News

Tentang Abdul Qadir Baraja, Pendiri Khilafatul Muslimin yang Ditangkap Polisi

Abdul Qadir Baraja

Polda Metro Jaya mengamankan pendiri Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Baraja, di Lampung. Ia ditangkap terkait aksi konvoi khilafah di Cawang, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Selain kasus tersebut, Abdul Qadir Baraja juga kerap terkait dengan kelompok teroris di Indonesia. Namanya pernah tercatat dua kali masuk penjara karena terlibat aksi terorisme di Indonesia.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid menyebut ketua kelompok Khilafatul Muslimin tersebut identik dengan kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Menurutnya, Barada juga pernah bergabung dengan kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Ia juga pendiri Darul Islam di Lampung.

Setelah Kartosoewirjo dieksekusi pada September 1962, Baraja lalu bergabung dengan kelompok Komando Jihad.

Selama bergabung dengan kelompok itu, Baraja secara aktif ikut dalam beberapa kegiatan teror. Dirinya terlibat dalam kelompok Warman, di bawah naungan Adah Jaelani, yang bertugas mengumpulkan dana melalui teror di Lampung.

Lihat Juga: Soal Ajakan Konvoi dari Khilafatul Muslimin, MUI: Kok Serentak di Jabar

Baraja lalu divonis hukuman tiga tahun penjara akibat kasus teror di Warman pada 1979. Tidak lama kemudian, ia kembali ditangkap polisi pada awal 1985. Ia dinilai terlibat dalam kasus bom bunuh diri di Borobudur dan Jawa Timur.

Abdul Qadir Baraja dinilai terbukti bersalah dan dijebloskan kedalam penjara selama 13 tahun.

Abdul Qadir Baraja Dirikan Pesantren dengan Abu Bakar Ba’asyir

Nurwakhid menuturkan, Baraja mendirikan Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki. Ia mendirikannya bersama Abu Bakar Ba’asyir yang kemudian diketahui bahwa mereka juga terlibat dalam Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pada tahun 2000.

Ba’asyir adalah terpidana kasus terorisme. Dia pernah bergabung dengan NII dan kemudian mendirikan Jamaah Islamiyah (JI).

“Pendiri gerakan ini sangat dekat dengan kelompok radikal seperti NII, MMI dan memiliki rekam jejak dalam kasus terorisme,” Ahmad Nurwakhid.

Kata Nurwakhid, sistem khilafah yang diusung kelompok pimpinan Abdul Qadir Baraja itu memiliki kesamaan visi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Bedanya, Hizbut Tahrir (HTI) merupakan gerakan trans-nasional dan sedang memperjuangkan sistem khilafah di berbagai negara. Sementara Khilafatul Muslimin mengklaim sudah mendirikan khilafah dengan adanya khalifah ya,” jelasnya.

Nurwakhid juga menjelaskan Khilafatul Muslimin sudah melahirkan teroris di Bekasi yang telah tertangkap berinisial NAS. Namun, dia belum merinci keterkaitan aksi teroris dengan kelompok itu.

Menurut BNPT, Khilafatul Muslimin adalah kelompok yang patut diwaspadai sebab bisa menimbulkan aksi terorisme. Pemerintah daerah pun diminta waspada terhadap kelompok ini.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top