News

Soal Kunjungan Nadiem ke PBNU, PKB: Kurang Melegakan!

Soal Kunjungan Nadiem ke PBNU, PKB: Kurang Melegakan!

Sekretaris Gerakan Sosial dan Kebencanaan DPP PKB Luqman Hakim menanggapi ‘aksi’ Mendikbud Nadiem Makarim mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait Kamus Sejarah Jilid I yang tidak menceritakan perjuangan KH Hasyim Asy’ari. Luqman menilai kunjungan itu kurang melegakan.

“Sebagai bagian dari keluarga besar NU, saya merasa klarifikasi permintaan maaf yang dilakukan Mendikbud Nadiem Makarim kepada PBNU belum cukup melegakan. Kenapa? Kami, keluarga besar NU selama ini sering menjadi korban dari penyusunan sejarah yang manipulative, tidak jujur,” kata Luqman, Kamis (22/4/2021).

Luqmna menilai apa yang termuat dalam kamus sejarah Indonesia merugikan ormas NU. Dia kemudian mencontohkan sejarah Resolusi Jihad NU yang dikatakannya menjadi dasar dari perlawanan 10 November di Surabaya.

“Tidak akan ada hari Pahlawan 10 November jika tidak ada Resolusi Jihad NU 22 Oktober. Negara akhirnya mengakui sejarah Resolusi Jihad NU 22 Oktober. Setelah PKB sebagai kekuatan politik NU menjadi bagian penting dari kekuasaan pemerintahan Presiden Jokowi melalukan berbagai langkah meluruskan sejarah pertempuran Surabaya,” tegas dia.

PKB Sebut Ada Pihak yang Ingin Memecah Belah Bangsa

Lebih lanjut, politikus PKB itu menyebut tidak termuatnya perjuangan KH Hasyim Asy’ari di Kamus Sejarah Jilid I bukan terjadi karena faktor kelalaian. Menurut dia, hal itu terjadi karena ada pihak yang ingin memecah belah bangsa.

“Bagi saya, tidak dicantumkannya nama KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam Kamus Sejarah Indonesia yang disusun Kemendikbud bukanlah kelalaian atau kekhilafan. Saya menduga Kemendikbud telah disusupi kekuatan kontra NKRI yang ingin memecah belah bangsa Indonesia,” ucap Luqman.

Luqman kemudian meminta pihak Kemendikbud melalukan evaluasi total semua dokumen sejarah yang telah diterbitkan oleh pemerintah. Jika tidak melakukan itu, kata dia, Nadiem berarti hanya mencari suaka politik di tengah isu reshuffle, dengan mengunjungi PBNU.

“Jika klarifikasi dan permintaan maaf Nadiem Makarim ke PBNU tidak dilanjutkan dengan evaluasi total seluruh dokumen sejarah yang telah diterbitkan negara. Dan, meluruskannya dengan menggandeng pihak yang berkompeten, termasuk PBNU. Maka, bagi saya kehadiran Nadiem Makarim ke PBNU hanyalah sekadar upaya mencari suaka politik agar tidak dicopot Presiden Jokowi,” imbuhnya.

Nadiem Kunjungi Kantor PBNU

Seperti diketahui, Mendikbud Nadiem Makarim mengunjungi kantor PBNU di Jakarta terkait kamus sejarah yang tidak memuat perjuangan KH Hasyim Asy’ari. Dalam kesempatan itu, Nadiem bertemu dengan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Sekjen PBNU Helmy Faishal dan putri Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Yenny Wahid.

Nadiem menyatakan pihaknya akan merevisi total kamus sejarah tersebut.

“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami sudah membentuk tim untuk merevisi total kamus tersebut,” ucap nadiem, Kamis (22/4/2021).

Kemarin Rabu (21/4/2021), Nadiem juga sudah mengklarifikasi bahwa kamus sejarah yang tidak memuat perjuangan KH Hasyim Asy’ari disusun di era Mendikbud sebelum dirinya. Dia meminta semua pihak menyikapi persoalan itu dengan akal sehat.

“Terkait dengan isu kamus sejarah yang tengah hangat dibahas. Kamus sejarah ini disusun tahun 2017, sebelum saya menjabat. Karenanya, di bulan yang suci ini, alangkah baiknya kita menyikapi permasalahan dengan akal sehat, kepala dingin dengan solusi,” papar Nadiem.

“Begitu saya mendengar isu ini, walaupun terjadi sebelum saya menjadi menteri. Maka, saya Mendikbud langsung mengambil langkah konkret dengan menugaskan Dirjen Kebudayaan untuk menyelesaikan permasalahan dan melakukan koreksi,” tambahnya.

To Top