Tech & Auto

Pasar Mobil Second Jatuh, Bisnis Leasing Juga Menjerit

Pasar Mobil Second Jatuh, Bisnis Leasing Juga Menjerit

Jelang Lebaran ini harga mobil bekas atau second jadi sorotan lantaran biasanya melambung karena tingginya permintaan untuk mudik. Namun Lebaran tahun ini tampaknya berbeda karena adanya pandemi virus corona dan pemerintah melarang adanya mudik guna mencegah pandemi.

Bisnis mobil bekas menjadi salah satu sektor yang paling terdampak dari masa pandemi virus corona. Penjualan benar-benar anjlok dalam 2-3 bulan terakhir dan harga mobil bekas pun terjun bebas.

“Penurunan lumayan jauh, kita rata-rata minimal jual 30-40 unit per bulan. Sekarang turun jadi cuma tersisa 5% sekitar hanya 1-2 mobil per bulan. Terasa di pertengahan Maret mulai drop,” ujar pemilik showroom, Senin pekan ini (18/5).

Penurunan penjualan tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat akibat tidak menentunya kondisi pandemi. Juga prioritas yang saat ini lebih mengutamakan kebutuhan pokok.

“Yang nanya-nanya dari kemarin selalu ada, tapi kadang-kadang uangnya ngga cukup. Jadi pasar sebenarnya masih ada pembelinya,” sebut Fahmi.

Akibat permintaan yang terus turun, sejumlah mobil harus mengalami penurunan harga yang cukup tajam. Hal itu dilakukan demi tetap menarik minat masyarakat untuk tetap berbelanja.

“Turunnya bisa 30 jutaan, misal Kijang Innova 2015, showroom biasa jual normal Rp 185 juta, sekarang paling showroom menjual di Rp 155 juta. Kemudian Mobilio 2014 lumayan juga, biasa jual Rp 120-125 juta, sekarang paling Rp 95 juta, di bawah Rp 100 juta udah punya Mobilio,” paparnya.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno juga menjelaskan dampak corona bagi bisnis pembiayaan (multifinance) atau leasing.

Pandemi corona tak hanya menghajar pabrik otomotif, multifinance juga kelimpungan akibat penjualan lesu selama beberapa bulan terakhir. Lesunya penjualan semakin menjadi-jadi karena syarat untuk kredit mobil dan motor kini semakin ribet. Akibatnya, penjualan mobil anjlok habis di bulan lalu.

“Jadi ya penyebabnya beberapa perusahaan pembiayaan menyetop landing. Yang namanya memberi pinjaman diberi syarat dan diperketat karena takut berisiko macet bayarnya,” ujar Suwandi Wiratno kepada CNBC Indonesia, Sabtu (16/5/2020).

Suwandi mengatakan bahwa penjualan mobil kredit bulan lalu hanya 24.000 unit yang umumnya sekitar 80.000 unit. Hal tersebut membuat beberapa perusahaan pembiayaan menghentikan landing.


Dia menyebut uang muka kredit kini dinaikkan menjadi 30% bukan lagi 15 – 20 persen. Sebab para nasabah dengan uang muka kecil dikhawatirkan memiliki masalah pada pekerjaannya dan tak mampu bayar cicilan.

“Sekarang uang muka 30 persen kalau dulu 15-20 persen. Kenapa tinggi, ini diharapkan orang yang serius membeli mobil dan punya modal di depan cukup besar kalau DP kecil dikhawatirkan nasabah masih bekerja tahu-tahu kena masalah dan dirumahkan,” papar dia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini

To Top