Tech & Auto

Layanan Video Disney+ Hotstar Terlaris di Indonesia

Layanan Video Disney+ Hotstar Jadi yang Terlaris di Indonesia

This post is also available in: English

Apakah Anda salah satu pengguna dari Disney+ Hotstar? Jika ya, itu artinya Anda salah satu dari sekian penikmat media digital. Ya, kini banyak orang yang memanfaatkan media digital dalam menikmati film.

Perkembangan teknologi menjadi salah satu alasan masyarakat lambat laun meninggalkan cara konvensional seperti menggunakan televisi. Tidak hanya tv yang kehilangan eksistensinya, tetapi radio, buku, surat kabar, hingga surat menyurat menjadi barang yang ketinggalan jaman.

Melalui teknologi, banyak platform yang menyuguhkan berbagai film lokal hingga luar negeri. Aksesnya pun tidak sulit, hanya melalui internet Anda sudah bisa menikmati berbagai macam tontonan. Disney+ Hotstar merupakan salah satu platform video on demand yang sukses mengambil hati masyarakat Indonesia.

Disney+ Hotstar berhasil mendapatkan jumlah pengguna berbayar hingga 2,5 juta pengguna. Keberhasilan dari Disney+ dalam hal menarik hati masyarakat Indonesia perlu mendapat acungan jempol.

Terdapat banyak kelebihan yang Disney+ Hotstar tawarkan dalam platformnya sehingga masyarakat memilih menggunakannya. Platform ini memiliki harga yang sangat bersaing, belum lagi film yang tersedia lebih beragam sehingga menjadi nilai plus. Disney+ telah menjalin kemitraan dengan operator seluler lokal yang memiliki pengguna terbanyak Indonesia, Telkomsel. juga menjadi faktor keberhasilan Hal itu juga menjadi faktor keberhasilan dari Disney+ Hotstar.

Pandemi Covid-19 menyebabkan beberapa bioskop terpaksa tutup. Hal ini menjadi kesempatan untuk platform video on demand melebarkan sayap pada negara seperti Indonesia.

Babak Belurnya Perfilman Saat Pandemi Covid-19

Layanan Video Disney+ Hotstar
Babak Belurnya Perfilman Saat Pandemi Covid-19

Dunia perfilman seolah mati suri saat pandemi Covid-19 menyerang dunia. Tidak boleh adanya kerumunan memaksa bioskop harus menutup bisnisnya sementara waktu. Hal tersebut memaksa bioskop untuk mengurangi jumlah karyawan agar dapat tetap bertahan.

Hal yang senada juga datang dari perusahaan bioskop yang terkenal pada Indonesia, CGV. Pihaknya mengungkapkan bahwa kerugian akibat pandemi Covid-19 membuat pendapatannya menurun hingga 75 persen.

Jumlah karyawan yang putus kerja dengan CGV bahkan melebihi setengah dari jumlah keseluruhan karyawan yang ada. Mereka tidak dikategorikan sebagai karyawan PHK, melainkan masuk kategori pengunduran diri. Hal tersebut bertujuan menjaga nama baik dari CGV.

Selain CGV, perusahaan lainnya yang terdampak pandemi Covid-19 adalah Cinema XXI. Meski tidak sampai terjadi PHK terhadap karyawannya, keuangan perusahaan memaksanya untuk melakukan penghematan. Setiap uang yang tersisa mereka gunakan untuk membayar karyawan dengan konsekuensi pemotongan pembayaran remunerasi jajaran komisaris.

Tidak hanya dari sektor bioskop, industri film juga menjadi korban yang tak kalah babak belur saat masa pandemi. Salah satu sutradara film kenamaan tanah air, Joko Anwar mengungkapkan betapa bioskop memiliki andil dalam memberi pemasukan kepada rumah produksi.

Menurutnya, bioskop memberikan andil yang sangat besar dengan menyumbang pendapatan 80-90 persen dari keseluruhan. Ia mengamini bahwa mati surinya bioskop sangat berdampak pada industri perfilman.

Ia menambahkan bahwa terdapat 140 judul film yang batal mereka kerjakan karena situasi pandemi.  Joko Anwar juga mulai berhenti untuk memproduksi film sejak februari. Hal tersebut sangat membuat down, mengingat industri film lokal mulai berjaya pada film 2019 dengan penjualan tiket mencapai 50 juta. Pada tahun-tahun sebelumnya, film-film lokal hanya mampu menjual tiket hingga 38 juta saja.

Platform Digital Belum Mampu Gantikan Bioskop

Platform Digital Belum Mampu Gantikan Bioskop
Platform Digital Belum Mampu Gantikan Bioskop

Meski Disney+ Hotstar memiliki 2,5 juta pengguna pembayar, faktanya platform tersebut masih belum mampu menggantikan bioskop. Joko Anwar mengatakan bahwa pendapatan film dari platform digital masih terlalu kecil untuk menutupi biaya produksi film.

Sebuah produksi film memiliki beberapa rentang biaya produksi yang berbeda mulai dari low budget, medium budget, hingga big budget. Sebuah produksi low budget menghabiskan biaya antara 3 – 4 miliar rupiah, Medium budget menghabiskan 6 – 8 miliar, dan big budget menghabiskan 8 hingga 10 miliar.

Meski kanal digital seperti Disney+ Hotstar memiliki pengguna yang banyak, faktanya pihak produksi mengatakan hal lain. Penghasilan sebuah film dari streaming video on demand masih belum mampu menutupi biaya produksi. Joko Anwar mengungkapkan bahwa platform hanya memberikan pendapatan sekitar 3 miliar. Meski demikian terdapat pula platform yang memberikan hanya 100 juta kebawah.

Wajah Baru Perfilman Era Digital di Masa Pandemi Covid-19

Perfilman Era Digital
Wajah Baru Perfilman Era Digital di Masa Pandemi Covid-19

Selain babak belurnya industri perfilman lokal, perfilman global juga tak kalah kacaunya. Salah satunya film Jurassic World yang melakukan proses syuting kala pandemi Covid-19. Biaya yang biasanya hanya mencapai 200 juta USD harus membengkak hingga 209 juta USD. Penambahan tersebut untuk membiayai berbagai macam protokol kesehatan amat ketat yang harus mereka lakukan saat syuting.

Meski layanan video on demand memberikan pendapat yang sedikit pada perfilman tanah air. Tampaknya tidak terjadi dengan perfilman global. Universal Pictures yang merilis film The Trolls World Tour pada 10 April 2020 kala pandemi sedang menyerang. Meski perilisan saat pandemi pada kanal online, The Trolls World Tour berhasil meraup 100 juta USD pada tinga minggu perilisannya.

Beberapa film lain juga memilih merilis film yang mereka produksi pada kanal online. Salah satunya adalah The Lovebirds yang yang merilis filmnya pada platform Netflix.

Beberapa Industri film dunia melihat peluang besar pada kanal online. Statistik dunia menunjukkan peningkatan yang signifikan pada jumlah pengguna layanan film online. Pada 2019, jumlah pengguna layanan film online mencapai angka 70,6 juta.

Penutupan bioskop menjadi alasan banyak orang beralih menonton film secara online. Karena hal tersebut, jumlah pengguna masih akan terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini juga menjadi alasan pengguna berbayar Indonesia pada platform Disney+ Hotstar melonjak drastis untuk anak-anak menonton kartun, atau orang dewasa menonton film lainnya.

Copyright © 2021 LO inc. Media Supported By MASEL Corp

To Top