Sports

Persebaya Menang Lawan Arema di Stadion Kanjuruhan, Sejarah 25 Tahun Terpecahkan

Persebaya Menang

Persebaya menang lawan Arema FC dalam laga bertajuk Derby Jawa Timur. Bajul Ijo menang di kandang Singo Edan 3-2.

Arema menjamu Persebaya di Stadion Kanjuruhan pada laga lanjutan Liga Indonesia, Sabtu (1/10/2022) malam WIB. Persebaya mampu unggul cepat ketika laga baru berjalan tujuh menit.

Lewat sebuah serangan cepat, Marcelino Ferdinand melepas umpan panjang ke Juninho. Juninho melepas sepakan dari sisi kanan kotak penalti yang tak mampu dibenung Adilson Maringa.

Tim tamu bisa mencetak gol kedua pada menit ke-35. Persebaya bisa membobol gawang Arema dari skema bola mati.

Tendangan bebas Hugor Vidal dari sayap kiri bisa ditanduk Leo Lelis menjadi gol. Persebaya unggul 2-0.

Tertinggal dua gol, Arema mengurung lini pertahanan Persebaya. Mereka bisa menipiskan ketinggalan pada menit ke-42. Abel Camara dengan baik menanduk bola sepak pojok di tiang dekat menjadi gol.

Sesaat sebelum babak pertama tuntas, Arema mendapat hadiah penalti setelah Alwy Slamat handball di kotak penalti. Camara dengan baik mengeksekusi penalti menjadi gol pada menit ke-45+2.

Skor 2-2 menutup babak pertama.

Selepas jeda, Persebaya kembali unggul pada menit ke-51. Marcelino memberikan umpan silang ke depan kotak penalti Arema.

Sho Yamamoto dengan baik mengontrol bola. Ia lalu melepas tembakan yang bikin Maringa mati langkah.

Arema terus menekan lini pertahanan Persebaya di sisa laga. Namun, usahanya mereka mencetak gol penyama kedudukan tak membuahkan hasil.

Persebaya memenangi Derby Jawa Timur dengan skor 3-2. Tambahan tiga angka membuat pasukan Aji Santoso naik ke peringkat ke-10 dengan 13 poin. Mereka hanya terpaut satu angka dari Arema di posisi ke-9.

Aji menambahkan saat itu Persebaya menang atas Persija dengan skor 1-2. Menurutnya dalam sepakbola apapun bisa terjadi. Termasuk hal-hal di luar prediksi.

“Ketika saya melatrih, Persebaya menang 2-1. Artinya apa di dalam sepakbola tidak ada yang tidak mungkin,” tegas pria yang juga pernah memperkuat Arema itu.

Meski demikian, Aji menyadari Persebaya menang dan mengalahkan Arema di kandang memang sangat sulit. Apalagi dengan dukungan ribuan suporternya.

“Memang sulit untuk kalahkan Arema di kandang. Saya akan berusaha maksimal bisa curi poin. Syukur-syukur bisa menang,” harapnya.

Berbeda dengan Aji, Pelatih Arema Javier Roca menganggap beban rekor tak pernah kalah saat menjamu Persebaya selama 23 tahun sebagai beban. Untuk itu, ia akan bertekad mempertahankan sekuat tenaga untuk mempertahankan rekor.

“Kita akan jaga rekor itu. Karena sebenarnya itu luar biasa, belum pernah kalah (23 tahun). Performa pemain harus ditingkatkan, untuk menjaga rekor itu. Dengan bermain beda dari sebelumnya,” katanya.

“Besok harus ambil tiga poin. Kita harus jaga (rekor) karena itu tanggung jawab kita,” pungkasnya.

Pertandingan antara Persebaya dan Arema FC tentunya akan berjalan cukup sengit. Persebaya menang itu targetnya. Sejauh ini tim berjuluk Singo Edan itu berada di peringkat 9 klasemen sementara Liga 1 2022 dengan raihan 14 poin.

Poin tersebut diraih Arema FC setelah mendapatkan empat kemenangan, dua kali hasil imbang dan empat kali kekalahan dalam 10 pertandingan yang sudah dilakoni.

Raihan yang dimiliki anak asuh Javier Roca itu terlihat lebih baik dibandingkan dengan Persebaya. Dimana Bajol Ijo hanya mampu mengumpulkan 10 poin dalam 10 laga yang telah dilakoni.

Dalam 10 laga tersebut, Persebaya meraih tiga kemenangan, satu kali imbang dan enam kali kalah. Hasilnya, tim yang dilatih Aji Santoso itu harus terima berada di peringkat 14 klasmen sementara.

Dilihat dari 5 pertandingan terakhir, Persebaya menang saat menghadapi Arema FC. Selama pertemuan itu persebaya mendapatkan tiga kali kemenangan satu kali hasil seri dan kalah.

Sedangkan Arema FC hanya mendapatkan satu kali kemenangan. Kemenangan itu didapat Arema FC atas Persebaya dalam Liga 1 2019 dengan skor 4-0.

Dibalik Persebaya Menang, ini Kisah Rivalitas Arema Vs Persebaya

Sudah menjadi rahasia umum dua tim ini terlibat dalam rivalitas sengit sejak lama. Pertemuan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya selalu melahirkan persaingan sengit di lapangan. Tak jarang, suporter turut meramaikan rivalitas tim kebanggaan mereka.

Aremania dan Bonek juga dikenal sebagai dua kelompok suporter yang memiliki hubungan kurang baik. Dua kelompok ini belum bisa dipertemukan sehingga tak akan ada lawatan Aremania ke Surabaya atau Bonek ke Malang.

Tapi, laga kali ini bakal digelar tanpa penonton karena masih dalam situasi pandemi. Bumbu ketegangan antar kelompok suporter kemungkinan akan berkurang karena Aremania dan Bonek tidak bisa hadir ke stadion.

Munculnya perselisihan kedua kelompok suporter itu memang masih menjadi tanda tanya mengingat kedua tim lahir dengan jarak tahun yang cukup jauh. Persebaya lahir pada 1927, sementara Arema didirikan pada 1987.

Banyak yang berpendapat bahwa rivalitas kedua kelompok suporter itu lahir karena persaingan Persebaya dengan Persema Malang untuk menunjukkan yang terbaik di Jawa Timur. Saat Arema lahir, warga Malang pun mulai beralih mendukung tim tersebut.

Persebaya Menang Lawan Arema di Stadion Kanjuruhan

Selama ini, muncul berbagai catatan dan tulisan yang menyebutkan bahwa rivalitas antara Aremania dan Bonek merupakan representasi dari Malang dan Surabaya. Kedua kota itu memang dikenal sebagai dua kota terbesar di Jawa Timur.

Seperti sudah disebutkan, kedua tim ini memiliki sejarah yang berbeda karena lahir di era yang berbeda pula. Tapi, Arema dan Persebaya merupakan klub Jawa Timur yang sama-sama mengoleksi banyak gelar juara.

Persebaya, yang lahir pada 18 Juni 1927, memiliki sejarah panjang dengan berkiprah di Perserikatan, kompetisi sepak bola warisan pemerintah kolonial Belanda. Tim Bajul Ijo mengoleksi empat gelar Perserikatan, kedua terbanyak setelah Persija Jakarta.

Sedangkan Arema, yang didirikan pada 11 Agustus 1987, merupakan klub yang berkompetisi di Galatama. Kompetisi ini disebut sebagai semi profesional karena membolehkan klub merekrut pemain asing, hal yang dilarang oleh Perserikatan.

Tim berjulukan Singo Edan itu mampu menjuarai Galatama edisi 1992 dengan masih bernama Arema Malang.

Pertemuan pertama Arema dan Persebaya terjadi pada Piala Utama 1992, tepatnya pada 25 Oktober 1992. Piala Utama adalah sebuah turnamen yang mempertemukan kontestan terbaik Perserikatan dan Galatama.

Persebaya kemudian keluar sebagai pemenang laga itu dengan skor 2-1. Belum ada perseteruan suporter dari dua klub ini.

Baru pada 1994-1995, Perserikatan dan Galatama dilebur menjadi satu kompetisi dengan nama Liga Indonesia. Kompetisi itu sempat dinaikkan menjadi Indonesia Super League pada 2008 dan kini menjadi Liga 1 sejak 2017.

Persebaya menang dua gelar Divisi Utama Liga Indonesia, tepatnya pada tahun 1996-1997 dan 2004. Arema juga tidak ketinggalan karena menjadi yang terbaik merengkuh trofi Indonesia Super League 2009-2010.

Di musim 2009-2010, rivalitas keduanya seolah meruncing. Karena, saat Arema keluar sebagai kampiun, Persebaya justru terdegradasi ke Divisi Utama musim berikutnya.

Setelah musim itu, kedua klub sama-sama mengalami masalah dualisme akibat konflik yang mendera PSSI. Persebaya sudah menyelesaikannya karena tim tandingan ini telah berganti nama menjadi Bhayangkara FC.

Tapi, Arema belum merampungkan dualismenya hingga sekarang. Saat terdapat klub bernama Arema FC di kasta tertinggi, masih ada klub lainnya dengan nama Arema Indonesia yang juga melahirkan masalah di internal Aremania.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top