junta Militer Myanmar

Dikutip dari Reuters Junta militer Myanmar melakukan serangan udara saat ada konser di Myanmar, akibatnya diperkirakan ada 100 orang tewas.

Ini merupakan jumlah korban serangan udara terbanyak sejak kudeta pecah tahun lalu. Seorang anggota tim penyelamat Myanmar melaporkan bahwa 100 orang yang tewas itu termasuk penyanyi dan musisi pengisi acara.

Associated Press melaporkan bahwa serangan itu terjadi ketika Organisasi Kemerdekaan Kachin sedang merayakan hari jadi mereka dengan gelaran konser. Seorang juru bicara Asosiasi Seniman Kachin mengatakan bahwa pesawat militer Myanmar menjatuhkan empat bom ketika konser sedang berlangsung pukul 20.00 waktu setempat.

Saat itu, antara 300-500 orang menghadiri konser tersebut. Mereka langsung kocar-kacir dan puluhan di antaranya meninggal dunia.

Kantor informasi junta militer Myanmar mengonfirmasi bahwa mereka memang melancarkan serangan ke markas Brigade Kesembilan Tentara Kemerdekaan Kachin.

Menurut mereka, serangan itu merupakan “operasi yang dibutuhkan” sebagai respons atas tindakan “teroris” yang dilancarkan kelompok Kachin.

Namun, mereka membantah kabar militer membombardir konser. Mereka juga membantah informasi yang menyebutkan penyanyi dan warga sipil menjadi korban tewas dalam serangan itu.

AP sendiri tak bisa mengonfirmasi laporan kematian dan serangan ini secara independen.

Sementara itu, kantor perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Myanmar menyatakan “kekhawatiran mendalam dan sangat sedih” dengan laporan serangan udara tersebut.

“[Serangan] yang tampaknya berlebihan dan merupakan penggunaan kekuatan tak wajar oleh angkatan bersenjata terhadap warga sipil tak bersenjata itu tak dapat diterima, dan yang bertanggung jawab harus diadili,” demikian pernyataan mereka.

Perwakilan sejumlah negara Barat di Myanmar juga merilis kecaman melalui pernyataan bersama.

“[Serangan ini menunjukkan junta militer] melanggar kewajiban mereka untuk melindungi warga sipil dan menghormati prinsip hukum internasional,” demikian kutipan pernyataan bersama tersebut.

Myanmar dilanda pertempuran sejak tentara menggulingkan pemerintah terpilih awal tahun lalu. Gerakan perlawanan yang beberapa di antaranya bersenjata bermunculan di seluruh negeri, dan dilawan oleh militer dengan kekuatan mematikan. Juru bicara KIA Naw Bu mengatakan, serangan itu menargetkan perayaan 62 tahun berdirinya sayap politik tentara Kachin yaitu Organisasi Kemerdekaan Kachin (KIO).

Junta Militer Myanmar
Pemimpin San Suu Kyi bersama militer Myanmar

Apa itu Junta Militer Myanmar?

Junta militer Myanmar mengambil alih kendali negara dalam kudeta pada Senin, 1 Februari 2021. Mereka menggulingkan pemerintah yang dipilih secara demokratis dengan menangkap Kanselir Aung San Suu Kyi, Presiden Myanmar Win Myint, dan beberapa tokoh senior Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dalam sebuah penggerebekan dini hari. 

Junta militer Myanmar ini terjadi akibat ketegangan antara pemerintah dan militer. Tentara menuduh pemerintah mencurangi pemilihan parlemen pada November 2020 lalu. Panglima Tertinggi Tatmadaw, Jenderal Min Aung Hlaing langsung mengumumkan bahwa dia mengambil alih kekuasaan, sembari menuduh adanya kecurangan dalam pemilihan umum yang diadakan pada tahun 2020 lalu, di mana partai Suu Kyi memperluas mayoritas parlemennya dengan mengorbankan perwakilan militer.

Dikutip dari Time, kudeta Junta militer Myanmar tersebut akan membatalkan reformasi demokrasi yang dimenangkan sipil Myanmar dengan susah payah. Ini terjadi hanya lima tahun setelah Suu Kyi memenangkan kepemimpinan politik dalam pemilihan paling bebas setelah beberapa dekade berada dalam cengkeraman militer.

Junta Militer Myanmar Banyak Melanggar HAM

Junta militer Myanmar dipimpin para jenderal militer. Mereka yang mengendalikan negara dan sering membungkam semua perbedaan pendapat, bahkan kerap dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Hal tersebut memicu kecaman dan sanksi internasional terhadap Myanmar, yang kala itu berada di bawah kepemimpinan militer. 

Sejak tahun 2011, Myanmar mulai melakukan serangkaian reformasi secara bertahap, dan mereka mulai melakukan pemilihan umum secara bebas pada tahun 2015. Pemilu tersebut membawa Suu Kyi–putri seorang pahlawan kemerdekaan yang terbunuh–ke tampuk kekuasaan, ini dianggap sebagai pemilihan umum paling bebas dalam 25 tahun. 

Namun, seperti diwartakan BBC, operasi militer terhadap tersangka teroris di Negara Bagian Rakhine sejak Agustus 2017 telah mendorong lebih dari setengah juta Muslim Rohingnya mengungsi ke negara tetangga Bangladesh. Kejadian ini digambarkan PBB sebagai “pembersihan etnis”. 

Otomatis, tragedi tersebut merusak reputasi pemerintah baru Myanmar di mata internasional dan menyoroti tentang cengkraman militer yang berkelanjutan di Myanmar. Aung San Suu Kyi telah menjalankan tugasnya sebagai Penasihat Negara sejak akhir militer memerintah pada tahun 2016. 

Namun, reputasi pemimpin gerakan pro-demokrasi ini terpukul pada tahun 2017 karena perlakuan pemerintahnya terhadap komunitas Muslim Rohingya, yang menurut PBB sebagai “korban pembersihan etnis di tangan militer”.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top