Tech & Auto

i-Doser – Masyarakat Dilema ‘Narkoba Digital’, BNN Beri Penjelasan

Portal Berita

Belakangan ini, aplikasi i-Doser menjadi ramai diperbincangkan sebagai sebuah aplikasi yang menurut pernyataan dari berbagai pihak, gelombang suara yang diperdengarkan aplikasi tersebut dapat memberikan efek yang sama ketika seseorang mengonsumsi nar koba. Hal ini dikarenakan i-Doser mengandung konten berupa binaural (dua suara) yang dapat mengubah gelombang otak dan keadaan mental.

 

Mendengarkan dua suara yang mirip seperti binaural, akan membuat otak merespon kedua suara itu sehingga dapat menghasilkan suara ketiga yang disebut binaural beat. Binaural beat ini sebenarnya tidak selalu buruk. Ditemukan oleh Heinrich Wilhelm Dove pada tahun 1839 dan pada abad 20, binarual beat digunakan untuk meditasi, sarana relaksasi dan dapat mengasah kreativitas. Binaural beat juga dapat mengurangi kecemasan yang membantu mengurangi kecemasan berlebih yang biasanya dialami oleh pasien yang hendak menjalani operasi. Hal ini tentu sangat membantu. Tetapi, bila membicarakan i-Doser, sayangnya, belum ada penelitian yang bisa membuktikan aplikasi ini aman digunakan atau justru berbahaya.

 

Dalam situs resmi i-Doser, pihak i-Doser mengatakan bahwa i-Doser hanya dibuat untuk tujuan memanupulasi suasana hati penggunanya. Namun, dalam situs resminya itu pula, beberapa penggunanya justru mengatakan efek dari aplikasi tersebut sangat mirip dengan efek yang didapat ketika mengKonsumsi na rkoba.

 

Aplikasi ini bahkan telah diblokir oleh beberapa negara seperti Dubai dan Amerika Serikat karena menurut mereka ‘nar koba digital’ ini memberikan efek yang sama dengan g a n j a. Di Oklahoma, banyak siswa yang sudah kecanduan aplikasi ini. Para penegak hukum di sana menakutkan aplikasi ini dapat menjadi cara lain bagi remaja untuk mengonsumsi nar koba. Meski lagi-lagi, sampai sekarang belum ada penelitian yang membuktikan seberapa manjur ‘nar koba digital’ memberikan efek berbahaya.

 

Dilema ini, kemudian mendapat pencerahan dari BNN dan Kemenkominfo melalui Kabag Humas BNN, Slamet Pribadi, yang menyatakan bahwa aplikasi i-Doser bukanlah termasuk golongan nar kotika. “Kemenkominfo bersama BNN telah merapatkan hal ini, bersama sejumlah tim dokter dan psikolog, tentunya. Dan kami menyimpulkan, sebagaimana pula undang-undang yang berlaku, bahwa i-Doser bukanlah golongan nar kotika,” jelasnya.

 

BNN bersama Kemenkominfo telah menyimpulkan, aplikasi tersebut hanya semacam stimulan suara yang dapat menstimulasi otak namun bukan golongan narkotika.
“Stimulan suara berbeda dengan stimulan narkotik. Stimulan suara itu masuknya ke dalam golongan hipno forensik, sedangkan stimulan nar kotik berupa zat,” jelasnya lagi.

 

Namun, bukan berarti kita bisa berhenti waspada. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, Kemenkomindo akan melakukan pemeriksaan pada aplikasi tersebut dan bila mendapat laporan tidak mengenakkan dari masyarakat mengenai aplikasi tersebut, maka menkominfo akan segera memblokir aplikasi ini. Serta untuk pencegahan, sebaiknya kita berhati-hati untuk tidak ikut-ikutan penasaran dengan aplikasi ini. Hindari penggunaan bagi mereka yang kurang paham, terutama anak-anak.

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top