Sports

Kontroversi Raffi-Nagita Jadi Ikon PON XX Papua

Kontroversi Raffi-Nagita Jadi Ikon PON XX Papua

PON Papua rencananya akan digelar pada 20 Oktober hingga 4 November 2021 mendatang. Pesta olahraga 4 tahunan itu awalnya akan dilangsungkan pada 2020 lalu, namun terpaksa diundur karena pandemik COVID-19. Total terdapat 37 cabang olahraga yang akan ditampilkan pada ajang PON XX Papua dan melibatkan lebih dari 6.000 atlet.

Belum juga dilaksanakan, PON Papua justru sudah menjadi perbincangan hangat karena penunjukan Raffi Ahmad-Nagita Slavina sebagai ikon PON Papua yang salah diartikan. Sebelumnya, masyarakat sempat salah menyebut pasangan selebriti itu sebagai duta, yang padahal disandang oleh orang Papua asli, Boaz Solossa.

Penunjukan tersebut menjadi kontroversi antara lain usai dikritik oleh komika Arie Kriting. Ia mengunggah tangkapan layar Nagita yang memakai baju tradisional Papua dengan menuliskan pendapatnya soal penunjukan Nagita sebagai ikon PON XX Papua.

“Sebetulnya kami memilih Raffi dan Nagita tersebut untuk tujuan sosialisasi. Sedangkan yang jadi duta PON itu adalah Boaz Salossa. Kami menunjuk Boaz sebab ia adalah representasi Papua sebagai tuan rumah,” ujar Roi seperti dikutip dari laman detikSport, Minggu (6/6/2021).

“Sementara Raffi, awalnya hanya Raffi saja. Namun kemudian dipaketkan dengan Nagita Slavina. Itu juga dengan proses seleksi juga. Kami nyari yang punya follower banyak dan memiliki kapasitas untuk kami gunakan sebagai influencer yang bertugas menyosialisasikan PON dalam waktu singkat ini,” sambungnya.

Tanggapan Dari Kemenpora Terkait Kontroversi Ikon PON XX Papua

Ditegaskan bahwa penujukan keduanya bukanlah ditentukan oleh pemerintah pusat. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali dalam jumpa pers yang dilakukan secara virtual pada Jumat (4/6/2021).

Dalam kesempatan itu, Menpora membahas soal pemilihan Raffi-Nagita sebagai ikon PON Papua yang kini tengah menjadi kontroversi. Menurut Zainudin, penunjukan keduanya dilakukan oleh Panitia Besar Pekan Olahraga Nasional (PB PON) yang diketuai oleh Gubernur Papua Lukas Enembe.

“Pertama, publik harus mengetahui keputusan pemilihan ikon PON bukan oleh pemerintah pusat, Menpora, apalagi kalau dikaitkan dengan Presiden. Sama sekali bukan, kami tidak tahu menahu. Ini sepenuhnya keputusan PB PON, yang diketuai oleh Gubernur Papua,” tutur Zainudin Amali.

Menyadari bahwa penunjukan tersebut telah menimbulkan kontroversi, Menpora akan berkomunikasi bersama pihak terkait baik PB PON maupun Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Tujuannya yaitu supaya polemik tersebut tak sampai berkepanjangan.

“Tetapi saya kira ini aspirasi rakyat yang harus saya perhatikan. Saya bakal berkomunikasi bersama PB PON agar mempertimbangkan kembali daripada ini jadi kontra yang berkepanjangan,” kata Zainudin.

“Saya juga bukan komunikasi bersama pihak Nagita dan Raffi Ahmad. Sebetulnya mereka kan profesional saja. Mereka ditunjuk PB PON dan melakukan tugas seperti sesuai kesepakatan, namun kemudian menjadi kontroversi,” jelasnya.

To Top