News

Tentang Agama Baha’i Yang Kini Ramai Disorot Karena Disebut Menag RI

Tentang Agama Baha'i

Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas mengucapkan selamat Hari Raya Naw-Ruz 178 EB kepada komunitas Baha’i melalui video yang kemudian menjadi sorotan. Agama Baha’I diketahui adalah agama baru dan bukan percabangan dari agama lain.

Video lengkap pernyataan Yaqut tersebut juga diunggah di channel YouTube Baha’i Indonesia pada 26 Maret 2021. Lalu, seperti apa asal muasal agama ini muncul?

Agama Baha’i Pertama Kali Muncul Di Iran

Mengutip dari situs komunitas Baha’i, agama ini mulai muncul dan berkembang pada tahun 1844 di Iran. Agama yang sempat dianggap sempalan dari Islam-Syiah ini berawal dari ajaran perdamaian Sayyid ‘Ali Muhammad yang dianggap sebagai sang Bab. Sebelum revolusi Iran, agama ini juga sempat diakui meskipun selanjutnya tak lagi diakui. Kemudian, agama ini terus menyebar ke negara-negara lain, mulai dari India sampai Singapura. Salah satu tokoh penyebarnya yaitu Jamal Effendi.

Di Indonesia, agama ini mulai masuk pada abad ke-19 saat rombongan Jamal mengunjungi Surabaya dan singgah di Bali. Berikutnya mereka berhenti di Makassar, dengan menggunakan sebuah kapal kecil, mereka menyeberang ke Pelabuhan Parepare.

Lihat Juga: Sejarah Agama – Agama Di Jepang

Di sana, mereka mendapat sambutan dari Raja Fatta Arongmatua Aron Rafan dan putrinya, Fatta Sima Tana. Belakangan diketahui, Fatta Sima Tana menyiampkan surat-surat untuk mengadopsi 2 anak asli Bugis Bernama Nais dan Bashir, untuk membantu sekaligus mengabdi di kediaman Akka. Yang merupakan seorang raja yang juga tertarik dengan agama Baha’i. Selanjutnya mereka menuju ke Sedendring, Padalia dan Fammana.

Menggunakan sampan, mereka menelusuri sungai hingga akhirnya tiba di Bone. Raja Bone kala itu, yang merupakan seorang pria muda terpelajar, meminta mereka menyiapkan sebuah buku panduan untuk administrasi kerajaan. Sayyid Mustafa Rumi melaporkan bahwa mereka menulisnya sesuai dengan ajaran agama Baha’i. kemudian, agama ini pun terus berkembang dan mendapatkan pengikutnya di Indonesia.

Bukan Percabangan Dari Agama Lain

Seperti mengutip dari laman Kemenag, agama ini ditegaskan sebagai agama independen dan tertuang dalam Seminar Hasil Penelitian yang dilakukan Puslitbang Kehidupan Keagamaan pada 22 September 2014. Diketahui agama ini adalah agama baru dan bukan percabangan dari agama lain.

Konsep ajaran dan tata cara peribadatan agama ini berbeda dengan Islam, walaupun terlihat ada kesamaan (seperti sembahyang, puasa dan ziarah). Penganut Baha’i melaksanakan sembahyang 3 kali sehari, dengan arah kiblat menghadap ke barat laut (Kota Akka-Haifa).

Walau begitu, sejarah kelahiran agama ini tak bisa dipisahkan dengan agama Islam. Karena pendiri agama ini, yaitu Baha’ullah, adalah penganut agama Islam sebelum akhirnya ia menobatkan diri sebagai utusan Tuhan.

Video Menag RI Jadi Sorotan

Sebelumnya, dalam sebuah video, Menag Yaqut mengucapkan selamat hari raya bagi umat Baha’i.

“Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Pada saudaraku umat Baha’i di mana saja berada, saya mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Naw-Ruz 178 EB. Sebuah hari pembaharuan yang menandai musim semi spiritual serta jasmani, usai umat Baha’i menjadikan ibadah puasa 19 hari,” ujar Yaqut.

Selain itu, ia juga menyampaikan pesan persatuan dan menekankan terkait moderasi beragama.

“Mudah-mudahan hari ray aini bisa jadi kesempatan serta momentum bagi semua bangs akita untuk saling bersilaturahmi dan memperkuat persatuan dan kesatuan. Menjunjung tinggi nilai moderasi beragama kalau agama perlu jadi sarana yang memberi stimulus rohani untuk bangsa Indonesia untuk selalu bekerja sama dan maju,” sambungnya dalam video itu.

Lihat Juga: Penganut Atheis Akan Menghadapi Hukuman 1 Tahun Penjara Jika Mengatakan “Tidak Ada Tuhan”

Dikutip dari detikcom, Yaqut memberikan tanggapan terkait videonya yang banyak diperbincangkan di Twitter. Ia memaparkan dasar kehadirannya pada acara tersebut, yaitu UU PNPS No 1 Thn 1965. Lebih lanjut, ia menjelaskan dalam konstitusi RI, tidak dikenal adanya istilah agama ‘diakui’

“Konstitusi kita tak mengenal istilah agama ‘diakui’ maupun ‘tak diakui’, juga tak mengenal istilah ‘mayoritas serta ‘minoritas’. Hal tersebut dapat dirujuk pada UU PNPS tahun 1965 itu,” papar Yaqut.

Menag menegaskan kehadirannya pada acara agama Baha’i hanya untuk memastikan negara menjamin kehidupan rakyatnya. Hal tersebut ditegaskan Menag sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan konstitusi.

“Negara harus menjamin kehidupan semua rakyatnya. Apa pun agama dan keyakinannya,” kata Yaqut Cholil Qoumas.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top