Sports

Pilu! Ini Saksi Hidup Kerusuhan Arema FC yang Berada di Stadion Kanjuruhan

Arema FC

Seorang saksi mata suporter Arema FC dengan akun Twitter LIBRA_12 @RezqyWahyu_05 melaporkan kronologi kejadian di Stadion Kanjuruhan Malang, yang menewaskan lebih dari 180 orang.

Berikut penuturannya suporter Arema FC yang dikutip dari twitter :

Dari awal saya masuk stadion (kondisi pemain sedang pemanasan) semua berjalan aman dan tertib hingga kick off pukul 20.00 WIB

Kick off dimulai dan pertandingan berjalan aman, tanpa kericuhan sedikitpun…Yang ada hanya suporter Arema FC yang saling melontarkan psywar ke arah pemain Persebaya.

Babak pertama selesai, dan saat jeda istirahat, ada sekitar 2-3 kali kericuhan sedikit di tribun 12-13, yang bisa segera diamankan oleh pihak berwenang.

bakan ke-2 berlanjut dan tim Persebaya berhasil mencetak golnya yang ke-3. Arema FC semakin tampil menyerang menggempur gawang Persebaya, tapi tidak ada gol yang tercipta.

“Semakin banyak serangan, semakin gemas juga kita sebagai suporter menontonnya,” ujar dia.

Hingga peluit akhir dibunyikan, Arema FC tidak bisa menambah golnya dan harus menerima kekalahan.

Di sinilah awal mula tragedi dimulai. Setelah peluit dibunyikan, para pemain Arema FC tertunduk lesu dan kecewa.

Pelatih Arema dan Manager Tim mendekati tribun timur dan menunjukkan gestur minta maaf ke suporter.

Di sisi lain, ada 1 orang suporter dari arah tribun selatan nekatmasuk dan mendekati Sergio Silva dan Maringa. Terlihat sedang memberikan motivasi dan kritik kepada mereka.

Kemudian ada lagi beberapa suporter yang ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya kepada pemain Arema. Terlihat John Alfarizie mencoba memberi pengertian kepada oknum tersebut.

Namun semakin banyak mereka berdatangan, semakin ricuh kondisi stadion karena dari berbagai sisi stadion juga ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya ke pemain.

Diikuti dengan lempar-lempar berbagai macam benda kearah lapangan, dan para suporter semakin tidak terkendali.

Akhirnya pemain digiring masuk ke dalam ruang ganti dengan kawalan pihak berwajib.

Setelah pemain masuk, suporter makin tidak terkendali dan semakin banyak yang masuk lapangan.

Pihak aparat juga melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para suporter yang menurut saya perlakuannya sangat kejam dan sadis. Dipentung dengan tongkat panjang, 1 suporter dikeroyok aparat, dihantam tameng dan banyak tindakan lainnya.

Tapi saat aparat memukul mundur suporter di sisi selatan, suporter dari sisi utara yang menyerang ke arah aparat.

Karena semakin banyaknya suporter yang masuk lapangan dan kondisi sudah tidak kondusif, aparat menembakkan beberapa kali gas air mata ke arah suporter yang ada di lapangan. Silih berganti suporter menyerang aparat dari sisi selatan dan utara.

Yang akhirnya, selain hujan lemparan benda dari sisi tribun, di dalam lapangan juga terjadi tembakan gas air mata ke arah suporter.

Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakkan ke arah suporter, di setiap sudut lapangan telah dikelilingi gas air mata. Ada juga yang langsung ditembakkan ke arah tribun penonton, yaitu tribun 10.

Para suporter yang panik karena gas air mata, semakin ricuh di atastribun. Mereka berlarian mencari pintu keluar, tapis ayang pintu keluar sudah penuh sesak karena para suporter panik terkena gas air mata.

Banyak ibu-ibu, wanita, orang tua dan anak kecil yang terlihat sesak gak berdaya, gak kuat ikut berjubel untuk keluar stadion.

Terlihat mereka sesak karena terkena gas air mata… Seluruh pintu keluar penuh dan terjadi macet.

Di dalam stadion mereka sesak karena gas air mata yang sudah ditembakkan ke berbagai arah, sedangkan pintu keluar stadion pun gak bisa karena macet.

Penuh sesak di pintu keluar. Di luar stadion banyak yang terkapar dan pingsan karena efek terjebak di dalam stadion yang penuh gas air mata.

Dan sekitar pukul 22.30 juga masih banyak insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat, dan pengeroyokan suporter terhadap aparat yang dianggap emngurung kita di dalam stadion dengan puluhan gas air mata.

Dan terjadi beberapa tembakan gas air matakembali di luar stadion. Lebih tepatnya di sekitar tribun 2 Kanjuruhan.

Kondisi luar Stadion Kanjuruhan sangat mencekam. Banyak suporter yang lemas bergelimpangan. Teriakan dan tangisan wanita. Siporter yang berlumuran darah, mobil hancur, kata-kata makian dan amarah.

Batu, batako, besi dan bambu berterbangan.

Dan selama saya jadi suporter Arema FC, Saya dikenalkan oleh orang tua saya tahun 2007 hingga saat ini.

Hari ini adalah titik terendah saya menjadi seorang suporter khususnya tim Arema FC.

Saya masih belum percaya menyaksikan saudara-saudara saya dengan kondisi seperti ini.

Tanpa mengurangi respect saya kepada keluarga korban, di sini saya mencoba menjelaskan kronologi yangs aya alami secara pribadi.

Saya sangat terpukul dengan adanya insiden ini. Dan semoga kejadian ini adalah yang terakhir di semua cabang olah raga dan hiburan, khususnya di sepak bola.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top