Sports

Liga Top Eropa yang Menghilangkan Kehambaran

Liga Top Eropa

“Football is coming home!” begitulah ungkapan para pecinta sepakbola, termasuk asal Indonesia, yang mengutip sebuah lagu Baddiel, Skinner & Lightning Seeds, ketika memasuki bulan Agustus. Hambar sekali rasanya hidup bagi para pecinta sepakbola pasca kompetisi liga-liga Eropa berakhir Mei lalu. Tanpa bermaksud mengagung-agungkan kompetisi sepakbola di Eropa, tapi memang begitulah faktanya, mereka layak untuk mendapatkannya.

Ketika liga-liga Eropa libur pasca kompetisi, para pecinta sepakbola biasanya tetap disuguhi tayangan kompetisi sepakbola dalam negeri. Sayangnya, tidak untuk tahun ini. Kisruh Kemenpora dan induk sepakbola tertinggi di Indonesia, PSSI, menjadi sebabnya. Hambar. Tak manis, tak asing, tak asam. Apalagi bagi para tuna asmara. Ups. Akhir pekan yang biasanya ‘nonton bola’ ia jadikan alasan sebagai penganti kekosongan, pertengahan tahun ini kehabisan alasan. Copa America memang bergulir pada saat itu, tapi pertandingan-pertandingan kompetisi negara Amerika Latin tersebut tayang pada pagi hari di Indonesia. Andaikan Liga Indonesia tetap bergulir, mungkin beda cerita. Para tuna asmara punya lebih banyak alasan.

Kehambaran para pecinta sepakbola pada pertengahan tahun ini mungkin bisa sedikit terobati dengan mengikuti kabar saga transfer klub kesayangannya masing-masing, sesekali kumpul dengan komunitas fans klub, atau scroll gadgetnya masing-masing entah untuk stalking mantan pacar atau mantan pemain klub kesayangan, seperti apa yang dilakukan fans Chelsea pada akun media sosial Petr Cech. Ketika sakit hati, tak segan mereka unfollow, tapi kemudian hari tak mustahil mereka mengikutinya kembali.

Mendekati Agustus, kehambaran tersebut semakin hilang dengan kembali bermainnya klub kesayangan, walaupun dengan tajuk pertandingan persahabatan. Meskipun kalau beruntung, pertandingan tersebut ditayangkan tv lokal, kalau tidak, ya, apa daya harus cari kuota. Hal lain yang dirindukan adalah mengejek fans tim lain yang mengalami kekalahan. Seperti fans Real Madrid kala Barcelona kalah dari tim papan tengah Italia, Fiorentina, atau fans Manchester United terhadap fans Manchester City saat dihancurkan Real Madrid dengan skor 4-1. Aroma-aroma rempah bernama rivalitas kembali tercium kuat.

Kini, semua klub mulai bersiap diri untuk menancapkan target yang telah diusung sebelumnya, tak terkecuali Liga Primer Inggris yang telah mulai kompetisi di awal bulan. Waktu untuk menambah skuat dengan pemain anyar pun masih terbuka sampai tanggal 2 September mendatang.

Seperti memasak nasi goreng, wajan yang telah diisi nasi dan rempah-rempah jika dicicipi masih terasa hambar. Jelas hambar, wong belum diberi garam, gula dan bumbu-bumbu tambahan lain, tergantung selera masing. Namun, seiring mulainya kompetisi liga-liga top Eropa, garam, gula dan bumbu-bumbu tambahan juga mulai dituang ke wajan. Dengan tangan magis dan kepiawaian masing-masing, setiap manajer mulai mengaduk-aduk masakannya tersebut dan tak lama kemudian menuangkannya pada sebuah piring. Di sisi lain, mereka tak lupa menambahkan potongan tipis timun dan tomat atau penghias makanan lain saat plating.

Semua tergantung kepiawaian manajer dalam mengelola dan menjaga harmonisasi segala perbedaan dengan tujuan memasak nasi goreng yang lezat. Percuma hidangan hanya cantik saat dipandang, tapi malah tidak enak saat dicicipi. Juri pun pasti akan mengatakan tidak untuk masakan tersebut menjadi juara. Belum lagi jika Chef Juna. Mereka pasti menginginkan masakan dengan plating yang menarik, tanpa melupakan rasa dan kelezatan masakan. Tengoklah Manchester United tahun lalu.

Pada akhirnya, rasa hambar itu akan hilang ketika kita menyantap masakan yang telah dibumbui. Tapi semua tergantung, apakah klub kesayangannya akan menjadi juara, atau malah kita akan menerima kepahitan seperti klub kesayangan tatkala kita tahu kalau sang manajer ternyata telah salah memasukan irisan pare ke dalam nasi gorengnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top