News

Setelah IDI Pecat Dr Terawan, Seruan Evaluasi dari Yasonna Laoly Banjir Kritikan

Setelah IDI Pecat Dr Terawan, Seruan Evaluasi dari Yasonna Laoly Banjir Kritikan

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly berniat merevisi Undang Undang Kedokteran dan Undang Undang Praktik Kedokteran setelah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memecat Terawan Agus Putranto. Keinginan Yasonna untuk merivisi UU Kedokteran setelah IDI pecat Dr Terawan itu pun menuai kritikan.

Beberapa pengamat menilai pemerintah terlalu banyak ikut campur dalam organisasi kedokteran itu. Sebelumnya, Yasonna mengaku kecewa dengan keputusan IDI memecat mantan Menteri Kesehatan RI itu. Menurutnya, Terawan sudah berjasa menyembuhkan beberapa kerabatnya melalui metode substraction angiography (DSA) alias cuci otak.

Ia menilai tidak seharusnya Terawan dipecat karena menggunakan metode itu. Yasonna pun ingin mengevaluasi keberadaan IDI melalui revisi UU.

"Posisi IDI HARUS dievaluasi! Kita harus membuat undang-undang yang menegaskan izin praktek dokter adalah domain Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan," tulis Yasonna lewat akun Instagram resmi, Rabu (30/3/2022).

Pembelaan Politisi Usai IDI Pecat Dr Terawan, Pengamat: Arogansi, Antidemokrasi!

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, menilai sikap Yasonna merupakan bagian dari pembelaan politisi terhadap Terawan.

Ia melihat terdapat motif balas budi di balik sikap para politikus itu. Namun niat baik tersebut tidak diiringi dengan pemahaman terhadap hukum dan etika dalam profesi kedokteran.

Lihat Juga: Ramai Dr Terawan Dipecat, Ini Jejak Konfliknya dengan IDI

Kunto mengatakan sikap Yasonna dan para politisi lain justru berbahaya. Ia menyebut organisasi profesi berfungsi untuk mengecek pelaksanaan kode etik koleganya. Menurut Kunto, intervensi pemerintah malah bisa merusak tatanan yang telah ada.

"Jangan berharap dokter profesional, advokat yang profesional. Ketika politik masuk berusaha mengintervensi itu, rusak semua bangunan profesionalitas kita," tutur Kunto.

Sementara itu, pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisaksi, Trubus Rahadiansyah, mengatakan masalah IDI pecat dr Terawan merupakan masalah internal organisasi yang sudah diatur oleh UU.

Karena jadi urusan internal organisasi kedokteran maka tak seharusnya Yasonna ikut campur dalam keputusan IDI. Trubus menilai pernyataan Yasonna hanya akan membuat gaduh perdebatan publik.

Intervensi seperti yang dilakukan Yasonna Laoly dikhawatirkan bakal jadi preseden buruk. Ia menyebut bukan tak mungkin pemerintah akan melakukan hal serupa apabila tidak sependapat dengan keputusan organisasi profesi lain.

Trubus mengatakan seharusnya pemerintah memberikan ruang kepada setiap organisasi profesi untuk menyelesaikan masalah internal. Dia khawatir intervensi seperti pada kasus IDI pecat dr Terawan bakal berdampak buruk terhadap sistem demokrasi.

"Jadi bahaya. Saya rasa itu akan mempengaruhi kredibilitas organisasi profesi dan merusak citra profesi kalau pihak-pihak tertentu atas nama kekuasaan ikut mengobok-obok," tutur Trubus.

"Ini cara-cara arogansi, antidemokrasi," sambungnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top