Tech & Auto

Data Bocor, eHAC Kok Masih Tersedia Di Play Store?

Data Bocor eHAC

Kementerian Kesehatan RI meminta masyarakat untuk menghapus aplikasi eHAC menyusul adanya kabar kobocoran data. Namun ternyata aplikasi ini masih tersedia di Google Play Store. Terkait dugaan kebocoran data, Kementerian Kesehatan menanggapinya melalui pesan singkat kepada detikINET, seperti dikutip dari laman detikINET.com.

Dr Siti Nadia Tarmizi selaku juru bicara vaksinasi COVID-19 Kemenkes RI menuturkan bahwa Kementerian Kesehatan telah menutup eHAC serta tak lagi menggunakan aplikasi ini.

“Ini telah ditutup serta tak dipakai kembali ya,” kata dr Nadia, Selasa (31/8/2021).

“Jadi memang tak dianjurkan memakai eHAC lama tetapi gunakan melalui PeduliLindungi,” tambahnya.

Kemenkes menuturkan telah melakukan tindakan yang dibutuhkan untuk mencegah melebarnya dampak kebocoran data itu. Upaya pelaporan yang bakal ditindaklanjuti dengan penyelidikan oleh pihak berwenang, termasuk melaporkan hal tersebut kepada Kemenkominfo juga bakal dilakukan. Hal itu sesuai dengan PP No 71 Thn 2019 terkait Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

Lihat Juga: Diduga Kebocoran Data 279 Juta WNI Valid

Benar atau tidaknya kebocoran data pribadi tersebut baru bisa disimpulkan usai diaudit oleh digital forensik. Walau begitu, dugaan kebocoran data eHAC lama diduga dikarenakan kebocoran sistem pada pihak ketiga.

Sementara untuk take down aplikasi dari Google Play Store maupun App Store, bisa dikatakan, pemerintah masih terbatas pada meminta kepada masyarakat untuk mengunduh aplikasi PeduliLindungi dan menggunakan fitur e-HAC di dalamnya. Kemudian masyarakat diminta untuk menghapus aplikasi eHAC yang lama.

Awalnya kebocoran data tersebut ditemukan oleh vpnMentor yang merupakan penyedia layanan VPN, melalui tim risetnya yang diketuai oleh Noah Rotem dan Ran Locar. Menurut vpnMentor, data pribadi die HAC tidak dilindungi oleh beragam protokol keamanan yang mencukupi.

Hingga akhirnya, lebih dari 1 juta data pengguna dapat diakses secara mudah di server yang terbuka. Data yang bocor tersebut hingga mencapai 2 GB, yang didalamnya berisi 1,3 juta data pribadi pengguna. Data tersebut berisi status kesehatan, hasil tes COVID-19, kontak hingga PII (Personally Identifiable Information).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top